HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Sembilan puluh Empat. HTG.


__ADS_3

Imelda sedang membersihkan rumah saat David dan Luna datang. Imelda melihat David yang terus tersenyum sambil merangkul Luna masuk.


"Kamu tampaknya sedang bahagia banget," ucap Imelda saat David menginjakkan kakinya di lantai rumah.


"Kak Imelda tau, aja," ucap David.


"Apa yang membuat kamu bahagia banget?" tanya Imelda.


"Kepo banget," ucap David. Luna tertawa mendengar David mengatakan itu dengan kakaknya.


"Aisha mana, Kak?" tanya Luna.


"Sudah tidur dengan ibu."


"Sayang, kamu duduk di sini. Biar aku ambilkan piring dulu."


David ke dapur mengambilkan piring dan segelas minum. Di jalan tadi Luna meminta nasi goreng pinggir jalan yang warungnya cukup ramai antrean pembelinya.


"Kenapa beli nasi goreng, Kak Imelda tadi udah masak. Kalau mau makan, bisa di hangatkan lagi."


"Luna ngidamnya nasi goreng, Kak," ucap David. Dia duduk di samping Luna.


"Emang kamu saat ini hamil, Luna?" tanya Kak Imelda.

__ADS_1


"Ya, Kak. Kata bidan baru enam minggu."


"Mantap benar benih David. Dua bulan nikah udah tertanam benih berusia enam minggu."


Saat ini Imelda telah tahu semuanya. Pertemuan pertama David dan Luna. Awalnya Imelda sangat kecewa. Namun di sisi lain dia bersyukur David bertemu Luna.


Walau perbuatan David sama-sama berdosa seperti gigolo, paling tidak David hanya melakukan dengan satu orang saja. Jika menjadi gigolo, dia pasti akan melakukan dengan puluhan wanita dan berisiko terkena penyakit kelamin.


"Sebaiknya cepat daftarkan pernikahan kalian, biar resmi dan status anak kamu jelas, Luna. Yang rugi dalam pernikahan siri itu pihak wanita, karena kita nggak bisa menuntut apa-apa jika nanti pisah. Kalau pria sih, enak. Dia nggak akan perlu bertanggung jawab saat memutuskan pisah," ucap Imelda.


"Kembali dari sini aku minta pengacara mengurus semuanya," ucap Luna.


"Jadi adakan pestanya di sini. Atau di Jakarta aja?" tanya Imelda.


"Nggak ada pesta, Kak. Cuma ngundang orang buat makan-makan aja sebagai rasa syukur. Besok aku dan David akan carikan tukang buat renovasi rumah ini dulu. Setelah dua atau tiga bulan baru adakan syukuran sekalian syukuran empat bulan kehamilanku," ucap Luna.


"Renovasi rumah ini?" tanya Imelda.


"Aku ingin menambah kamar buat aku dan David. Satu kamar lagi buat Aisha. Saat nanti ke sini udah nggak perlu tidur dengan neneknya lagi. Bisa juga untuk ditempati Arya. Kasihan dia harus tidur di luar kalau kami datang," jawab Luna.


Arya anak Imelda biasanya menempati kamar David. Sejak kedatangan David dan Luna, dia harus tidur di ruang keluarga.


"Luna juga mau Kak Imelda nggak kembali ke Malaysia. Di sini aja menemani ibu. Luna akan memberi modal untuk Kak Imelda menjual barang-barang kebutuhan pokok," ujar David.

__ADS_1


"Nggak perlu, Luna. Aku dan suamiku masih bisa bekerja di negeri seberang itu."


"Kak, Ibu sudah makin tua. Siapa yang akan menjaga ibu. Aku dan David nggak mungkin, usahaku ada di Jakarta. Ibu juga nggak mau diajak menetap di Jakarta. Jalan satu-satunya adalah Kak Imelda yang harus menetap bersama ibu." Luna menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.


"Tanah di samping rumah ini masih besar. Nanti dibuat untuk menjual bahan pokok, dan ditambah satu kamar lagi buat Arya. Atau bisa untuk Kak Imelda dan suami," ucap Luna lagi.


"Itu akan membutuhkan biaya besar. Pasti orang kampung akan mengatakan kami memoroti kamu. David aja udah banyak diomongi, meninggalkan Mia karena ingin harta kamu," ucap Imelda.


"Kak Imelda benar, Sayang. Akan membutuhkan biaya besar jika kamu juga membuat warung dan kamar buat Kak Imelda," ucap David sambil menyuapi Luna makan nasi goreng.


"David, semua hartaku juga milikmu. Saat ini kamu adalah suamiku. Papjnya Aisha. Rumah ini milik nenek Aisha Nggak ada salahnya aku merenovasi. Katanya nggak usah mikirin omongan orang. Ini juga untuk kebaikan ibu. Kak Imelda bisa menjaga Ibu. Jadi kamu nggak perlu kuatir meninggalkan Ibu lagi."


David memeluk Luna dan mengecup pipi istrinya itu. David merasa sangat bersyukur memiliki Luna. Walau ibu telah menyakti hatinya, Luna masih saja memikirkan semua yang terbaik buat Ibunya.


*


*


*


Bersambung


Jangan lupa mampir ke novel terbaru mama ya. Ditunggu like, koment dan terutama tekan Love. 😘😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2