
David merubah duduknya menghadap Ibunya Mia. Dia tersenyum.
"Kalau hanya bawa kado ini, aku rasa nggak akan merepotkan bagi Luna, Bu,"ucap David. Luna langsung mencubit paha David mendengar ucapan suaminya itu.
Mendengar ucapan David, ibu Mia tampak cemberut. Tanpa menjawab satu patahpun ucapan David, dia memilih duduk di samping Mia.
"Mia, Ibu ... aku datang sekalian mengundang, untuk acara syukuran pernikahan kami dan empat bulanan kandunganku," ucap Luna.
"Emang selama ini kalian belum mengadakan syukuran pernikahan atau emang sebenarnya baru nikah."
David kembali ingin menjawab, namun Luna melarang dengan menggelengkan kepalanya.
"Baru atau udah lama pernikahan kami, aku rasa itu urusan pribadi kami. Nggak perlu ibu tau. Lagi pula syukuran itu bukan berarti kami baru menikah. Syukuran itu bisa kapanpun ingin kami laksanakan."
"Ibu hanya bertanya, apa salah?"
"Nggak ada yang salah,Bu. Aku juga cuma memberikan penjelasan." Luna tersenyum dengan Ibu Mia. Dia menarik napasnya untuk mengatur emosi.
"Maaf, Mia. Aku nggak bisa lama, takut anakku nangis. Aku dan David pamit dulu. Semoga ibu dan bayi selalu sehat."
Luna berdiri dari duduknya dibantu David. Dia menyalami ibu dan Mia.
"Mas Doni-nya mana, Mia?" tanya Luna karena tidak melihat keberadaan Doni.
__ADS_1
"Mungkin di dapur. Masak buat makan siang. Biar aku panggilkan," ucap Mia.
"Nggak usah, kamu sampaikan aja salam dari kami," ucap Luna.
Luna keluar dari rumah diikuti David. Baru saja David duduk dibelakang setir, lengannya di cubit Luna.
"Aduh, sakit Sayang. Kenapa aku di cubit, sih?
"Habis mulut kamu lemas banget tadi ngomong sama Ibu Mia."
"Aku udah menahannya tadi, Sayang. Kalau aja nggak ingat orang tua pasti mulutku lebih pedes. Aku udah katakan, siapapun boleh menghinaku, menggangguku tapi jangan pernah menyentuh anak dan istriku."
David menghidupkan mesin mobil, menjalankan dengan pelan meninggalkan halaman rumah Mia.
"Sakit hati? Pastilah aku ada rasa sakit hati. Namun, aku nggak akan terpancing. Ibu Mia sengaja memancing kemarahan kita. Dia ingin kita melawannya dan membuka aib kita?"
David mengacak rambut istrinya itu lembut. Dia salut dengan kesabaran istrinya.
Sementara itu di rumah kediaman ibu Mia. Wanita itu langsung membuka semua kado yang Luna berikan.
Saat Doni datang, dia kaget Luna dan David sudah tidak ada. Ternyata Doni tadi ke warung buat belanja.
"Mbak Luna dan David sudah pulang, Mia. Aku nggak melihat mobilnya lagi."
__ADS_1
"Udah, Mas. Mereka titip salam untukmu."
"Padahal aku mau mengajak mereka makan siang di sini."
"Sadar, Doni. Mana mau mereka makan siang di sini. Emang kamu mau masak apa untuk mereka?" tanya ibu Mia.
"Aku rasa Mbak Luna dan David nggak begitu. Pasti mereka mau makan apa aja yang aku masak."
"Apa kamu lupa siapa David sekarang. Jika dulu mungkin dia mau makan apa adanya. Sekarang pasti dia memilih. Menghina Ibu aja dia berani tadi. Ini semua karena kamu."
"Salahku apa, Bu?" tanya Doni.
"Salahmu terlalu banyak. Kalau ibu sebut satu persatu kamu akan tersinggung. Marah ... Mia nanti jadi sasaranmu."
"Udah, Bu. Mas Doni telah berusaha menjadi suami dan ayah terbaik. Jadi aku harap ibu bisa menerima Mas Doni apa adanya," ucap Mia.
Doni tersenyum mendengar perkataan Mia. Baru kali ini ia mendengar Mia membelanya dan membantah kata Ibunya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung