HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Delapan puluh Enam. HTG.


__ADS_3

David, Luna, Imelda dan Ibu sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton televisi.


Aisha telah tidur di kamar ibu. Begitu juga suami Imelda dan putranya Arya.


"David, Luna, ada yang ingin ibu katakan," ucap Ibu membuka obrolan.


"Ngomong aja, Bu. Aku dan Luna akan mendengar," ucap David.


"Kalian berdua pasti udah mendengar dan melihat keadaan Mia saat ini."


"Terus ... kenapa?" tanya David. Luna hanya diam.


"Luna, ibu dengar kamu memiliki satu perusahaan," ucap Ibu lagi.


"Benar,Bu," ujar Luna.


"Hubungan Luna memiliki perusahaan dengan Mia apa? Tadi ibu bicara mengenai Mia?" tanya David.


"Dengar dulu ibu ngomong!"


"David, ibu benar. Jangan menyela. Kita dengar dulu ibu bicara," ucap Luna.

__ADS_1


"Mia berencana menggugat cerai suaminya. Setelah nanti melahirkan, Mia ingin bekerja. Apakah bisa Mia bekerja di perusahaan Luna nantinya?" tanya ibu.


"Kenapa harus diperusahaan Luna? Mia bisa melamar ke perusahaan lain'kan?" tanya David.


"Kalau di perusahaan Luna, sudah pasti diterima. Lagi pula dia bisa tinggal di dekat rumah kalian. Bisa saling menjaga."


"Mia bukan anak kecil. Kenapa mesti di jaga? Lagi pula keterampilan Mia belum tentu sesuai dengan perusahaan Luna. Aku aja nggak mau bekerja di perusahaan Luna, karena sadar dengan kemampuanku."


"Itu menurut kamu, menurut Luna bagaimana? Perusahaan itu miliknya. Dia yang bisa menentukan."


"Apa Ibu lupa, jika aku suami Luna. Jika aku nggak setuju, berarti Luna juga akan ikut pendapatku."


"Bagaimana Luna? Apa Mia boleh bekerja diperusahaan kamu?" tanya ibu lagi.


"Kamu masih ada usaha lain'kan?"


"Udahlah, Bu. Mia bisa mencari pekerjaan lain. Kenapa harus diperusahaan Luna?" tanya David lagi.


"Lagi pula sejak wisuda, bukankah Mia bekerja sebagai guru di sini. Kenapa nggak kembali ke pekerjaan lamanya?" tanya David lagi.


"Ibu Mia ingin anaknya pergi jauh dari desa ini agar nggak bertemu Doni lagi. Apa kamu nggak kasihan melihat nasibnya? Apa kamu udah lupa jika ibu Mia pernah menolong ibu. Ini saatnya kamu membalasnya."

__ADS_1


"Membalas budi pada ibu Mia, bukan berarti aku harus menolong Mia. Lagi pula Mia itu sudah dewasa. Dia bisa bertanggung jawab atas dirinya. Kenapa harus di dekat aku!" ucap David mulai terbawa emosi.


"David benar, Bu. Mia nggak harus bekerja diperusahaan Luna. Apa kata orang jika melihat mantan tunangan masih dekat dengannya. Ibu juga harus ingat, saat ini David sudah menikah dengan Luna. Pasti Luna nggak akan nyaman jika berada satu perusahaan dan harus berdekatan setiap hari dengan mantan tunangan suaminya," ucap Imelda kakaknya David.


Luna hanya diam, dia tidak ingin salah bicara. Hubungannya dengan ibu David baru mulai membaik. Dia tidak ingin memburuk lagi.


"Jadi kamu dan Luna nggak bisa menolong Mia?" tanya ibu masih kekeh.


"Aku nggak akan menolong Mia. Jika ibu Mia mengharapkan balasan atas bantuannya pada ibu, bisa ibu tanyakan pada ibu Mia. Berapa nominal yang dia inginkan sebagai balasannya? Jika aku sanggup akan aku berikan. Jika uangku belum cukup, aku akan membayar dulu dengan uang tabunganku. Uang gajiku selama dua tahun bekerja di kafe Luna masih ada ditabungan," ucap David sedikit emosi.


Luna berdiri dari duduknya. Dia sudah tidak tahan mendengar obrolan antara David dan ibunya.


"Maaf, Bu. Aku nggak bisa membantu Mia. Aku juga wanita biasa. Aku punya perasaan cemburu. Jika ibunya Mia menginginkan balasan atas ginjal yang ia berikan buat ibu, aku akan membayarnya seharga ginjal dipasaran. Ibu bisa katakan pada ibu Mia, berapa yang dia inginkan. Aku akan memberikan sekarang juga."


Setelah mengucapkan itu, Luna meninggalkan ibu dan Imelda. David mengikuti langkah Luna masuk ke kamar.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2