HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Enam Puluh. HTG


__ADS_3

Ketika akan menyeberang, David menghentikan langkahnya. Ia menunggu Luna dan memeluk lengannya.


"Mi, Om ...," ucap Aisha.


"Bukan Oom, Pa ... pi," ujar Luna.


Saat Luna mengejakan papi pada Aisha, David langsung memandangi mata Luna tajam, membuat wanita itu menunduk.


David merangkal bahu Luna menuju kafe yang berada di seberang perusahaan. David bahagia Luna mengatakan kebenaran tentang dirinya pada Aisha.


David memilih ruangan VIP untuk mereka makan siang. Pria itu langsung memesan makanan kesukaan Luna tanpa bertanya terlebih dahulu.


Aisha, didudukan di kursi yang berada di sebelah tempat ia duduk. Gadis cilik itu terus tersenyum, sepertinya sangat bahagia sekali.



"Aisha, ini Papi. Mulai hari ini Papi nggak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita. Walau pun itu mami."


David mengecup pipi gadis itu. Aisha tampak tertawa karena kegelian. David mengecupnya sekali lagi, agar Aisha tetap tersenyum.


Setelah puas memdengar tawa Aisha, pandangan David beralih ke Luna. Merasa David memandanginya Luna menundukan kepalanya.

__ADS_1


"Di mana selama ini kamu tinggal? Kenapa nggak pernah mengatakan di mana keberadaan kamu dan Aisha?"


"Aku menetap di Bali," ucap Luna dengan masih menundukkan kepalanya.


"Kenapa nggak pernah mengabariku, Luna." David kembali memandangi Luna dengan intens.


"Apakah kamu tau, saat kamu pergi dariku dunia ini seolah akan runtuh. Kamu tega, Luna. Padahal aku baru aja bahagia karena mengetahui di rahimmu tumbuh benih cintaku." David mengusap wajahnya. Teringat saat Luna baru meninggalkan dirinya.


"Aku terpaksa," gumam Luna. Namun suaranya masih dapat di dengar David.


"Terpaksa karena apa? Siapa yang memaksa kamu?" tanya David. Luna hanya diam tanpa berani memberikan jawaban.


"Apakah ibu yang memaksa kamu meninggalkan aku?" tanya David lagi.


David menggendong Aisha dan mendekati Luna yang duduk dihadapannya.


Mi, bobok," ucap Aisha. Luna mengambil Aisha dari gendongan David dan memeluknya erat. Luna memberikan Aisha botol susunya. Aisha tampak udah sangat mengantuk.


David duduk di samping Luna dan memperhatikan setiap gerakan Luna ketika menidurkan Aisha.


"Apakah kamu nggak memikirkan aku saat memutuskan pergi?" tanya David lagi.

__ADS_1


"Justru karena aku memikirkan kamu, makanya memutuskan pergi." Luna menarik napasnya setelah mengucapkan kata itu.


"Buat apa aku bertahan, jika kehadiranku terutama bayiku tidak diterima ibumu. Jika aku tetap memilih bersamamu, pasti hubungan kamu dan ibu yang jadi tidak baik. Satu-satunya jalan aku yang mengalah pergi."


"Maafkan ibuku. Pasti semua karena ia kaget menerima kabar dariku." David memeluk Luna dan Aisha yang berada dalam dekapan dada Luna.


"Akan aku buat ibu bisa menerima kamu dan Aisha. Aku mohon, jangan pergi lagi. Tetaplah dampingi aku. Seharusnya kamu berjuang bersamaku, bukan meninggalkan aku yang harus berjuang seorang diri."


"Restu orang tua dalam menjalin hubungan dengan pasangan adalah hal terpenting yang perlu diperhatikan. Sebab hubungan tanpa restu orang tua diyakini tidak akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, serta ketentraman. Itulah makanya aku memutuskan pergi. Dari pada aku harus merusak hubungan ibu dan anak."


"Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan, tetapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena satu bahkan ribuan alasan," ucap David lirih.


"Kamu akan menemukan arti bahagia setelah memperjuangkan restu yang menghambat hubunganmu. Percayalah itu, Luna," ucap David.


"Sekali lagi aku memohon padamu, berjanjilah untuk tetap di sini bersamaku. Jangan pernah lagi pergi dariku."


Sebuah restu menjadi penentu hubungan setiap insan. Ketika restu terasa berat, bukan berarti cintamu akan berakhir begitu saja. Memperjuangkan restu menjadi pembuktian keseriusan hubunganmu


*


*

__ADS_1


*


Bersambung.


__ADS_2