HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus Sebelas.


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


David dan Luna sedang mempersiapkan semua kebutuhan untuk mereka ke kampung. Kali ini mungkin mereka akan lebih lama di kampung David.


Kafe akan diawasi Candra. Sahabat Luna itu telah kembali ke Jakarta. Luna berencana akan memberikan kepercayaan lagi pada pria itu untuk mengelola kafe kembali. David akan belajar memimpin perusahaan.


Luna ingin menjadi ibu rumah tangga saja. Dia akan di rumah mengurus anak-anak dan suami. Urusan pekerjaan diserahkan pada David.


Satu bulan belakangan ini David sudah mulai mempelajari tentang perusahaan. David tidak mau Luna kelelahan, jika harus bekerja di saat hamil.


Selama berada di kampung nanti, Luna akan bekerja melalui layar laptop saja dan sekaligus mengajari David bagaimana caranya memimpin perusahaan.


"Sayang, jadi ajak bibi ke kampung?" tanya David.


Luna kemarin berencana akan membawa bibi untuk membantu menjaga Aisha. Di kampung nanti pasti semua sibuk dengan persiapan syukuran empat bulanan kehamilannya, sekaligus acara syukuran pernikahan mereka yang telah resmi di akui negara.


"Jadi dong.Biar nanti aku nggak kuatir, jika Aisha ada yang menjaganya."


"kamu udah katakan dengan Bibi. Biar dia juga bisa persiapkan barang kebutuhannya selama di kampung."


"Kemarin sudah aku sampaikan. Pi, beli apa lagi buat di kampung, ya?"

__ADS_1


"Udah itu aja. Itu sudah lebih dari cukup. Jika nanti ada yang perlu lagi, kita bisa beli ke pasar bersama," ujar David.


Kali ini Luna dan David akan kembali ke kampung dengan semangat. Ibunya telah merestui. Hampir setiap malam menghubungi mereka hanya untuk mengobrol dengan Aisha.


...----------------...


Luna dan David membawa dua mobil dengan dua supir. Awalnya David ingin menyetir sendiri mobil yang satu, tapi Luna tidak mengizinkan. Dia tidak ingin suaminya capek.


Rumah kediaman orang tua David saat ini telah selesai direnovasi. Luna juga telah memesan perabotnya dari Jakarta.


Mobil yang akan pulang ke kampung ada empat. Dua mobil pribadi Luna dan dua mobil truk yang membawa perabot untuk rumah ibunya David.


Sampai di kampung David, jam telah menunjukan pukul empat sore. Saat melihat ada empat mobil beriringan masuk ke kampung dan berhenti di depan rumah David, para tetangga berkumpul ingin tahu siapa yang datang.



"Aisha, Sayangnya ibu. Makin cakep aja," ucap Imelda.


"Icha, tantik," ucap Aisha.


"Iya, Sayang. Aisha cantik banget."

__ADS_1


David dan Luna menyalami Kak Imelda, dan bertanya keberadaan ibu.


"Mana ibu, Kak?" tanya Luna.


"Di dapur. Dari tadi sibuk masak makanan kesukaan kamu dan David. Kak Imelda mau bantu nggak dibolehkan. Ibu pengin tangannya sendiri yang memasak."


"Ibu ada-ada aja. Nanti capek harus masak. Pantas kemarin malam tanya, aku suka lauk apa. David sukanya apa. Nggak taunya pengin masakin buat kami."


"Kata ibu, kalau nggak di masak nanti anak kamu ileran."


"Sayang, kamu masuklah. Aku mau bantu angkat perabot ini dulu. Kamar buat aku dan Luna udah bersih,Kak. Aku udah beli tempat tidurnya ini."


"Udah, tinggal masukan perabot. Kakak kosongkan biar kamu bisa menata sendiri. Apa ada yang bisa Kakak bantu?"


"Oke kalau gitu. Kak Imel masuk aja dengan Luna. Biar aku yang atur semuanya."


Imelda mengajak Luna masuk ke rumah. Mereka langsung menuju dapur, di mana ibu sedang memasak.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2