HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Lima Puluh Lima. HTG


__ADS_3

David berjalan perlahan meninggalkan kamarnya. Saat kakinya baru menyentuh tangga di pintu utama, terdengar suara ibu memanggil.


"David ...." panggil ibu.


David menghentikan langkah dan berbalik menghadap ibunya. Ia tersenyum semringah. Ibu berjalan mendekati putranya satu-satunya itu.


"Kamu marah dengan ibu, Nak?" tanya Ibu dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Kenapa aku harus marah dengan Ibu?" tanya David balik.


"Ibu hanya mengharapkan yang terbaik buatmu."


"Luna terbaik buatku. Akan aku buktikan pada Ibu jika aku nggak salah memilih wanita. Setelah ibu mengenal dekat Luna, mungkin penilaian ibu akan langsung berubah."


"Semoga pilihanmu memang tepat."


"Terima kasih doanya, Bu."


David menghapus air mata ibunya, dan mengecup pipinya. Setelah itu David mencium tangan ibu.


"Aku pamit. Semoga ibu sehat terus. Jangan lupa minum obat rutin yang diberikan dokter."


David mengambil dompet dan mengeluarkan uang yang ada di dompetnya.


"Ini ada uang sedikit. Aku akan me-transfer ke rekening ibu. Bisa ibu ambil di bank besok bersama Arya."


Ibu David menggunakan buku tabungan tanpa ATM, setiap uang yang masuk akan diambil langsung ke kantor bank tersebut.

__ADS_1


David melangkah kembali, meninggalkan rumah kediaman orang tuanya. Ibu memandangi kepergian putranya hingga hilang dari pandangan.


David memasuki sebuah warung, di dekat terminal. Ia janjikan akan bertemu dengan Mia.


Setengah jam menunggu, akhirnya tampak Mia memasuki warung dengan tergesa. Mia yang melihat David langsung menuju ke tempatnya duduk.


"Maaf, Dav. Aku telat. Tadi habis mencuci pakaian dulu."


"Nggak apa. Silakan duduk!"


Mia duduk di seberang David. Pria itu memesan segelas jus dan sepiring mie goreng buat Mia.


David masih ingat jika Mia sangat menyukai mie goreng di warung ini. Setiap akan berangkat, ia akan menyempatkan waktu makan di warung ini.


Setelah memesan makanannya, David mulai. percakapan. Dengan bertanya kabar Mia.


"Seperti yang kamu lihat. Lagi pula kita baru ketemu kemarin. Pasti kamu masih ingat keadaanku."


"Aku mau minta maaf. Aku tau kesalahanku sangatlah besar. Mungkin akan sulit bagimu memaafkan aku."


"Aku nggak tau, Dav. Jika ditanya apakah aku sakit hati padamu? Jawabannya tentu saja, ya. Aku nggak mungkin berbohong dan pura-pura jika semua tidak apa-apa sedangkan hatiku terluka."


"Sekali lagi aku minta maaf. Aku tau, kata maaf dariku mungkin nggak akan pernah cukup untuk mengobati luka hatimu."


David menarik napasnya, untuk menjeda ucapannya. Ia memandangi Mia dengan intens membuat gadis itu salah tingkah.


"Mia, aku nggak bisa menikahimu. Dengan alasan apapun. Apa lagi saat ini di rahim Luna sedang tumbuh benih dariku," ucap David. Ia sengaja kembali menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Ibuku merasa sangat berutang budi dengan ibumu. Ia kembali meminta aku untuk memikirkan pernikahan kita. Namun, aku tegaskan sekali lagi aku nggak bisa."


"Aku nggak meminta ibumu untuk menikahkan kita."


"Aku tau, ini bukan keinginan kamu. Namun, keinginan ibuku. Untuk itu aku harus mengatakan padamu. Aku nggak bisa. Aku akan selalu ingat pertolongan ibuku. Aku akan membalasnya dengan caraku sendiri."


"Nggak perlu kamu pikirkan itu. Aku juga baru tau, jika ibu yang membantu ibumu."


"Jika kamu membutuhkan bantuanku, hubungi saja. Aku akan siap membantu semampuku. Jangan sungkan. Aku menyayangi kamu seperti saudaraku."


"Kamu jangan terbebani dengan balas budi."


"Terima kasih karena telah menemani aku selama ini. Kamu teman terbaikku. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Aku mohon maaf sekali lagi. Semoga kamu mendapatkan pria yang jauh lebih baik dariku dan mencintai kamu."


David berdiri dari duduknya dan mendekati Mia. Diacaknya rambut gadis itu.


"Aku pamit berangkat duluan ke Jakarta. Kita pasti akan bertemu lagi di kampus. Habiskan makanannya."


David melangkah meninggalkan Mia. David berjalan menuju terminal. Tangis Mia pecah saat David mulai menjauh.


,*


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2