HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Lima puluh Tiga. HTG


__ADS_3

Ibu mengetuk pintu kamar David. Sudah hampir jam sebelas siang belum juga bangun. Beberapa kali di ketuk tidak ada sahutan, ibu mencoba membukanya.


Tampak David yang tertidur dengan jaket milik Luna. David sengaja membawa dari kafe, jaket itu ketinggalan di sana.


Ibu menarik jaket itu dan membangunkan David dengan mengguncang lengannya. David perlahan membuka matanya.


"Kenapa jam segini kamu masih tidur?" tanya Ibu.


"Aku nggak bisa tidur malamnya, baru subuh mata ini bisa dipejamkan," jawab David.


"Apa yang kamu pikirkan? Kenapa nggak bisa tidur?"


David bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Ia memandangi Ibu dengan intens.


"Ibu, kenapa masih bertanya apa yang aku pikirkan. Tentu aja aku memikirkan Luna dan calon bayiku."


"Belum tentu Luna memikirkan kamu."


Kembali David memandangi wajah ibu, ia tersenyum miring menanggapi ucapan ibunya.


"Kenapa ibu nggak menyukai Luna?"


"Kenapa kamu tanyakan itu? Kamu pasti tau jawabannya."

__ADS_1


"Aku dan Luna memang bersalah, karena melakukan hubungan terlarang dan dosa. Namun, seharusnya ibu nggak menghakimi Luna seperti ini. Kesalahanku nggak kalah besar dari Luna."


"David, ibu juga tidak membenarkan apa yang kamu lakukan. Kamu juga salah. Lebih baik kamu dan Luna memperbaiki diri atas kesalahan yang kalian lakukan."


Ibu menarik napasnya. Ia tidak ingin salah dalam mengucapkan kata. David akan bertambah marah jika ia salah mengatakan sesuatu tentang Luna.


"Mungkin saat ini kamu kesal dan marah dengan Ibu. Itu wajar, karena kamu pasti beranggapan gara-gara ibu Luna pergi."


David menganggukkan kepalanya tanda setuju atas ucapan Ibu. Memang di dalam hatinya, David menyalahkan Ibu.


Jika saja ibunya tidak mengatakan sesuatu yang membuat Luna marah, pasti saat ini ia dan Luna sedang menikmati hari bahagia sambil menunggu kelahiran anak mereka.


"Luna telah memutuskan pergi dari kehidupanmu, dan saatnya kamu mulai menata hidupmu sendiri."


"Ibu hanya ingin kamu membuka lembaran baru. Lupakan Luna. Mengenai anak dalam kandungan Luna, jika memang anak kandungmu pasti suatu saat ia akan mencarimu juga."


"Apa yang Ibu inginkan? tanya David sekali lagi.


"Ibu ingin kamu tetap menikah dengan Mia. Kamu pasti tau, jika di desa kita ini sangatlah tabu membatalkan pertunangan. Kasihan Mia. Ia nggak salah apa-apa."


"Aku nggak mencintai Mia!"


"Meskipun pada awalnya kamu dan Mia, nggak ada rasa yang mengacu pada hal-hal romantis, namun seiring berjalannya waktu akan tumbuh perasaan cinta akibat hal-hal yang dibiasakan. Witing tresno jalaran soko kulino artinya kurang lebih adalah "cinta hadir karena terbiasa."

__ADS_1


David menarik napasnya dalam. Ia tidak mau emosi, takut menyakiti hati ibunya. David menatap ibunya dalam.


"Kurang lama apa aku mengenal Mia, Bu?"


"Bukankah selama ini kamu bisa menjalaninya, namun kehadiran Luna membuat kamu menjadi bimbang."


"Kenapa ibu begitu ngotot ingin menikahkan aku dengan Mia."


Ibu terdiam, ia mengambil tangan David dan menggenggamnya. Pandangan ibu menerang entah kemana.


"Ibu banyak berhutang budi dengan ibunya Mia." Ibu kembali diam tanpa suara.


"Kamu pasti ingat saat ibu operasi pengangkatan ginjal. Ternyata kedua ginjal ibu rusak dan membutuhkan pendonor. Ibu Mia yang menolong dengan mendonorkan satu ginjalnya."


David kaget mendengar ucapan ibunya. Jadi yang menolong ibunya, adalah Ibu Mia.


*


*


*


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2