HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Lima Puluh Dua. HTG


__ADS_3

Ibu tampak sangat syok mengetahui kenyataan jika putra yang ia banggakan melakukan pekerjaan haram.


Mia membantu ibu berjalan menuju kamar. David masih terdiam, duduk dilantai depan pintu kamarnya.


Mia membantu ibu berbaring di ranjang. Saat Mia mau berdiri, Ibu menahan tangannya agar gadis itu tetap duduk di tepi ranjang.


"Kamu mau kemana, Mia? Temani ibu di sini. Ada yang ingin ibu katakan."


"Aku hanya ingin mengambil air minum buat,Ibu."


"Ibu nggak haus. Kamu duduklah!"


Mia duduk di tepi ranjang, ia menggenggam tangan Ibu David. Ibu menarik napasnya sebelum berkata.


"Mia, apa kamu percaya dengan apa yang David katakan?"


"Maksud, Ibu?" tanya Mia.


"Ibu rasa David sengaja mengatakan itu agar ibu dan kamu merasa bersalah karena telah menyalahkan Luna kemarin. Ibu masih nggak percaya David melakukan itu. Pastilah Luna yang telah membuat David terjerumus melakukan dosa hubungan. terlarang itu," ujar Ibu pelan.


"Aku nggak tau, Bu. Jika emang David berbohong untuk melindungi mbak Luna, berarti ia memang sangat mencintainya."

__ADS_1


"Apakah kamu sudah nggak mencintai David lagi."


"Aku nggak tau bagaimana perasaan aku saat ini. Jika aku mengatakan nggak mencintai David lagi itu bohong. Mana mungkin aku bisa menghapus cinta secepat itu. Namun, yang pasti saat ini aku kecewa setelah mengetahui semua kenyataan."


"Apa kamu yakin yang di kandung Luna anaknya David?"


"Aku nggak tau, Bu. Aku benar-benar nggak tau jawabannya. Seperti yang aku katakan kemarin, mbak Luna masih berstatus istri seseorang saat menjalin hubungan dengan David. Yang tau kebenaran siapa bapak dari anak yang dikandung Luna hanyalah dirinya sendiri."


Mia menghentikan ucapannya. Ia mencoba merangkai kata yang tepat atas apa yang sedang terjadi.


"Baik David, aku atau pun Ibu, nggak akan tau kebenarannya. Siapa yang tau apa yang Luna lakukan saat tidak bersama David, karena ia nggak serumah. Mereka bertemu pastilah hanya beberapa jam sehari."


"Apakah saat David berhubungan dengan Luna, kalian masih sering jalan bareng."


"Ibu merasa gagal menjadi orang tua. Kenapa David bisa melakukan perbuatan dosa itu? Mia ...."


"Ya, Bu."


"Kapan kamu kembali ke Jakarta."


"Lima hari lagi."

__ADS_1


"Ibu minta jaga dan awasi David. Apakah benar yang ia katakan jika Luna telah pergi jauh. Atau David sengaja berbohong agar ibu merasa sangat bersalah."


"Aku nggak tau David kost di mana saat ini. Jika di kampus, aku bisa mengawasinya."


"Mia, ibu ingin kamu jujur. Apakah jika Luna emang telah pergi jauh, kamu mau memaafkan David dan kembali menjalin hubungan?"


"Aku harus jawab apa, Bu. Saat ini aku masih kecewa dengan David. Namun, aku nggak tau jika kedepannya aku bisa memaafkan David."


"Ibu kemarin bicara dengan ibumu. Kedua orang tua kamu masih berharap kalian menikah. Semua warga di kampung sudah tau kalian akan segera menikah. Ibu kamu malu jika semua batal. Ia berharap Ibu masih dapat membujuk David untuk tidak jadi membatalkan pertunangan kalian."


"Aku sebenarnya juga malu karena nggak jadi menikah, tapi jika aku bekat juga menikah dengan David, hasilnya juga tidak baik. Cinta tidak bisa dipaksakan."


"Namun ibu yakin, cinta bisa hadir dengan seringnya kita bersama. Bagaimana, Mia? Apakah kamu mau memaafkan David?"


Mia memandangi wajah Ibu David. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika jujur, hingga saat ini cintanya David masih bertahta dicarinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2