
Luna membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia tahu David mengikutinya. Luna sengaja tidur membelakangi suaminya itu.
David naik ke ranjang dan memeluk pinggang Luna. Mengecup rambut istrinya itu.
"Maafkan, Ibu. Mungkin ini terakhir kali aku membawamu ke sini. Aku nggak mau kamu menangis lagi. Kita batalkan saja rencana pesta di desa ini," bisik David.
Luna hanya diam. David mendengar suara isak yang di tahan. Ia membalikkan badan Luna menghadapnya. David menjadi heran, kenapa akhir-akhir ini Luna mudah menangis. Dia tampak lebih cengeng.
David menghapus air mata yang membasahi pipi Luna. Di kecup mata istrinya itu.
"Besok kita kembali ke Jakarta. Aku bereskan pakaian dulu. Jika kamu nggak ingin berkunjung ke desa ini selamanya, aku nggak apa. Ibu bisa datang ke Jakarta."
Luna akhirnya mmbalas pelukan David. Dia menenggelamkan kepalanya di dada bidang David. Tangisnya kembali pecah.
"Apa salah jika aku cemburu bila Mia ada di dekat kamu?" tanya Luna di sela tangisnya.
__ADS_1
"Nggak, aku senang kamu cemburu. Tandanya kamu mencintai aku."
"Aku hanya nggak mau gagal untuk kedua kalinya. Mia masih muda, aku makin tua. Sedangkan kamu muda dan ganteng. Bisa aja kamu bosan dengan wanita yang udah tua seperti aku, dan kembali tertarik dengan Mia."
"Sayang, siapa yang bilang kamu tua. Kamu cantik, cantik benget. Apa kamu nggak dengar teman-temanku, semua memuji kamu. Kak Imelda juga. Kenapa sekarang kamu jadi nggak percaya diri?"
"Aku nggak tau. Seminggu ini aku lebih sensitif, mudah tersinggung banget. Aku takut banget kamu jauh dariku."
"Sayang, dengar baik-baik. Kamu memiliki segalanya. Yang mestinya takut kehilangan itu aku. Lepas dariku, kamu pasti bisa mencari pria manapun. Sedangkan aku, jika kamu pergi dariku, aku nggak akn pernah dapat wanita seperti kamu lagi."
Luna memeluk erat David, dan bersembunyi di ceruk leher suaminya. Luna mengecup leher David.
Luna mengindahkan ucapan David. Dia kembali mengecup leher suaminya itu. David yang sudah tidak bisa menahan, langsung menaiki tubuh Luna.
Tanpa menunggu lagi, ia melecuti seluruh pakaian Luna dan juga pakaian yang melekat ditubuhnya.
__ADS_1
David meraba setiap jengkal raga polos nan molek istrinya, mere*as nya lembut hingga jemarinya pun tiba di gunungan kembar yang putih mulus menggantung dengan begitu indahnya dengan bibir yang saling ditautkan.
Setelah puas mer**asnya secara bergantian, dia pun menurunkan jemarinya hingga tibalah di gua sempit milik Luna, menjamahnya perlahan hingga istrinya itu mengeluarkan suara de*ahan yang sedikit di tahan.
Luna semakin di buat melayang tatkala jemari suaminya itu memasuki gua sempit dan memainkan gerakan maju mundur, membuat dirinya melepaskan tautan bibirnya, dan kini suara de**han pun terdengar lirih, dengan mata yang di pejamkan dan tangan yang dilingkarkan semakin erat di leher suaminya tersebut, merasakan sebuah ken*matan.
Masih dalam posisi yang sama, kini David membenamkan wajahnya di gunung kembar milik Luna, menyesapnya perlahan secara bergantian, membuat istrinya itu semakin di buat melayang, dengan jemari yang masih berada di bawah sana, di gua sempit yang kini telah di jelajahi sedemikan rupa oleh David.
Setelah puas melakukan itu semua, kini David pun mulai mengarahkan jerry tepat di depan lembah, memainkan dulu sekejap lalu mulai menerobos dengan cepat masuk kedalamnya.
Luna hampir terpekik jika David tidak cepat menutup mulutnya. David tidak ingin ibu dan Kak Imelda mendengar apa yang sedang mereka lakukan.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung