
David yang sedang serius menghitung keuangan kafe dikagetkan dengan kedatangan Chandra.
"Sibuk banget ya? Nggak sadar aku datang," ucap Chandra mengagetkan David.
"Bang, Chandra.Duduklah, Bang. Abang pasti taulah,akhir bulan waktu yang paling sibuk buatku."
"Hebat, kamu bisa buktikan jika bisa dipercaya memegang amanat. Dalam dua tahun perkembangan kafe ini sangat baik."
"Aku ingin memegang amanat Luna sebaik mungkin. Akan aku buktikan jika aku bisa dibanggakan."
David duduk di kursi yang ada dihadapkan David. Ia memandangi David yang kembali serius dengan laptopnya.
"Kamu nggak ingin tau tentang Luna dan anakmu?" tanya Candra dengan suara pelan. Namun, pertanyaan Candra mampu mengalihkan perhatian David.
David memandangi Candra tanpa kedip, membuat David gugup dan salah tingkah. Pria itu memainkan pena yang ada di atas meja.
"Abang tau di mana Luna dan anakku berada?" tanya David dengan pandangan menghujam ke jantung Candra.
Candra tampak makin salah tingkah. Ia membuang pandangan ke seluruh ruangan.
"Di mana Luna dan anakku, Bang?" tanya David lagi.
"Aku nggak tau, Dav. Aku hanya bertanya," ucap Candra berbohong.
"Abang pasti bohong. Dari awal kepergian Luna, aku curiga jika abang tau kemana Luna pergi. Aku nggak pernah mendesak Abang, untuk mengatakan semuanya karena ingin memberi waktu buat Luna."
David menarik napasnya. Ia bersandar ke kursi dan menarik rambutnya frustrasi.
__ADS_1
"Apakah Luna mempertahankan darah dagingku? Apa anakku telah gede? Cowok atau cewek, Bang? tanya David beruntun dan antusias.
"Aku nggak tau."
David mendekatkan badannya ke Candra. Ia tersenyum miring menanggapi ucapan Candra.
"Aku nggak percaya. Abang nggak berbakat untuk berbohong."
David mengusap wajahnya kasar dan kembali bersandar ke kursi kerjanya
"Apakah Abang nggak kasihan melihatku? Dua tahun aku menantikan kabar Luna dan juga anakku. Setiap malam aku bermimpi akan berkumpul lagi dengannya. Aku selalu berharap Luna datang membawa buah hati kami. Aku nggak pernah mencoba untuk dekat dengan wanita lain karena aku yakin cinta ini hanya untuk Luna."
Candra terdiam mendengar ucapan David. Dari hatinya ia kasihan melihat David. Ia tahu bagaimana David berusaha berubah menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab dengan mengelola kafe hingga maju.
David juga tidak pernah dekat dengan wanita lain, ia sangat menjaga hatinya hanya untuk Luna seorang.
Namun, di sisi lain, Candra sudah berjanji untuk tidak mengatakan pada David tentang keberadaan dirinya.
David kaget mendengar ucapan Candra, ia langsung berdiri dan berlutut di depan pria itu.
"Aku mohon, Bang. Katakan di mana Luna san anakku?" tanya David dengan memohon.
"Kamu telah memiliki seorang putri dari Luna," gumam Candra, tapi suaranya masih bisa ditangkap telinga David.
"Putri ... aku memiliki putri dari Luna?" tanya David.
Tiba-tiba tubuhnya luruh ke lantai, air mata tidak bisa David tahan lagi. Ia tidak malu menangis dihadapan Candra.
__ADS_1
Perasaan David saat ini antara bahagia dan sedih. Bahagia mendengar Luna tetap mempertahankan buah cinta mereka. Sedih, karena ia belum melihat wajah anaknya hingga saat ini.
Di mana kamu, Sayang? Kenapa menghukumku begitu lama? Kenapa pergi membawa cintaku. Aku sangat merindukan kamu. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membuat kamu kembali. Aku sangat mencintai kamu. Aku hanya ingin hidup denganmu. Pulanglah Luna, bawa buah hati kita. Aku menunggumu, menanti dengan seluruh cinta yang ada.
*
*
*
Bersambung.
Selamat sore semuanya. Mama membawa rekomendasi novel buat dibaca sambil menunggu novel ini update. Terima kasih.
Nama pena : Mama Qiev
Judul : Di antara 3A
Blurb :
Amir tak menyangka ternyata perasaannya pada gadis pujaan, bersambut kala sang gadis mendatanginya.
Dalam pelarian dan pertentangan batin akan aqidah yang telah teguh, pada akhirnya goyah karena ujian hati.
Keduanya mencari pembenaran atas segala sikap kekeliruan hingga pada akhirnya Aiswa menyerah untuk kembali pulang.
Perjalanan Amirzain yang baru mengenal cinta.
__ADS_1
Akankah mereka kembali bertemu dan menyatukan cinta yang tertunda?