
David dan Luna telah selesai berpakaian. Mereka akan berangkat menuju kampung David.
Luna meminta supir yang akan mengendarai mobil. Ia tidak ingin David capek. Perjalanan yang akan mereka tempuh sekitar delapan jam.
David, Luna dan putrinya Aisha duduk di jok belakang. Aisha tampak antusias di dalam mobil. Ia melompat dan tertawa sepanjang perjalanan.
Di tengah perjalanan, Luna meminta supir berhenti untuk istirahat makan siang.Luna memilih restoran yang berada di dekat tepi pantai.
David menggendong putrinya Aisha turun dari mobil. Aisha minta diturunkan. Ia ingin berlari di tepi pantai.
"Ain, Pi," ucap Aisha.
"Aisha mau main. Nanti bajunya kotor, Sayang," ucap David.
"Biar aja, Pi. Nanti bajunya bisa mami ganti."
David menurunkan Aisha dari gendongannya dan putrinya itu langsung berlari. David mengejar dari belakang.
Setengah jam bermain, pakaian Aisha penuh pasir. Luna meminta David menggendong dan membawanya ke kamar mandi.
David melihat air di kamar mandi kurang bersih. Ia melarang Luna memandikan Aisha di sana.
__ADS_1
David lalu meminta supir membeli air mineral segalon. Barulah Aisha dimandikan dengan air galon yang dibeli supirnya.
Luna telah memesan beberapa menu untuk mereka makan. David dan Luna mengajak supir mereka makan di meja yang sama.
Awalnya supir Luna itu menolak. Tapi Luna dan David memaksa. Mungkin supirnya segan makan di meja yang sama.
Setelah satu jam istirahat, Luna meminta supir melanjutkan perjalanan kembali.
"Aku merasa gugup. Dua jam lagi kita sampai ke kampung kamu," lirih Luna.
"Kenapa gugup, Sayang?"
"Jangan takut, Luna. Ibu aku pasti akan menerima kamu. Apa lagi jika melihat putri kecilku ini. Lagi pula aku dan kamu telah menjadi suami istri yang sah menurut agama. Nggak ada alasan bagi ibu atau siapapun untuk memisahkan kita."
"Ibu mana yang nggak marah, jika anaknya mencintai seorang janda. Pasti ibu berharap kamu mendapatkan istri yang masih gadis."
"Bagiku janda atau gadis itu nggak penting. Yang paling penting adalah sikap dan pribadinya. Jika ibu mengenal kamu lebih dekat, aku yakin ia akan jatuh cinta. Kamu itu istimewa, Sayang. Jangan merasa minder. Seharusnya aku yang nggak percaya diri, harus bersanding dengan wanita cantik, mandiri dan mapan seperti kamu. Pasti aku banyak saingannya. Bersyukur kamu memilihku."
Luna memeluk lengan suaminy erat. Bersandar di bahu David. Aisha telah tertidur dipangkuan David.
Luna melihat Aisha yang begitu lelapnya dalam pelukan David. Luna teringat saat bayi, ia harus bekerja dan mengasuh Aisha seorang diri. Kemana pergi, hanya ia seorang diri yang menggendong .
__ADS_1
Memang sejak mengenal Arash, jika ada kerja sama yang mengharuskan mereka pergi bareng, Aisha akan berada diperlukannya seperti David saat ini.
Semakin mendekati daerah kelahiran David, jantung Luna makin berdetak kencang.Ia tampak gugup.
David yang menyadari kegugupan istrinya menggenggam erat tangan Luna. Ia mengecup tangan istrinya itu.
"Jangan gugup, aku nggak akan membiarkan siapapun menghina atau mengganggu kamu. Saat ini saudaraku yang bekerja di Kuala Lumpur ada di rumah. Aku ingin mengenalkan kamu pada semua anggota keluargaku."
"Kalau memang di rumahmu lagi rame, kita tidur dipenginapan aja."
"Iya, Sayang. Tapi kita kerumahku dulu." Luna menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Akhirnya sampailah David di kampung halamannya.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1