
Doni membawa nampan berisi nasi dan lauk ke hadapan Mia. Beginilah rutinitasnya setiap hari semenjak Mia melahirkan.
Doni berangkat ke warung miliknya yang berada dekat pasar setelah menyiapkan makan siang. Doni juga membawa bekal untuk dirinya.
"Ini makan siangnya. Aku harus berangkat. Udah terlalu siang."
"Terima kasih, Mas."
"Kalau ada yang perlu aku belikan, jangan lupa hubungi aku."
"Mas Doni ...," panggil Mia pelan.
"Ya, ada apa?"
"Maafkan aku dan ibuku,"
"Maaf untuk apa? Kamu nggak melakukan kesalahan."
"Maafkan atas ucapan ibuku yang selalu pedas."
"Nggak apa,Mia. Apapun yang ibu katakan, akan aku terima,.asal kamu selalu mendukungku."
"Aku akan selalu mendukung, selama yang Mas lakukan itu baik dan benar."
"Aku akan berusaha menjadi suami dan ayah terbaik. Walau aku belum bisa memberikan kemewahan seperti David."
"Mas, udah aku katakan. Jangan sebut nama David, apa lagi membandingkan.Semua telah ditakdirkan Tuhan. Rezeki, jodoh dan maut."
"Terima kasih karena telah mau menerimaku lagi, dan telah memaafkan kesalahanku yang dulu."
__ADS_1
"Aku juga ada kesalahan. Lebih baik kita introspeksi diri masing-masing dan berusaha merubahnya menjadi yang lebih baik''
Doni mengacak rambut istrinya itu dan mengecup dahinya. Sejak Mia melahirkan, dan semua Doni yang mengurus, sikap Mia pada Doni mulai berubah.
Mia tampaknya telah ikhlas menerima Doni sebagai suami dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
"Aku pergi. Kalau ada yang harus aku beli,hubungi aja."
Doni pergi dengan mengendarai motor. Saat ini dia sedang menabung uang untuk membeli mobil. Doni telah berjanji pada Mia akan membeli mobil, agar saat bepergian dengan anaknya tidak takut kehujanan atau kepanasan.
Setelah suaminya pergi, Mia kembali merebahkan diri. Sejak melahirkan semua pekerjaan rumah diambil alih Doni. Pria itu melakukan semua tanpa kecuali.
Terkadang pekerjaan rumahnya dibantu ibu mertuanya jika sedang mengunjungi Mia. Ibu mertua Mia, tidak mengizinkan wanita itu melakukan semua itu hingga usia bayi 40 hari.
Hati Mia mulai luluh sejak melihat ketulusan dan keikhlasan suami dan ibu mertuanya. Jika dia memutuskan berpisah dan mencari yang lain, belum tentu dapat yang lebih baik. Bisa jadi dapat yang lebih parah sifatnya.
......................
David telah meminta izin kepala desa jika dia akan memakai jalanan depan rumahnya. Semua tetangga telah mendapatkan undangan tidak terkecuali ibunya Mia.
Luna sengaja menyewa jasa EO dari Jakarta, walau bayarannya mahal tapi dia puas dengan hasil kerjanya. EO yang biasa bekerja sama dengannya jika ada acara di perusahaan.
Luna sedang berbaring di kamar saat David masuk. Suami Luna itu sibuk membantu orang-orang EO.
"Sayang, udah makan." David membangunkan Luna. Wanita itu membuka matanya perlahan.
"Ibu bilang kamu belum makan. Aku bawa ke sini ya makannya?" tanya David.
"Kepalaku pusing. Aku mau rebahan bentar. Makannya nanti aja."
__ADS_1
David duduk di tepi ranjang dan memegang dahi istrinya. Dia tampak lega karena dahi istrinya tidak panas.
"Kita ke bidan aja. Takut ada apa-apa," ucap David.
"Aku cuma lagi malas aja dan pengin rebahan, bukan sakit."
"Tapi kamu belum makan,Sayang. Acara syukuran akan diadakan lusa. Kalau kamu kuranh sehat, nggak. mungkin acara dilanjutkan."
Luna bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di kepala ranjang.
"Aku udah makan banyak tadi. Masih kenyang. Kepalaku pusing dikit aja. Biasa kalau lagi hamil. Ibu aja yang kuatir. Tanya sama Kak Imelda, aku menghabiskan dua piring soto mie yang ibu buat. Ibu juga tau."
"Kok, ibu tadi ngomong kamu belum makan," ucap David.
"Mungkin maksud ibu belum makan nasi. Ibu tadi emang minta aku makan sotonya dengan nasi. Aku nggak biasa akan soto mie dengan nasi."
"Mungkin ibu pikir, nggak. akan kenyang kalau belum ditambah nasi. Maklum aja, orang kampung belum kenyang kalau nggak ditambah nasi. Apapun yang di makan, pasti tambahannya nasi," ucap David tersenyum.
David tahu kebiasaan Ibunya. Sebelum anaknya makan nasi, ibu akan sibuk dan kuatir. Bagi ibu apapun yang kita makan, nasi tetap. wajib di santap dan masuk perut.
"Sekarang kamu istirahatlah. Kalau lapar lagi, telepon aja. Biar aku ambilkan. Aku mau mengawasi orang EO pasang tenda."
David meminta Luna berbaring lagi. Dan menyelimuti tubuh istrinya sebelum meninggalkan kamar.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung