
Luna dan David baru saja bangun. David memeluk istrinya itu menuju kamar mandi. Dia ingin memastikan kamar mandi tidak licin, dan kotor.
David tidak ingin Luna terjatuh, yang akan mempengaruhi janin dalam kandungan Luna.
Saat akan masuk ke kamar mandi Luna melihat ibu mertuanya yang sedang duduk temenung di dekat meja makan.
Luna menghampiri Ibu, diikuti David disampingnya. Luna duduk dihadapan ibu mertuanya itu.
"Ibu, apa ibu sakit?" ucap Luna dengan menyentuh lengan ibu, membuat wanita itu kaget.
"Apa ...?" tanya ibu lagi.
"Apa ibu sakit? Kenapa termenung?" Luna mengulang pertanyaanya lagi.
"Nggak, Ibu nggak sakit."
"Aku juga tadi berpikir ibu sakit. Karena nggak biasanya Ibu termenung sendirian di sini," ucap David.
"Atau mungkin ibu kecapean jaga Aisha. Maaf ya, Bu. Hari ini aku nggak ada keluar rumah," ucap Luna.
"Ibu nggak apa-apa. Menjaga Aisha itu nggak membuat capek. Anaknya baik, nggak rewel. Di beri mainan udah diam aja."
__ADS_1
"Syukurlah kalau ibu nggak ada apa-apa," ujar Luna.
"Nanti Aisha biar denganku aja, Bu."
"Ibu aja. Nggak ada mengganggu Aisha nya."
"Kalau ibu emang merasa nggak terganggu, okelah. Ibu Mia jadi ke sini'kan?" tanya David.
"Tentu aja. Sekitar jam 9 setelah masak, Ibu Mia datang. Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan? Kenapa meminta ibu Mia datang."
"Ada yang harus aku dan Luna katakan pada Ibu Mia. Aku dan Luna mandi dulu."
David masuk ke kamar mandi berdua Luna. Awalnya wanita itu tidak mau, malu dengan ibu mertuanya. Namun, David tetap memaksa. Akhirnya Luna menyerah.
Setelah David dan Luna mandi, Imelda memandikan Aisha. Luna udah melarang, biar dia yang mandikan Aisha, namun kakaknya David itu tetap kekeh memandikan Aisha.
Setelah semua sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga menantikan kedatangan Ibu Mia.
Ketika jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, Ibu Mia datang berdua Mia anaknya.
Luna dan David menyalami ibu Mia, mempersilakan wanita itu duduk. Aisha di biarkan bermain di lantai dengan berbagai macam mainan miliknya.
__ADS_1
"Begini, Bu. Pertama aku ingin berterima kasih karena ibu pernah membantu ibuku dengan mendonorkan ginjal. Aku nggak akan pernah melupakan semua itu. Aku akan ingat selalu bantuan, Ibu," ucap David.
"Ibu hanya ingin menolong seorang teman yang telah dianggap saudara. Kamu tau'kan kami telah berteman sejak kamu dan Mia masih kecil. Aku telah menganggap kamu seperti anak aku sendiri. Begitu juga ibumu, dah seperti saudara bagiku," ucap Ibu Mia.
Ibu David,Imelda dan Mia hanya diam mendengar. Imelda tadi sudah mengingatkan pada ibunya, nanti jangan banyak bicara. Biarkan David dan Luna yang selesaikan.
"Sekali lagi terima kasih karena telah menolong ibuku. Untuk itu, dengan tidak mengurangi rasa hormatku, aku dan Luna ingin membantu ibu sebagai balasan dari bantuan ibu."
"Maksud kamu apa, David."
"Sebelumnya saya minta maaf, jika dianggap lancang. Saya ikut campur di sini karena merasa telah menjadi bagian dari keluarga David. Sebagai istrinya, aku juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan ibu dulu pada mertuaku," ucap Luna.
"Aku membantunya telah lama. Jauh sebelum kamu masuk dalam kehidupan David. Itu saat David baru masuk Sekolah Menengah Atas. Sekitar 10 tahun yang lalu. Jadi nggak ada hubungan denganmu," ucap Ibu Mia tampak kurang suka saat Luna bicara.
Luna menarik napas dalam, untuk meredakan amarahnya mendengar ucapan ibu Mia. David menggenggam tangan Luna, melihat istrinya itu memegang dadanya sambil menarik napas.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung.