
David sampai di rumah saat menjelang magrib. Setelah mengetuk pintu dan memberikan salam beberapa kali, tidak ada juga sahutan akhirnya David masuk.
Langkah kakinya langsung menuju kamar ibunya. David membuka pintu dan melihat Mia yang sedang menyuapi ibunya.
"Selamat malam, Bu," ucap David. Ia mendekati ibu dan menyalami tangannya. David duduk di tepi ranjang, ia menggenggam tangan ibu.
"Ibu, apa kabar."
"Seperti yang kamu lihat. Apakah ibumu tampak sakit atau sehat?" ucap ibu ketus.
"Maafkan aku, Bu. Aku baru sempat pulang saat ini."
"Kenapa kamu nggak pulang bersama Mia kemarin?"
"Ini ada, Mia. Ibu bisa tanyakan langsung alasan Mia, kenapa ia pulang duluan tanpa menunggu aku?"
"Aku nggak tau kalau kamu ingin pulang bersamaku. Aku pikir kamu udah nggak mau lagi dekatku."
"Jangan berbohong, Mia. Aku mengajak kamu pulang bareng hari ini. Saat aku menjemput di kost, teman sebelah kamarmu mengatakan jika kamu telah pulang kampung duluan."
"Aku nggak bohong David, aku pikir kamu hanya meminta aku pulang kampung bukan mengajak pulang bareng."
David memandangi wajah Mia dengan muka merah padam. Ia tidak pernah menduga gadis itu akan berbohong.
Mia yang dipandangi David,menunduk. Gadis itu tidak berani menatap David. Air matanya mulai jatuh membasahi pipi.
"Udah David, kenapa kamu memandangi Mia begitu. Ia jadi ketakutan," ucap Ibu.
"Mungkin memang aku yang salah, Bu. Kurang mengerti maksud David. Aku hanya berpikir, pasti David nggak ingin lagi pulang denganku sejak ia memutuskan pertunangan kami."
__ADS_1
"Apa-apa ini? Kenapa jadi kesana pembahasannya?" ucap David.
"Apa benar yang Mia katakan itu. Kamu telah memutuskaan pertunangan kalian."
"Benar, Bu. Aku merasa udah tidak ada kecocokan lagi dengan Mia."
"Harus berapa kali lagi ibu katakan, jika ibu hanya ingin Mia jadi menantu. Nggak mau wanita lain."
"Ibu, aku pamit. Kita bicarakan ini besok saja. David pasti masih capek."
"Jangan kuatir, Mia. Biar ibu yang bicara dengan David."
Mia pamit dengan menyalami tangan ibu David. Ia berjalan perlahan meninggalkan kamar.
David mengikuti Mia, menarik tangan gadis itu dan membawa ke samping rumahnya. Wajah Mia tampak pucat dan ketakutan melihat David yang menahan amarah.
"Aku nggak ngerti, kamu bicara apa?" tanya Mia.
"Kenapa kamu berbohong? Jelas-jelas aku mengajak kamu untuk pulang bareng."
"Aku nggak mau. Bagaimana bisa aku pulang bareng dengan cowok yang baru saja memutuskan pertunangan kami."
"Kenapa kamu membalikkan fakta seolah aku yang nggak mau. Kenapa nggak jujur?"
"Ibumu sakit, aku hanya ingin menjaga perasaannya."
"Dengan kamu menuduh aku begitu, apa ibuku nggak berpikir macam-macam?"
"A-ku ..." ucapan Mia terhenti saat terdengar suara ponsel David.
__ADS_1
"Kita masih harus bicara. Aku menunggumu besok dirumahku. Kamu harus katakan sejujurnya."
David melihat nama Luna yang tertera. Ia menjauh dari Mia berdiri. Namun, gadis itu mendekati David secara perlahan tanpa cowok itu sadari.
"Ada apa, Sayang."
"Kamu udah sampai. Kenapa belum memberi kabar."
"Barusan, aku sampai. Maaf belum sempat memberikan kabar."
"Ada kabar yang ingin aku katakan."
"Apa, Sayang. Kabar Apa?"
"Aku hamil."
"Apa ...? Kamu hamil. Benar itu,Luna. Kamu hamil anak kita."
David sangat gembira mendengar kabar dari Luna. Sedangkan Mia yang berdiri di belakang David, syok mendengar ucapan dari mulut cowok itu.
Astaga. Jadi selama Ini David dan Mbak Luna bukan hanya sekadar dekat saja. Mereka telah melakukan hubungan sejauh ini.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1