
David mengendarai mobil membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan sedang. Tangannya yang satu selalu menggenggam tangan Luna. Wanita itu tanpak sangat bahagia dengan perlakuan suaminya.
Terkadang Luna berpikir, apa jadinya jika David meninggalkan dirinya seperti yang Alex lakukan, pasti ia akan lebih kecewa lagi.
Diakui Luna, dia lebih mencintai David dari Alex saat mereka masih berstatus suami istri. Apa karena dengan David dia mendapatkan keturunan, atau memang dia yang lebih mencintai David. Itulah makanya Luna sedikit pencemburu dengan David.
Saat bersama Alex, Luna tidak pernah cemburu atau curiga jika Alex jalan berdua dengan wanita lain, hingga dia mendapat laporan jika Alex bukan hanya sekadar jalan dengan wanita-wanita itu tapi lebih dari itu.
"Gimana kalau kamu mulai belajar memimpin perusahaan," ucap Luna.
"Perusahaan kamu?" tanya David, dengan pandangan tetap ke depan.
"Perusahaan kamu juga. Aku udah katakan semua milikku juga miliknya kamu."
"Harta istri itu milik pribadinya, tapi harta suami itu juga milik istri."
"Bagiku sama aja, hartaku juga hartamu," ujar Luna. David mengacak rambut istrinya itu.
"Aku takut nggak mampu dan akan membuat perusahaan kamu bangkrut."
"Perusahaan aku lagi ngomongnya."
"Jadi aku harus menyebutnya perusahaan kita, Gitu ngomongnya?" tanya David.
"Iya, Papi," ujar Luna mengecup pipi David.
"Ini di dalam mobil Luna, jangan menggodaku," ujar David. Luna tertawa mendengar ucapan David.
__ADS_1
"Besok kita pergi ke nikahan teman kuliah aku."
"Apa kamu nggak malu bawa tante-tante?" tanya Luna.
"Jangan selalu merasa rendah diri begitu, Luna. Kamu memiliki segalanya yang diinginkan wanita. Cantik, baik, mapan dan terutama kamu memiliki suami yang ganteng, baik dan cinta mati denganmu."
"Aku nggak mau cinta mati. Aku maunya cinta selamanya."
"Aku itu cinta denganmu sampai maut memisahkan, Gitu Sayang."
"Gombal aja terus."
Luna menyandarkan kepalanya di bahu bidang David. Hingga sampai diparkiran kafe. . Luna dan David keluar dari mobil.
Baru beberapa langkah berjalan Luna mendengar namanya dipanggil. Luna menghentikan langkahnya dan mencari asal suara.
"Alex ...," ucap Luna kaget. David juga tak kalah kagetnya.
"Aku mau bicara. Ada hal yang ingin aku katakan denganmu
"Apa lagi yang harus kita bicarakan. Aku rasa di antara kita telah usai."
"Aku perlu bantuanmu. Bisa kita bicara empat mata aja tanpa ada orang ketiga."
"Aku nggak izinkan Luna bicara berdua denganmu," ucap David.
"Apa hakmu melarang, Luna?" tanya Alex sedikit emosi.
__ADS_1
"Apa hakku? Apa kamu nggak salah tanya? Aku ini suaminya Luna. Aku memiliki hak atas diri Luna," ucap David sedikit emosi.
"Suami, apa selingkuhan?" tanya Alex lagi.
"Alex, di sini banyak pengunjung. Jangan cari masalah. Aku dan David emang telah menikah. Apa aku perlu membawa surat nikah kehadapanmu biar percaya?" ucap Luna.
"Oke, aku minta izin bicara berdua Luna," ucap Alex lagi.
"Aku nggak izinkan. Jika kamu ingin bertemu dan bicara dengan Luna, harus denganku. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan Luna dan calon anak keduaku," ucap David.
"Anak kedua? Apa Luna saat ini sedang hamil?" tanya Alex.
"Ya, makanya aku nggak mengizinkan Luna pergi tanpa pengawasan dariku langsung. Aku hanya ingin memastikan istri dan calon anak kami selamat."
"Aku bukan penjahat!"
"Kamu emang bukan penjahat. Namun siapa yang bisa menjamin kamu nggak melakukan hal buruk dengan Luna."
Alex mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar ucapan David.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1