HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus Tujuh Belas. HTG.


__ADS_3

Mia menidurkan bayinya. Doni mendekati Mia dan membantu istrinya itu untuk meletakkan bayi mereka di tempat tidurnya.


"Mas mau masak apa?" tanya Mia.


"Kamu minta goreng ayam dan sayur kangkung'kan? Ini mas belikan."


"Biar aku aja yang masak. Mas bisa ke warung sekarang."


"Nggak usah. Biar aku aja. Kamu jagain Azka. Ibuku bilang, menjelang usia anak empat puluh hari, kamu nggak boleh bekerja. Ibuku akan marah jika tau aku membiarkan kamu bekerja."


"Tapi aku udah nggak apa, Mas. Usia Azka juga udah hampir satu bulan."


"Biar aja Doni yang kerjakan semua. Kamu jaga badan aja. Lihat Luna, walau usia jauh di atas suaminya David, tapi masih bisa seimbangkan usianya."


"Udahlah, Bu. Jangan bawa-bawa David lagi," ucap Mia.


"Emang kenapa? Apa Doni marah jika David di sebut namanya?" tanya Ibu.

__ADS_1


"Bu, marah ataupun nggak marah seharusnya ibu tetap menjaga perasaannya Mas Doni. Yang jadi suami aku saat ini Mas Doni. Apa Ibu nggak melihat ketulusannya? Aku diperlakukan baik begini."


"Itu udah menjadi kewajiban Doni. Jika dia nggak ingin melakukan semua pekerjaan rumah ini, bisa cari pembantu. Apa dia sanggup?" tanya Ibu.


"Ibu, untuk bayar seorang pembantu aku rasa uangku cukup. Namun, aku berpikir, buat apa aku buang uang untuk gaji pembantu jika aku masih sanggup mengerjakan. Lebih baik aku beri uang itu buat istriku. Ibu bisa tanyakan Mia, aku pernah bertanya. Apakah dia butuh pembantu? Jawabnya nggak," ucap Doni.


Ibu memandangi Mia. Dengan tersenyum sinis ibu bertanya,"Apa kamu emang sanggup mengerjakan semuanya? Masak, mencuci dan bersihkan rumah. Anakmu masih sangat kecil. Pasti rewel. Beruntung Luna, dia ada pembantu yang mengurus anaknya."


"Aku sanggup, Bu. Rumah kami nggak besar. Belum butuh pembantu. Uangnya bisa kami simpan buat renovasi rumah nantinya," jawab Mia.


"Ibu, jangan sebut nama David lagi. Itu rezekinya David. Jikapun dulu aku menikah dengan David, belum tentu rezekinya seperti saat ini, karena semua itu milik mbak Luna. Ibu harus ingat, bukan Mbak Luna yang beruntung mendapatkan David seperti yang ibu katakan, tapi David yang beruntung memiliki istri seperti Mbak Luna. Dia wanita hebat. Semua yang diinginkan wanita dimilikinya. Wajah cantik, baik dan hidup mapan. Jangankan David, pria manapun bisa ia dapatkan."


"Udahlah, Mia. Aku masak dulu. Jangan berdebat dengan Ibu. Akan menambah beban pikiranmu. Aku masak dulu, setelah itu mau ke warung," gumam Doni namun masih dapat didengar Mia dan Ibunya.


David berjalan menuju dapur untuk memasak. Dia udah terbiasa masak, karena ibunya mengajarkan. Ibu Doni selalu meminta anak laki-lakinya membantu memasak agar nanti bisa membantu istri saat telah berkeluarga, itu yang selalu Ibu Doni kataka.


Doni saat ini sudah tidak bekerja di pabrik lagi. Dengan uang pesangon dan modal dari orang tuanya Doni membuka warung yang menjual kebutuhan pokok.

__ADS_1


"Ibu mau pamit. Ini lauk buat kamu, tadi bapakmu yang minta ibu antarkan. Ini ada uni sedikit, titipan dari Bapakmu."


"Sampaikan terin kasihku untuk bapak. Aku berharap jika ibu datang lagi, jangan pernah menyebut nama David lagi. Kami telah memiliki keluarga masing-masing. Jika mbak Luna dengar, nama suaminya selalu ibu katakan, bisa saja dia cemburu."


"Kamu sekarang udah bisa membantah Ibu. Baru tiga bulan hidup terpisah."


"Aku bukan membantah, tapi mengingatkan ibu."


"Sama aja." Ibu berjalan cepat meninggalkan rumah kediaman Mia.


*


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2