
Arash berjalan mendekati David, Luna dan Aisha. Dia mengulurkan tangannya. David menyambut uluran tangan Arash.
"Apa kabar?" tanya Arash.
"Sehat, bahkan lebih dari sehat."
"Si cantik apa kabarnya, udah lama nggak ketemu," ucap Arash mengecup pipi Aisha.
"Aku mau meeting. Kamu mau pulang atau menunggu di ruangan aku aja?" tanya Luna.
"Aku menunggu diruangan kamu aja."
Mereka masuk ke lift menuju ke ruang kerja Luna. Di lantai yang sama ruangan rapat berada.
Luna langsung menuju ruang rapat ketika sekretarisnya bicara jika rekan kerja mereka udah menunggu.
David masuk ke ruang kerja Luna dan menyuapi Aisha makan. Setelah Aisha makan, David pun menyantap sarapannya.
Saat hari menunjukkan pukul sebelas siang, Aisha yang telah mengantuk di tidurkan di atas sofa. David juga ikutan tertidur sambil duduk.
Luna yang baru saja rapat memasuki ruang kerjanya dengan Arash. Masih ada yang harus mereka bahas mengenai kerjasama dengan rekan kerja tadi.
__ADS_1
Luna yang melihat David tertidur lelap, dengan kepala Aisha yang berada di pahanya, mendekati suaminya itu. Dia tersenyum melihat dua orang yang sangat di sayangnya. Luna mengelus pipi David dan Aisha. Arash melihat semua yang dilakukan Luna dengan mata tajam tanpa kedip.
Luna mengajak Arash menuju meja kerjanya. Mereka langsung membahas kerja sama tadi.
...----------------...
Di tempat lain tampak Doni dan Mia sedang duduk berbincang di kamar mereka.
"Apa kamu mau ikut aku pindah dari rumah orang tuamu ini?" tanya Doni.
"Aku minta maaf karena selama ini salah dalam membalas semua perbuatanmu. Nggak seharusnya aku membalas dengan berselingkuh. Tapi aku bersumpah Mia, aku dan wanita itu tidak melakukan hal yang lebih jauh. Kami hanya sekadar jalan bareng."
"Mia, aku nggak lah sempurna dan pernah melakukan kesalahan seperti orang biasa. Aku harap kamu dapat menerima permintaan maaf aku dan rasa bersalah aku. Maafkan aku, Mia., aku harap kamu dapat memaafkan aku atas perilaku aku yang tidak dewasa sebelumnya dan aku berjanji tidak akan mengulanginya. Aku, mohon."
Doni menggenggam tangan Mia dan kembali bicara.
"Mohon terima permintaan maaf aku yang tulus dan beri aku kesempatan lagi. Aku berjanji akan memperbaiki semua momen yang telah saya hancurkan sebelumnya."
"Apa mas yakin nggak akan mengulangnya?" tanya Mia.
"Dan coba kamu tanyakan hatimu. Apakah semua ini kesalahanku?"
__ADS_1
"Maaf, Mas. Tapi bukan berarti Mas harus membalasnya dengan selingkuh. Mas bisa bicarakan baik-baik. Menasihati secara baik jika aku salah."
"Bukannya aku ingin membela diri atau membenarkan perbuatanku, tapi kamu dan ibu juga ada sedikit kesalahan. Cobalah kamu berpikir Mia, seandainya kamu yang berada di posisi aku. Apakah kamu nggak akan tersinggung dan marah?"
Mia hanya dam, tidak berani menjawab pertanyaan Doni. Diakui Mia, ibunya memang sering membandingkan Doni dan David.
Setiap mereka makan malam bersama, Ibu selalu mengatakan kebaikan David. Seolah David tidak ada bandingannya.
Mia juga sadar, jika dia memilik kesalahan, karena masih menyimpan semua kenangan dari David.
"Mia, maaf. Bukannya aku ingin menghakimi kamu atau ibu. Aku cuma ingin sedikit pembelaan. Mulai hari ini, kita lupakan semua kesalahan yang terjadi. Mulai dengan lembaran baru, dengan pindah ke rumah yang aku beli. Walau kecil, tapi aku dan kamu akan memulai hidup tanpa ada campur tangan pihak ke tiga."
Doni menggenggam tangan Mia berharap istrinya itu mau menerima kata maafnya.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1