
Doni dan Mia duduk dihadapan kedua orang tua Mia. Tampak Ibu Mia kurang suka dengan kehadiran menantunya itu. Ibu Mia yang duduk di samping ayahnya ingin berdiri, Doni langsung mencegahnya.
"Ibu, jangan pergi dulu. Aku dan Mia ingin bicara," ucap Doni.
"Apa yang harus dibicarakan lagi."
"Banyak, Bu. Ada banyak yang harus kita bicarakan. Selama ini kita kurang komunikasi."
"Duduklah, mungkin Doni ingin bicara penting," ucap Ayah Mia.
"Aku nggak suka bicara dengan menantu pengkhianat seperti dia," ucap Ibu Mia.
"Maafkan jika aku belum bisa menjadi menantu seperti yang Ibu dan Ayah harapkan," ujar Doni.
"Bicaralah! Jika emang ada yang ingin kamu katakan," ucap Ayah.
"Sebelum aku bicara ke inti masalah, aku ingin minta maaf dengan Ibu dan Ayah. Maafkan semua kesalahanku, selama menjadi suami Mia dan menantu kalian, aku banyak melakukan kesalahan."
"Sadar juga kamu. Jika kamu tau itu salah, kenapa masih saja kamu lakukan!" ucap Ibu Mia.
"Aku khilaf. Karena rasa cemburu, aku melakukan hal bodoh. Nggak seharusnya aku melakukan itu."
__ADS_1
"Baru sadar kamu. Selama ini kemana aja" tanya Ibu Mia.
"Ibu, biarkan Doni bicara dulu," ucap Ayah.
"Ayah, Ibu. Selama ini diakui, aku salah. Rasa cemburu membuat aku salah langkah. Aku selingkuh. Semua juga sudah tau. Namun, bukannya aku ingin membela diri, semua yang aku lakukan karena kesalah pahaman. Aku pikir Mia dan David masih menjalin hubungan dibelakangku ...." Doni terdiam karena Ibu memotong ucapannya.
"Kamu aja yang cemburu. Pasti kamu mau mengatakan jika ini semua karena salah Mia yang masih menyimpan foto dan barang pemberian David. Emang kenapa jika masih menyimpan barang pemberiannya?" tanya Ibu pada Doni. Tanpa menunggu jawaban dari Doni, Ibu melanjutkan ucapannya.
"Kamu tau'kan, jika Mia dan David telah berhubungan lama. Nggak mudah baginya langsung melupakan. Seharusnya jika kamu mendapati Mia masih menyimpan semua barang pemberian David, kamu itu berusaha menjadi yang lebih baik dari David agar Mia bisa melupakan semuanya. Bukan malah selingkuh. Itu makin membuat Mia jauh darimu!" ucap Ibu lagi.
"Iya, Bu. Aku telah sadar dengan kekeliruan yang aku lakukan. Aku ingin merubah semuanya. Aku dan Mia telah sepakat, jika kami akan memulai dengan lembaran baru."
"Maksudnya?" tanya Ibu lagi.
"Terima kasih, Ayah. Aku dan Mia ingin memulai lembaran baru dengan pindah kerumah yang aku beli, betul begitu'kan Mia?"
"Maksudnya kamu dan Mia akan pindah ke gubuk yang kamu beli itu."
"Ibu bicara apa?" ucap Ayah.
"Rumah itu masih semi permanen. Dan juga kecil. Apa Mia akan betah di sana?" tanya Ibu.
__ADS_1
"Kemanapun suami pergi, istri harus ikut. Biarpun rumah itu kecil, jika kita ikhlas pasti akan bahagia juga," ucap Ayah.
"Tapi Doni itu kasar, apakah Ayah nggak takut Mia diapakan sama Doni?" tanya Ibu.
"Ibu, aku janji nggak akan menyakiti Mia."
"Ayah, ingin tanya dengan Mia," ucap Ayah.
"Silakan, Ayah. Apa yang ingin ayah tanyakan?" tanya Mia kembali.
"Apakah ini emang sudah menjadi keputusan kamu dan Doni. Kamu telah memaafkan semua salahnya dan mencoba memulai lembaran baru dengannya."
"Iya, Yah. Aku akan ikut Mas Doni pindah."
"Baiklah, sekarang Nak Doni bisa teruskan ucapannya."
Ayah memberikan waktu buat Doni untuk bicara lagi.
*
*
__ADS_1
*
Bersambung