
Luna memeluk pinggang David dengan erat. Dia paling takut jika di atas motor. David mengusap tangan Luna yang memeluk pinggangnya.
Sepanjang perjalanan, David banyak bertemu teman satu sekolahnya dulu. Sampai di tepi anak sungai, David melihat banyak temannya yang memancing.
"Kita berhenti dulu, nggak apa'kan?" tanya David.
"Nggak apa.Aku juga pengin lihat orang mancing."
David berhenti di pinggir sungai. Ia mendekati teman-temannya yang sedang asyik.
"Asyik benar mancingnya," sapa David.
Tiga orang pria yang sedang memancing serempak memandang ke arah David.
"Wah, lihat siapa yang datang," ucap salah seorang dari mereka.
David mengajak Luna mendekat, ia berdiri dengan memeluk pinggang istrinya itu.
"Ini pacarmu? Pengganti Mia?" ucap yang lainnya.
"Oh ya,kenalkan ini istriku. Luna ...." ucap David.
Luna tersenyum dan mengulurkan tangannya. Satu persatu teman David di salami Luna.
"Nikah nggak undang-undang."
"Takut ya kami makan banyak," ucap yang lainnya.
"Aku nikah di Jakarta. Rencananya aku akan mengadakan pesta juga di sini. Satu atau dua bulan lagi. Aku mau cari sewa pelaminan dulu."
"Kalau jadi pesta di sini, jangan lupa undangannya!"
"Semua teman dari SD, SMP dan SMA aku undang," ucap David lagi.
"Pantaslah Mia kamu putuskan, dapatnya cewek kota. Cantik lagi dari Mia."
__ADS_1
"Kamu dapat cewek cantik-cantik banget. Apa rahasianya?" ucap teman David yang lainnya.
"Ganteng ... itu yang pertama. Aku'kan ganteng, wanita mana yang bisa menolak pesona seorang David."
"Kalau itu rahasianya, kau ngaku kalah. Aku menyerah."
David dan yang lainnya tertawa mendengar ucapan temannya itu.
"Kamu selalu beruntung. Lepas dari Mia, dapat lagi yang lebih cantik. Kalau Mia, udah putus dari kamu, dapat suami nggak seganteng kamu. Selingkuh pula lagi."
"Tapi suami Mia kaya dari David," ucap teman yang satu lagi.
"David sekarang juga kaya Kamu nggak lihat mobil yang terparkir di rumahnya. Itu mobil kamu'kan, Dav?"
"Mobil istriku," ucap David.
"Banyak uang dong, Luna. Cantik dan kaya. Pantaslah Mia kalah."
"Kamu ngomong apa? Jaga perasaan Luna. Jangan bicarakan mantan David," ucap cowok yang bernama Reza.
"Panjang umur Mia. Baru kita omongin, muncul."
Tampak Mia sedang berjalan dengan satu kantong kresek di tangan.
"Mia ...." sapa. Luna saat wanita itu makin dekat.
"Mbak Luna. Mau kemana pagi-pagi udah siap aja."
"Mau kelilin aja. Dari mana?"
"Dari warung, beli sayur dan cabe."
"Rajin benar, Mia. Emang Doni pulang?" ucap pria yang bernama Anton.
"Emang kalau Doni nggak pulang, aku nggak masak. Terus, aku makan apa?"
__ADS_1
"Tau nih, Anton. Emang Mia masak buat suaminya aja."
"Udah berapa bulan hamilnya,Mia?" tanya Luna.
"Lima bulan,Mbak."
"Udah gede juga."
David hanya diam memperhatikan tanpa suara. Dia tidak tahu harus bicara apa. Masih ada kecanggungan. Sejak David memutuskan pertunangan, baru saat ini ia bertemu Mia lagi .
Selama dua tahun, David hanya pulang kampung untuk melihat ibunya. Menginap satu malam, dan langsung kembali ke Jakarta.
"Aku pamit, mau masak. Mbak Luna, David, mampirlah ke rumah. Bawa si kecil."
"Nanti aku usahakan, Mia. Terima kasih," ucap Luna.
Mia berjalan perlahan meninggalkan Luna dan yang lainnya.
"Aku juga pamit. Mau keliling lagi," ucap David
"Oke, hati-hati. Bawa wanita cantik. Nanti jatuh, lecet."
"Tentu aja. Aku nggak akan membiarkan Luna terluka sedikitpun."
"Maaf, aku dan David pamit," ujar Luna sambil tersenyum.
David dan Luna meninggalkan mereka. Dengan perlahan David membawa motornya.
*
*
*
Bersambung
__ADS_1