
Sejak pagi hari David mencari ustad yang akan menikahkan dirinya dan Luna. Ia telah yakin akan menikahi Luna hari ini juga walau secara siri.
David ditemani seorang kenalan telah mendapatkan alamat Ustad yang akan menikahkan ia dan Luna nanti malam sehabis magrib.
Setelah memastikan semuanya, David langsung menuju apartemen Luna. Kemarin Luna telah mengatakan unit berapa dia tinggal.
David langsung menuju lantai apartemen Luna tinggal dengan menggunakan lift. Sampai di depan pintunya, David mengetuk pintu.
Tidak berapa lama terdengar langkah kaki mendekat dan membuka pintu. David memberikan senyumannya begitu melihat Luna.
David memeluk Luna dan mengecup pipinya. Sedangkan Luna tampak keheranan.
"Kenapa memandang Papi seperti itu, apa ada yang salah?" tanya David melihat Luna yang masih tampak kaget karena kedatangannya.
"Kenapa datang siang?" tanya Luna akhirnya membuka suara.
"Nggak boleh, apa harus malam agar bisa langsung gituan," ucap David memeluk pinggang Luna.
"Ngomongnua pelan dikit. Malu ... ada tamu."
"Tamu? Siapa?" tanya David.
Luna menunjuk dengan mulutnya kearab Arash yang sedang bermain dengan Aisha. David langsung melepaskan pelukan di pinggang Luna.
David berjalan perlahan mendekati Aisha yang bermain boneka dengan Arash. Ia duduk di samping Aisha.
"Kamu udah makan? Aku minta bibi siapkan buatnya, ya?" tanya Luna.
"Kamu emang udah makan?" David balik bertanya.
__ADS_1
"Baru aja aku makan dengan Aisha dan Arash."
"Oh, gitu. Aisha, sini gendong dengan Papi. Kita tidur siang bareng, ya," ucap David langsung menggendong Aisha.
"Pi ...." ucap Aisha.
"Iya, Sayang. Aisha bobok dengan Papi ya?"
"Kamar Aisha yang mana?" tanya David ketus.
"Aku antarkan," ujar Luna pelan.
"Maaf, Arash. Aku tinggal sebentar."
"Silakan!"
Luna mengajak David masuk ke kamar Aisha. David mendudukan Aisha di kasur.
"Kami bicara tentang bisnis saja, Dav."
"Apa nggak bisa bicara di perusahaan saja?"
"Kebetulan aku tadi nggak ke kantor. Aisha tiba-tiba rewel. Nggak mau diajak pergi."
"Ini terakhir kali aku lihat kamu berdua dengan nya."
"Aku nggak berdua David. Ada Aisha dan juga bibi."
"Aku nggak mau tau. Jika kamu ingin bertemu di perusahaan aja atau aku yang temani."
__ADS_1
"Kamu posesif banget," lirih Luna.
"Itu karena aku mencintai kamu, Luna."
"Jujur saja aku cemburu jika kamu dekat bersama orang lain, walaupun kamu bilang 'itu hanya sebatas teman. Maaf, Luna. Aku bawel, dan aku cemburu, itu semua sebab cinta. Aku tidak mau hingga ada orang lain yang membuat kamu ketawa dan bahagia, selain aku."
"Dengar David, Cinta itu kebebasan, bukan untuk saling mengekang. Cinta itu kepercayaan, bukan cemburu tanpa alasan. Cemburu adalah salah satu bentuk cinta. Tapi cemburu terus menerus bukanlah cinta. Karena cinta butuh rasa percaya."
"Maaf, Luna. Aku cemburu dan posesif karena aku udah pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan. Aku nggak mau terulang lagi. Aku tau ini salah, sebaiknya aku memang tak boleh terlalu mengekangmu." David berhenti sejenak. Ia menarik napasnya.
"Aku salah, salah karena terlalu mencintai kamu."
Mendengar ucapan David, Luna mendekati pria itu dan memeluknya.
"Maaf. Mulai besok aku akan ajak kamu tiap kali ada rapat dengan Arash." David membalas pelukan Luna.
"Pi, Mi ...." ucap Aisha.
David dan Luna serempak memandangi Aisha. Mereka lupa ada Aisha di sana.
*
*
*
Bersambung
Selamat sore semuanya. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir juga ke novel teman mama.
__ADS_1