HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus Dua Puluh. HTG


__ADS_3

Hingga sore hari tamu masih berdatangan. Tamu yang hadir saat ini kebanyakan dari teman sekolah David. Mereka tidak hentinya bersenda gurau.


Aisha telah di bawa masuk ke kamar ditemani bibi. Tadi dia tampak sangat bahagia melihat keramaian orang-orang yang datang.


David yang melihat duduk istrinya udah mulai gelisah, pamit pada temannya dan menghampiri Luna.


"Kenapa? Capek? Istirahat aja lagi. Aku temani ke kamar," ucap David.


"Tamu masih banyak."


"Biar Kak Imelda yang menyambut tamu lagi. Kamu istirahat aja, nanti kecapean, sakit."


David membantu Luna berdiri dan memeluk pinggangnya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tidurlah!" ucap David membantu Luna berbaring.


"Kamu mau kemana?"


"Aku di sini aja temani kamu."


"Nggak usah ditemani. Kamu gabung aja lagi dengan teman-temanmu. Aku tidur sebentar. Kakiku udah kram."


"Aku pijat, ya."


"Nanti aja. Kasihan temanmu. Udah datang dari jauh, malah kamu tinggalkan."


"Tapi nanti kamu sendirian."


"Aku mau tidur, nggak apa. ditinggal sendiri."


David menyelimuti Luna dan menghidupkan AC. Setelah itu dia mengecup dahi istrinya itu.


"Tidurlah, nanti aku bangunkan saat mau magrib." Luna tersenyum dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


David keluar kamar menamui teman-teman sekolahanya.


"Mana istrimu tadi?" tanya Toni.


"Aku antar ke kamar. Capek dari pagi menyambut tamu yang hadir."


"Enak banget jadi David ya. Istri cantik, hidup udah mapan. Anak Lucu, dan saat ini mau menyambut anak kembarnya lagi. Udah sempurna hidupnya. Kapan aku bisa hidup mapan kayak David?" ucap Chandra.


"Wajahmu harus dioperasi dulu, biar tampan," ucap yang lainnya. Membuat semua jadi tertawa.


Saat sedang asyik mengobrol, salah satu teman mereka menunjuk ke arah jalan.


"Kenapa?" tanya yang satunya.


"Mia dan Doni tuh."


Pandangan mereka semua beralih ke jalan, di mana Doni dan Mia sedang berjalan. Mia datang dengan menggendong anaknya.


"Selamat sore, David. Maaf, baru bisa hadir sore. Tadi warung kebetulan rame," ucap Doni.


Ibu David yang melihat Mia datang dengan menggendong putranya langsung menyambutnya.


"Cucunya nenek. Sini Ibu gendong, kamu makan dulu. Bawa Doni," ucap Ibu.


"Iya, Bu. Terima kasih."


Doni dan Mia pamit pada David, mereka mengambil makanna dan duduk di dekat ibu. Aisha yang telah bangun dan mandi mendekati neneknya yang menggendong Azka, anaknya Mia.



"Adik, nek," ucap Aisha.


"Iya, adik Azka namanya. Besok Aisha juga akan punya dua adik dari mami," ucap Ibu David.

__ADS_1


Aisha mendekati Ibu David dan mengecup pipi Azka. Dia juga menowel pipi Azka karena geram. Ibu David menjauhi Azka saat Aisha semakin geram. Ibu takut Aisha mencubit pipi Azka keras.


Luna yang telah terbangun, melihat ada Mia dan Doni, Luna mendekati mereka.


"Selamat sore, Mia, Mas Doni."


"Selamat sore, Mbak. Maaf, kami baru bisa datang sore ini," ucap Mia.


"Nggak apa. Acaranya juga sampai malam. Aisha, jangan ganggu adik Azka terus," ucap Luna melihat Aisha yang terusan menggenggam tangan Azka.


"Aisha cantik banget, mirip Mbak Luna," ucap Mia. Dia memandangi Luna dan Aisha bergantian. Membandingkan kecantikan keduanya.



"Kamu juga cantik banget," ucap Luna.


"Aisha itu cantik, kaya papi-nya," ucap David yang baru datang bergabung dan memilih duduk di samping Luna.



Luna tampak melotot melihat penampilan David dengan kemeja yang terbuka di bagian dadanya. Luna langsung menutupi dengan tangannya dan memasangkan kancing kemeja David.


"Gimana sih, baju dibuka. Masih banyak orang," omel Luna.


"Tadi aku gerah, Sayang. Jangan cemburu, yang bisa lihat tubuhku keseluruhan cuma kamu. Yang lain cuma intip-intip dikit aja," bisik David.


Luna mencubit lengan David mendengar bisikan suaminya itu. David merubah duduknya dan memeluk bahu Luna. Mia hanya tersenyum memperhatikan David dan Luna yang tampak selalu mesra dimanapun.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2