
Luna membawa sepiring bubur yang dibuatnya untuk Aisha. Ia tadi sempat mendengar ibu mengatakan tentang rumah tangga Mia.
"Sini, biar aku yang suapan," ucap David.
"Aku bantu Kak Imelda masak," ujar Luna.
"Kamu duduk aja, biar Imelda aja yang masak," ucap Ibu.
"Ibu benar, Sayang. Kamu duduk aja. Atau tidur di kamarku. Istirahatlah, pasti capek."
"Tunjukkan kamarmu. Nanti biar Aisha tidur dengan ibu. Tempat tidur David kecil. Untuk berdua aja sempit, apa lagi jika di tambah Aisha."
"Gimana, tidur di kamar aja atau penginapan?" tanya David.
"Kalian mau tidur dipenginapan? Apa nggak nyaman tidur di kamar kecil itu?" tanya ibu lagi.
"Tidur di sini aja," lirih Luna.
"Oke, aku antar ke kamar. Kamu istirahat atau mandi dulu. Di sini kamar mandi hanya satu. Dekat dapur. Mandilah dulu."
"Maaf, Bu. Aku pamit, mau mandi dulu."
"Mandilah, setelah itu makan malam. Baru enak istirahatnya."
"Iya, Bu."
"Sini bubur Aisha. Biar Ibu suapin, kamu antar Luna ke kamarmu."
David mengajak Luna ke kamar miliknya. Kamar David hanya berukuran tiga kali tiga meter. Cukup besar untuk ukuran rumah sederhana. Dirumahnya ada tiga kamar. Satu buat Kak Imelda, Ibu dan David sendiri.
__ADS_1
David mengunci pintu kamar. Ia langsung menggendong Luna dan menghempaskan ke tempat tidur dengan pelan.
David menaiki tubuh Luna dan mengecup seluruh bagian di wajahnya berulang kali.
"Udah, David. Nanti kamu kebablasan. Pengin lagi," ucap Luna sambil mendorong wajah David sedikit menjauh.
Namun, David mengindahkan larangan Luna. Ia tetap menyerang wajah Luna dan menghujamkan ciuman bertubi.
Ciumannya turun ke leher. David menghisap dan menggigitnya. Meninggalkan banyak jejak kepemilikan.
"David, udah," ucap Luna lagi.
"Aku pengin banget. Aku bahagia ibu merestui kita. Jadi pengin makan kamu. Sebentar aja. Setelah itu baru mandi."
"Aisha gimana?"
"Dengan Ibu, pasti aman."
"Aku langsung aja ya. Kamu pasti juga udah basah," bisik David. Luna mencubit lengan David gemas.
Luna akui jika David memiliki napsu cukup besar. Ia masih muda dan masih kuat untuk melakukan hubungan kapanpun dan dimanapun.
Untuk mengimbangi David, Luna rajin olah raga terutama senam kegel untuk memperkuat otot **** *.
David memasuki bagian inti tubuh Luna dan menggerakkan tubuhnya cukup kencang agar cepat mencapai puncak.
Namun, ia juga tidak egois. David juga ingin pasangannya puas. Setelah sama-sama mencapai puncak dan pelepasan, David berguling ke samping tubuh Luna.
David mengecup bibir istrinya itu." Terima kasih, Sayang. Kamu memberikan aku kepuasan dan kebahagiaan yang tiada tara. Aku bersyukur, Tuhan pertemukan aku denganmu."
__ADS_1
Luna tersenyum dan membalas mengecup David."Terima kasih juga untuk semua cintamu. Semoga nggak berubah hingga aku menua."
"Kamu mandi dulu ya. Aku sebenarnya pengin mandi bareng, tapi ada Imelda dan suaminya. Jika hanya Ibu, nggak apa."
Luna bangun dan mengambil handuk dari dalam tas, melilitkan ketubuhnya. Luna berjalan menuju pintu. Namun, pinggangnya ditahan dan dipeluk David.
"Jangan hanya pakai handuk gitu ke kamar mandinya. Udah aku bilang, ada suami Kak Imelda. Aku nggak mau mata pria memandangi tubuhnya."
David mengambil kimono dan memberikan dengan Luna. Ia memakai baju dan celana pendek.
David mengantar Luna hingga masuk ke kamar mandi. Kak Imelda yang sedang masak melihat ke arah David.
"Di mana kamu kenal Luna?" tanya Imelda. Selama ini ia hanya tahu kalau David telah memutuskan pertunangan dengan Mia tanpa tahu penyebab pastinya.
"Emang kenapa, Kak?"David bertanya balik.
"Cantik banget dan kaya. Kenapa ia mau denganmu? Pantas kamu melupakan Mia."
"Yang terutama dia sangat baik."
"Aisha hadir sebelum kalian menikah?" tanya Kak Imelda lagi.
David tidak menjawab pertanyaan Kak Imelda hanya menganggukkan kepalanya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung