
David dan Luna hanya diam. Mereka memberi waktu buat ibu untuk mengeluarkan pendapatnya.
"Seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Saat sang anak sudah memasuki usia dewasa dan sudah waktunya menikah, ada banyak keinginan agar mereka menikah dengan orang yang tepat. Seorang ibu yang memiliki anak laki-laki pasti ingin agar anaknya menemukan wanita yang bisa memberi cinta dan perhatian sebaik dirinya, seperti ibu yang satu ini."
Ibu terdiam sejenak. Ia melihat ke arah David yang menggendong Aisha. Ibu juga melihat Luna yang tangannya selalu dalam genggaman David.
"Menikahkah dengan wanita yang memiliki hati tulus dan kebaikan hati. Wanita yang tidak takut mencintai dan dicintai. Seorang wanita yang bisa mandiri, tetapi juga menghormatimu. Dia tidak berjalan di depanmu atau di belakangmu, tetapi dia berjalan di sampingmu, menggandeng tanganmu, saling menopang dalam suka dan duka.Itulah keinginan ibu, semua yang terbaik untukmu."
Mata ibu tampak berkaca. Ia menghapus air mata yang turun membasahi pipinya.
"Dulu kamu masih begitu kecil, tapi sekarang sudah waktunya ibu melepasmu. Satu pesan ibu, selalu katakan pada istrimu bahwa "Wanita yang saya nikahi adalah wanita paling beruntung di dunia", katakan hal itu dan wujudkan. Maka percayalah, pernikahan dan cinta abadi tak hanya ada di dunia dongeng."
Mendengar ucapan ibu, Luna dan David begitu kaget. Air mata juga tumpah di pipi mereka.
David dan Luna berdiri mendekati ibu dan memeluknya. Aisha diletakan David di atas pangkuan ibunya.
"Terima kasih, Bu.Terima kasih sudah menyerahkan seluruh waktumu untuk mengurusku”
"Terima kasih untuk selalu mendorongku melakukan yang terbaik.”
"Terima kasih untuk memaafkanku saat aku berbuat banyak kesalahan."
"Terima kasih sudah membuatku menjadi diriku sendiri untuk memperbolehkanku meraih mimpiku. Luna adalah wanita impianku."
__ADS_1
David berlutut di depan ibunya dan mengecup tangannya. Ibu mengusap kepala David dengan air mata yang terus mengalir.
Luna juga ikutan berlutut di samping David. Ia mengecup tangan ibu mertuanya itu.
"Terimakasih ibu mertua, tanpamu aku tak akan bertemu dengan sosok pria yang kini menemani hari-hariku. Ibu, terimakasih sudah melahirkan belahan jiwaku. Bantu aku membahagiakan anakmu ya Bu."
"Duduklah di kursi!" ucap Ibu.
Luna dan David berdiri dan duduk di sofa samping ibu.
"Kebahagiaan kamu, adalah paling utama bagi ibu. Dua tahun cukup bagi ibu membuktikan jika kamu memang sangat mencintai Luna."
"Setiap ibu, pasti inginkan anaknya bahagia. Jika emang Luna sumber kebahagiaan bagimu, nggak ada alasan bagi ibu lagi untuk nggak merestui."
Setelah satu jam lebih mengobrol, Kak Imelda pamit beranjak ke dapur. Luna ikutan pamit ke dapur, menyusul Imelda. Aisha yang ada dipangkuan ibu minta turun.
"Pi ... pi," ucap Aisha.
"Ibu, turunkan aja Aisha. Biar ia bermain. Pasti Aisha capek di gendong terus."
Ibu menurunkan Aisha dan langsung berlari ke arah David.
__ADS_1
"Apa, Sayang," ucap David dan menggendong Aisha.
"Mungkin putrimu lapar?" tanya Ibu.
"Mungkin juga. Aku minta Luna buatkan makannya dulu."
"Kamu sangat mencintai, Luna?" tanya Ibu tiba-tiba.
"Tentu aja, Bu. Kenapa ibu tanyakan itu?"
"Jika kamu emang mencintainya, jangan sakiti dia. Seperti yang suami Mia lakukan saat ini..Awal pernikahan juga sangat perhatian, ngomong cinta setiap saat. Buktinya saat ini, apa yang ia lakukan ...."
"Kenapa suami Mia?"
"Menduakan dirinya dan sering KDRT."
David tampak kaget mendengar ucapan ibu.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung