HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Seratus. HTG.


__ADS_3

Luna dan David telah siap untuk kembali lagi ke Jakarta. David telah memutuskan untuk kembali, dia tidak ingin Luna akan bertambah sakit hati jika masih berada di desa kelahirannya.


David dan Luna akan mencari tukang di Jakarta saja. Nanti baru di kirim kerja ke kampung.


"Ibu, Kak Imel ... aku pamit. Maafkan jika selama di sini aku membuat kakak sibuk dan capek," ucap Luna mengecup pipi Imelda.


"Kakak senang melakukan semua itu. Nggak pernah merasa sibuk atau capek. Sering-seringlah berkunjung. Jangan kapok. Biarkan aja orang mau bicara apa, yang terpenting kamu dan David saling mencintai."


"Iya, Kak. Aku kembali bukan karena mendengar omongan orang. Perusahaan nggak mungkin aku tinggalkan lebih lama. Begitu juga kafe yang David urus. Sudah cukup liburannya. Lagi pula tiga bulan lagi aku dan David akan kembali lagi untuk merayakan pernikahan kami sekaligus empat bulanan kehamilanku. Doakan aku, David dan Aisha sehat."


"Kakak pasti akan mendoakan."


David dan Luna mendekati ibu yang duduk terdiam. Tampak air mata menetes dari sudut matanya.

__ADS_1


"Ibu, aku dan Luna pamit. Seminggu lagi akan ada tukang bangunan datang untuk merenovasi rumah ini. Itu semua atas keinginan Luna. Kak Imelda juga akan menetap di sini. Bang Johan yang akan kembali ke malaysia sendirian untuk mengurus semua berkas dan barang Kak Imelda yang masih tertinggal di sana." David menggenggam tangan ibu yang telah tampak keriput, tanda penuaan.


"Maafkan jika selama di sini aku ada menyusahkan ibu dan juga merepotkan. Ibu juga pasti capek harus menjaga Aisha."


Tanpa menjawab ucapan David dan Luna, Ibu menangis. Dia memeluk Luna yang berlutut di hadapannya.


"Apa kamu marah dan tersinggung karena ucapan ibu kemarin? Kenapa kamu dan David memutuskan langsung kembali ke Jakarta," ucap Ibu dengan menahan tangisnya.


"Nggak, Ibu. Aku kembali karena ada yang mesti aku kerjakan. Perusahaan juga nggak bisa lama aku tinggalkan. Aku udah ada janji dengan rekan kerja untuk membahas kerja sama kami."


"ibu, dari aku berusia sepuluh tahun. Aku telah ditinggalkan kedua orang tua. Aku tinggal dengan saudara Ibuku. Aku nggak pernah merasakan lagi kasih sayang dari siapapun. Untuk jajan aja, aku harus mencari sendiri, karena mereka hanya menyediakan tempat berteduh. Untuk makan aja terkadang aku tidak diberi." Luna menghentikan ucapannya. Tampak air mata juga telah membasahi pipinya.


"Ketika aku menikah pertama kali dulu, aku sangat bahagia karena mendapatkan keluarga lagi. Namun, ternyata keluarga suami nggak bisa menyayangi aku. Padahal aku telah berusaha menjadi menantu yang baik. Mungkin memang nasibku selalu dibenci."

__ADS_1


David memeluk Luna. Tangis Luna pecah di dekapan suaminya itu.


"Aku berpikir, mungkin kesalahan ada pada diriku. Kenapa nggak ada orang yang tulus mencintaiku?"


"Sayang, jangan berpikir begitu. Aku, kak Imelda dan ibu menyayangi kamu."


"Aku mohon pada Ibu, jika ada tingkah dan sikapku yang nggak ibu suka, katakan padaku. Aku sangat berharap ibu bisa menyayangi aku seperti anak sendiri, seperti ibu menyayangi Mia."


David memeluk Luna erat, melihat istrinya yang terisak menahan tangisnya.


*


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2