HASRAT TERLARANG GIGOLO

HASRAT TERLARANG GIGOLO
Bab Delapan puluh Dua. HTG.


__ADS_3

Luna dan David berhenti dekat sebuah kolam. Di sana terdapat pohon yang rindang. David mengajak Luna berhenti.


"Kamu tunggu sebentar ya? Aku beli minuman dulu. Jangan kemana-mana!" ucap David.


"Iya. Lagi pula aku bukan anak kecil. Nggak akan nyasar. Kalau pun nyasar, aku bisa bertanya."


"Oke, aki pergi sebentar," ucap David dan menjalankan motornya menuju sebuah warung.


Setelah membeli dua botol air mineral,David kembali ke tempat Luna menunggu.


Luna sedang asyik melihat ikan yang berenang saat David datang. Suaminya itu duduk di samping Luna.


"Kasihan lihat,Mia." David berkata membuka obrolan. Luna langsung memandangi David.


"Iya kasihan," ucap Luna.


"Apakah boleh aku membantu Mia. Aku udah ceritakan? Jika ibu menjodohkan aku dan Mia untuk balas budi, karena ibunya telah menyumbangkan satu ginjalnya buat ibu."


"Apa rencanamu untuk membantu Mia?" tanya Luna.


"Aku akan memberikan seorang pengacara untuk membantu proses perceraiannya."


"Setelah cerai, apa bantuan yang ingin kamu berikan lagi?" tanya Luna lagi.

__ADS_1


"Mungkin aku akan mengajaknya ke Jakarta setelah melahirkan. Bisa membantu kamu atau aku nantinya di kafe."


"Maaf, Dav, Itu aku nggak setuju. Bukannya aku nggak ada empati atas nasib yang menimpa Mia. Aku nggak mau Mia bekerja denganku atau kamu."


"Kenapa? Kamu cemburu?" goda David. Namun, di luar dugaan, tampaknya Luna marah dan sedikit bergeser dari duduk semula. Menjauhi David.


David melihat perubahan sikap Luna, menjadi kaget dan heran.


"Sayang, jangan marah gitu?" ucap David mendekati Luna dan ingin memeluknya, namun Luna makin menghindar.


"Aku cemburu? Kamu tanyakan itu. Aku emang cemburu. Apakaah salah?" tanya Luna. David hanya menggeleng.


"Aku nggak ada empati? Aku nggak ada rasa iba. Aku yang tega. Terserah apa penilaian orang denganku setelah tau apa yang terjadi."


"Mereka nggak tau,ini ... dihati ini ...." tunjuk Luna kedadanya."Sakit, sakit sekali menyaksikan pengkhianatan suami dengan mata kepala kita sendiri."


David mendekati, tapi Luna makin menghindar.


"Pasti kamu mengira, aku keterlaluan. Belum tentu kamu melakukan hal yang sama dengan yang Alex lakukan." Luna menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Mungkin awalnya kamu hanya ingin membantu. Namun, siapa yang bisa menjamin apa yang akan terjadi nantinya."


"Sayang, udah. Jika kamu nggak setuju. Aku nggak akan membantu. Aku hanya kasihan melihat dia hamil sendirian, tanpa perhatian suaminya."

__ADS_1


"Aku juga sendirian saat hamil Aisha. Aku juga nggak ada suami saat menjalani kehamilan ku dulu."


Ucapan Luna membuat David kaget. Dia tidak menduga Luna akan berkata begitu.


"Aku benar-benar sendirian dalam menjalani kehamilanku. Masih beruntung Mia. Masih memiliki orang tua utuh. Aku hanya sebatang kara." Luna menghapus kasar air mata yang mengalir di pipinya.


"Apakah ada yang bertanya, bagaimana aku menjalani kehamilan seorang diri. Melahirkan seorang diri," ucap Luna sedikit keras.


"Luna ... aku mohon hentikan. Jangan teruskan. Aku salah. Aku yang salah. Aku nggak akan membantu Mia."


David nggak peduli, Luna makin menghinda'rinya. Ia mendekati dan memeluk Luna. Membawa kedekapan dadanya. Tangisan Luna pecah di dada David.


"Maafkan aku. Jangan teruskan ucapanmu tentang kehamilan itu. Aku nggak kuat," ucap David. Tampak matanya berkaca menahan air mata agar tidak tumpah membasahi pipi.


"Aku bisa memberikan bantuan materi, untuk ia membuka modal,.dan mengirimkan pengacara untuk membantunya. Jika menetap di dekat kita, maaf ... aku nggak bisa," ucap Luna di sela tangisnya.


David masih memeluk Luna erat. Dia masih tampak syok dengan ucapan Luna mengenai kehamilannya.


*.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2