
Felly sudah berada di kantornya, beberapa staff yang tidak menyukainya selalu saja berbisik-bisik saat berpapasan dengannya. Entah karena apa!
Vanesh sudah menodong sahabatnya dengan pertanyaan kesalnya.
"Semalam lu maen ninggalin gue gitu aja!" sungut Vanesha terdengar kesal.
"Gue aja gak tau elu dimana!" cibir Fay tidak mau kalah kesal.
"Isshh, btw lu ama Si Bos ngapain hayoo!" cicit Vanesh dengan sumringahnya.
"Kagak ada, dia cuma anterin gue pulang!" sahut Fay datar.
"Alaaahh... Gak percaya gue!"
"Gak percaya udah, gue bodo amat!"
"Dih nge-gas!"
Fay menaikan sudut bibirnya, keduanya menuju meja masing-masing. Selang beberapa saat bos mereka datang yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih gelap Fay. Dia berhenti sejenak seperti biasa memekik memerintah Fay untuk memasuki ruangannya.
"Ciee... Briefing pagi setiap hari..." goda Vanesh kembali membuat Fay menggelengkan kepalanya.
Dengan segera Fay mempersiapkan berkas yang diinginkan bosnya. Kali ini dia benar-benar mempersiapkan berkas yang benar. Mereka tengah di kejar deadline penyelesaian project perusahaan sekarang ini. Tak lupa Fay menunjukkan jari tengahnya di hadapan Vanesh yang di sambut pekikan tidak suka Vanesh membuat Fay terkekeh puas.
"Ini Pak... Hari ini kita ada meeting dengan klient dan mereka meminta kita menyelesaikan seluruh rangkaian design produk." tukas Fay memberikan informasi seperti biasanya.
Fay adalah asisten khusus manager project dimana posisi manager sendiri di isi oleh Devan yang kini menjadi kekasih gelapnya. Devan menyeringai memeriksa berkas sekilas kemudian menaruhnya di atas meja. Devan bangkit dan menghampiri wanitanya.
"Aku begitu tersiksa dengan rindu ini Fay!"
Devan menarik tubuh Fay, dia juga tanpa basa-basi bahkan tanpa permisi mencuri ciuman pagi dari kekasihnya. Awalnya Fay menoiak dengan mencoba mendorong sekuat tenaga tubuh atasannya. Hanya saja kekuatannya tentu saja tidak sebanding, membuat Fay akhirnya menyerah dan membalas tautan bibir Devan dan menikmatinya.
Bruk!
Dengan perlahan Devan menuntun tubuh Fay menuju sofa di bagian tengah hampir merebahkan tubuh istri orang itu. Fay menutup matanya perlahan, dia juga menautkan kedua tangan di belakan tubuh Devan. Bunyi peraduan kedua bibir mereka terdengar seiring dengan pertukaran saliva mereka yang semakin panas.
"Aaarghhh Dev... Aaargghhh... Jangaaan!" rintih Fay saat jemari nakal Devan mencoba memainkan pintu surgawi kekasihnya.
Keduanya memang sudah melakukan segalanya dalam bercu mbu. Hal yang belum mereka lakukan hanya penyatuan keduanya. Fay masih mempertahankan dirinya, walau bukan karena dia masih suci tetapi dia sadar diri dia adalah seorang istri pria lain. Beruntungnya Devan menghargai apa yang jadi keinginan kekasihnya. Salah satu alasan Fay sulit tidak tertawan hati dengan atasannya itu.
Devan benar-benar memberikan kenyamanan saat Fay membutuhkannya yang tidak dia dapatkan dari suaminya. Berkaca dari kehidupannya yang lalu Harv begitu dingin padanya, dalam sebulan bisa di hitung jari kedatangannya. Bahkan saat telah bersamapun Harv tidak mengetahui apapun tentang istrinya. Harv hanya tahu menuntaskan hasratnya setelah itu pergi seperti biasanya. Tugas sang suami yang menyenangkan istrinya justru diambil alih Devan selama lima bulan terakhir.
Devan benar-benar memanjakan Fay, mereka menjalin hubungan seperti pasangan normal lainnya. Hanya saja status mereka tentu di rahasiakan. Ini juga permintaan Fay, dengan alasan tidak ingin membuat rumor tidak penting di kantornya membuat Devan mengiyakan semua permintaan kekasihnya walau sejujurnya dia kesal atas keputusan sepihak itu.
Dengan sentuhan jemari Devan, Fay telah mengeluarkan pelepasannya. Tanpa di sadari Dev, wanitanya tengah menjatuhkan air matanya. Dengan cepat Fay mengusapnya agar tidak membuat Devan curiga.
"Kamu udah enak Sayaang?" goda Devan.
"Arrghh!" Fay kesal segera menarik dirinya dan bersiap merapihkan pakaiannya yang sudah terbuka sepenuhnya. "Ini di kantor Dev! Bagaimana jika ada orang yang datang dan memergoki kita? Habis sudah nama baik kita berdua!!" umpat Fay mencerca Devan yang memang akhir-akhir ini tidak bisa mengontrol hasratnya.
__ADS_1
"Kamu tenang aja Sayang, tidak ada yang berani memasuki ruangan tanpa seijinku tentu saja. Sekalipun itu Vanesha!" Devan membantu Fay mengenakan pakaian dengan lembut.
Sejenak Fay tersentuh dengan sikap lembut dan hangat Dev pada dirinya. Rasa bersalah itu semakin menggelayut di dalam hati Fay. Tidak seharusnya dia menyakiti perasaan orang lain.
"Sayangg..." bisik Devan di cuping telinga Fay dan menggigitnya. "Bantu aku ya?" pintanya bergetar kembali mencum bu Fay.
Fay terkekeh, dengan sigap dia berjongkok dan Devan mendongak dengan lenguhan lirihnya.
Beberapa menit kemudian...
"Eh buseeet briefing apa yang ampe menghabiskan waktu 20 menit coeg?!" cibir Vanesha pedas.
Fay tidak menggubris cibiran temannya, namun bukan Vanesha namanya jika tidak rusuh.
"Kira-kira extra kiss doang apa tambah goyang?" ejek Vanesha dengan kekehan.
"Pake mulut!!!" sahut Fay kesal atas sikap teman yang tidak pernah bermuka dua itu.
Vanesha membuka mulutnya lebar seolah meyakini semua ucapan Fay saat ini. Setelahnya tidak ada lagi pembahasan yang absurd itu. Keduanya tengah kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Sampai pada waktu jam yang menunjukkan kepulangan mereka Fay menerima sebuah notifikasi pesan masuk.
Tring!
[ Malam ini aku sedikit terlambat, kamu bersiaplah kita akan pergi ke kediaman besar. ]
[ Oke sayaaang, kamu ingin aku memakai baju apa?! ]
Tring!
Fay membulatkan matanya hingga hampir keluar sarangnya 'SI CABULL INI!!'
Fay sampai menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, kemudian dia dengan cepat kembali membalas pesan suaminya yang begitu mesum.
[ Benarkah? Apa kamu yakin orang lain boleh melihat tubuhku? ]
Tring!
[ Will sudah mempersiapkannya di Condo! ]
"Cih, Si Beruang Kutub ini, gak bisa banget di ajak becanda!" rutuk Fay saat membaca balasan cepat suaminya itu.
Vanesha telah pamit lebih dulu, giliran Fay telah selesai membereskan meja kerja dan mematikan perangkat kerasnya. Hanya saja Devan menahannya kembali di ruangan.
"Aarghh Dev, udah yaaa... Aku ada urusan!" pekik Fay dia tidak menyangka semua pria yang dekat dengannya begitu cabul rasanya.
Devan yang sudah tersulutkan hasratnya, berhenti dan tertawa pedih. Pria itu kembali menutup pakaian Fay yang sudah terbuka karena ulah tangan nakalnya. Fay sungguh takjub dengan kemurahan hati Devan, jika saja pria itu adalah pria jahat maka sudah di pastikan Devan sudah bisa menggagahinya sedari awal mereka berhubungan.
"Terima kasih Dev, kamu tidak menyapu bersih harga diriku!" lirih Fay sendu.
Bagai di hantam benda keras hati Dev saat ini, dia sendiri kembali mengenakan pakaiannya. bangkit dan menunggu Fay selesai dengan pakaiannya.
__ADS_1
"Semalaman aku di buat terjaga oleh mu!" tukas Devan membuka obrolan.
Fay mendongak menatap pria di hadapannya yang memang terlihat kusut saat ini.
"Kamu bilang sudah mencintai orang itu? Lantas mengapa kamu bermain denganku Fay?!"
DEG!
Rasanya Fay tengah di tusuk benda tajam tepat di jantungnya saat ini, atau mungkin orang yang menusukkan benda tajam itu adalah atasannya sendiri.
"Maafkan aku..." Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibir Fay yang masih terasa kelu.
"Apa kamu tahu Fay?" Devan menjeda kalimatnya rasa sesak itu jelas terbaca di matanya. "Aku sudah terlanjur mencintaimu!"
Fay telah menjatuhkan air matanya, rasa sesal itu semakin mengurung jiwanya dalam kegelapan. Fay tidak tahu lagi harus mengatakan apa pada pria yang sudah memberikan warna di harinya.
"Tak pernah aku pikirkan, bahwa harapan yang kamu bawa untukku hanya untuk menghempaskanku sekarang Fay! Haha" tawa pilu Devan benar-benar menyayat hati wanita di depannya dia semakin terisak dalam tangkupan kedua tangannya.
"Arrghh!" pekik Devan memukul angin di hadapan Fay dia tidak bisa menyakiti wanitanya.
Devan mendekati tubuh Fay yang bergetar hebat. "Hey, Fay... Walau kamu menyakitiku semua seolah termaafkan begitu saja tanpa kamu ucapkan kata maaf itu sekalipun!"
Fay mengatupkan bibirnya erat dengan air mata yang terus mengalir deras di wajahnya.
"Jangan menangis Sayang, cukup kamu sakiti perasaanku dengan harapan palsumu... Jangan kamu tambah lagi dengan air matamu hm..." hibur Dev yang justru tidak berpengaruh.
"Sssttt!" Devan mengusap lembut wajah basah Fay, berharap air mata itu berhenti sekarang.
"Kamu mau es krim di tempat biasa?" Senyum Devan membuat Fay segera memeluknya erat.
"Maafkan aku Deeev... Aku minta maaaf... Seandainyaa... Seandainya saja... Huhu" pecah tangis Fay kembali dalam dekapan pria penggantinya.
"Aku akan memaafkanmu dengan syarat!" bisik Dev.
"Hah?"
Fay menatap sendu prianya. "Apa itu?"
Devan tersenyum dan mengatakan permintaannya, Felly tersenyum kemudian terkekeh bersama. Felly keluar lebih dulu meninggalkan ruangan atasannya.
"Aaaargghhhh!!"
BBRRRUUUUUKKK!
Seketika Devan melampiaskan emosinya dengan menghempaskan semua barang yang ada di meja kerjanya.
"Faye Yvonnaa... Apa kamu tahu, di saat aku bisa jatuh cinta pada seorang wanita ternyata kenyataannya aku harus kecewa!"
Devan luluh di lantai, bersandar di dinding ruangannya. Tanpa bisa ia tahan lagi air matanya keluar untuk pertama kalinya dia menangis dalam sejarah hidupnya dan semua ini hanya karena seorang wanita.
__ADS_1
To be continued...