
Kediaman Smith, 08.00 PM.
"Apa kamu takut?"
Harv menggenggam tangan Fay di dalam mobil mereka. Keduanya telah berada di kediaman besar Smith. Seperti yang sudah di ketahui bersama. Rumor Fay membuat keluarga besar Smith tentu saja kecewa. Hari ini Harv berencana membersihkan nama baik istrinya.
"A-aku bukan takut, aku hanya malu..." Fay menunduk dengan pandangan yang sudah kabur oleh genangan air matanya.
Harv semakin mengeratkan genggaman tangannya. "Tidak ada makhluk di Bumi ini yang sempurna. Begitu pula istri Harvey Smith!"
Fay berbalik menatap wajah teduh Harv, dia tersenyum lebar dan segera memeluk suaminya. Dua tahun yang lalu suaminya begitu dingin dan angkuh, tidak pernah sekalipun menunjukan wajah yang membuat Fay tenang seperti sekarang.
"Kamu tenang saja, aku akan melindungimu!" tutur Harv membelai lembut rambut tergerai istrinya.
"Aku sungguh mengecewakan Mommy," ucap Fay kembali sendu.
"Terluka dan kecewa tentu wajar, dia menyayangimu seperti putrinya sendiri." Harv kembali di posisinya. Sudah hampir lima belas menit mereka berada di dalam mobil. "Tetapi, aku mengenal Ibuku... Tenanglah, tidak akan ada yang berani mengusikmu.
A few moment later...
"Aku tidak pernah menyangka kamu masih memiliki muka di hadapan kami lagi!"
Jade mendekat dengan langsung menampik kedatangan kakak iparnya. Pria itu baru saja mencoba menerima kehadiran Fay, tapi ternyata, Fay membuat dia kembali kecewa.
"Jade!"
Fay menahan lengan suaminya, mencoba menenangkan dan mengambil bagiannya.
"Kamu benar, aku memang wanita yang tidak tahu diri, aku masih berani menunjukan muka seolah tidak terjadi apapun selama ini!"
"Sudah tahu diri sekarang pergi dari sini! Keluarga Smith tidak akan pernah mau menerimamu lagi!" Jade memekik lantang mengusir keberadaan Fay.
Harv mengepalkan kedua tangannya, ini pertama kalinya dia kecewa pada sikap adiknya.
"Apa ini hanya keputusanmu? Apa Mommy juga tidak menerimaku?" tanya Fay tenang dan mencoba mengendalikan situasi mereka.
"Tanpa perlu Mommy yang mengeluarkan dekritnya, kamu harusnya sadar diri!"
"Kamu berselingkuh dari kakakku! Wanita ja-lang!!"
Plaaak!
"Harv!" pekik Fay terkejut.
Kali ini Harv tidak bisa menahan dirinya saat Jade menghina istrinya.
"Kakak menamparku demi wanita sialan ini?" Jade mengusap pipinya yang panas akibat tamparan keras kakaknya.
"Jaga ucapanmu Jade, Kakak tidak pernah mengajarimu lancang seperti barusan!"
"Kamu menghinanya, berarti kamu menghinaku juga!"
Fay menunduk, ini salahnya. "Aku minta maaf Jade, aku memang tidak pantas untuk Kakakmu."
"Faye!" Harv berbalik menatap tajam istrinya.
"Tapi," kata Fay terpenggal, dia menatap sendu prianya. "Semua orang memiliki kesempatan untuk berubah bukan?"
"Aku memang pernah salah arah, semua karena aku telah salah mengira pada Kakakmu."
"Mengapa semua orang melihatku jahat pada Harv, mengapa mereka tidak mempermasalahkan saat Harv digosipkan dengan wanita lain? Kamu juga mengetahuinya kan, Jade?"
"Saat Kakakmu bersama Angella sekalipun, tidak ada dari kalian yang menyalahkannya."
"Lalu, bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah mencintai Kakakmu tapi dia melukaiku, semua..."
"Cukup!"
Harv menghentikan pertikaian yang jelas akan menyakiti keduanya. "Jika kalian tidak mau menerimanya, aku tidak peduli."
__ADS_1
"Aku yang menginginkannya!"
Harv berbalik menarik tangan Fay bersiap keluar dari kediaman besar.
"Harvey, Faye!" pekik wanita paruh baya yang langsung menghentikan langkah kaki keduanya.
"Huh, masuklah..." Nyonya Jane memberi perintah pada keduanya untuk memasuki kediaman.
"Mom!" hardik Jade tidak terima.
"Jade! Faye benar, selama ini kita tidak pernah memikirkan perasaannya. Kakakmu hanya sedang menerima karmanya. Dia yang pertama kali membuat rumor dengan para wanitanya. Ini tidak adik untuk Faye jika harus membebankan semua kesalahan padanya!"
Bruk!
Semua mata terbelalak saat Fay dengan cepat memeluk nyonya Jane.
"Maafkan aku Mom, aku minta maaf... Aku sungguh dibutakan oleh kecemburuan... Aku mengecewakan Momy..."
Nyonya Jane tersenyum, dia membalas memeluk menantunya erat. "Salah tetap salah, kamu sudah menerima hukumannya. Kamu belajar sesuatu dari kesalahanmu, iya kan?"
Nyonya Jane melonggarkan pelukan, mengusap perlahan air mata Fay.
"Aku sungguh menyesal, percaya padaku Mom, aku melakukannya hanya sekali itupun saat aku sedang hancur-hancurnya. Aku sungguh..."
"Sssttt... Itu sudah menjadi masa lalumu, selama Harv tidak mempersoalkannya, dan selama bayimu ini milik Harv maka, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kita semua mempunyai masa lalu kelam, bukan? Semua bisa diperbaiki..."
"Tapi, seseorang mengatakan bahwa selingkuh itu bad habit. Aku takut, Harv..."
"Tanya sendiri pada hatimu, kamu melakukan hal itu murni untuk bersenang-senang atau hanya membalaskan dendam?"
Harv menunduk dan mendekati wanita terkasihnya. "Mom, Fay sudah lama berdiri... Dia masih dalam perawatan..."
"Ah, maafkan Mommy, cucu Mommy apa kabarnya?!"
"Cih!"
"Apa masih sakit?" tanya Harv khawatir.
"Tentu sajaaa!" rengek Jade menjadi di hadapan kakaknya.
Harv mengusap perlahan dengan kekehan. "Semua ada batasannya, kamu harus diberi pelajaran selalu menindas Fay selama aku tidak melihatnya."
Bibir Jade mengerucut sebal. "Apa sih bagusnya wanita ular itu!"
"Kakak tidak tahu, bagi Kakak, tanpa melihatnya, tanpa merasakan nafasnya, hidup Kakak hampa... Semua yang Kakak kejar sudah tidak ada artinya tanpa keberadaanya."
"Dih bucin!" rutuk Jade setelah mendengar penjelasan kakaknya.
"Tidak masalah, lain kali mungkin kamu yang akan mengalaminya."
"Dih, malas! Wanita itu tidak ada yang tulus, mereka hanya akan melihatku sebagai atm berjalannya."
"Lalu kenapa? Masih mending mereka menganggap kamu atm berjalan. Itu artinya kamu punya sesuatu untuk dibanggakan."
"Sorry gue bukan bucin!"
Harv merangkul mesra adiknya dan mengacak rambut Jade berulang kali sampai pria kecil itu menjerit tidak terima namun menikmatinya. 'Aku benci mengakuinya, Faye membuat Kakak kembali melakukan ini untukku! Ah sebaaal!!'
***
Keesokan harinya...
Pagi hari menyapa dengan indah
Ku tersenyum melihat kau masih lelah
Sudah dengan berbagai cara
__ADS_1
Agar tak terlewatkan hari yang indah
Banyak hal yang tlah kita lewati
Di setiap harinya...
Faye sengaja menginap di kediaman besar sesuai dengan permintaan ibu mertuanya. Dia tengah berada di halaman belakang merendam kaki di kolam renang yang cukup luas. Harv meminta izin meninggalkannya pagi sekali. Pria itu mengatakan memiliki urusan mendadak di kantor.
"Sayang,"
Fay berbalik menatap seseorang yang memanggilnya. Fay melengkungkan senyuman atas kedatangan suaminya.
"Cuaca sedikit dingin, mengapa kamu merendam kakimu!" Harv menunduk mencium pucuk kepala istrinya.
Harv kembali bangkit dan menginstruksikan seorang pelayan untuk membawakan handuk dan sandal rumah untuk istrinya. Fay hanya mampu terkekeh dengan pelayanan suaminya yang diluar ekspektasinya.
"Aku hanya sedang merilekskan tubuhku, Tuan!"
Harv merangkul istrinya dari belakang, tak lama pelayan datang bergegas. "Keluarkan kakinya, aku akan mengeringkannya. Kamu sedang hamil, akan sangat berbahaya jika kamu masuk angin setelah ini."
Fay sudah kehabisan kata melihat begitu manis perlakuan suaminya saat ini. Harv telah selesai mengeringkan kedua kaki Fay. Dia lekas menggendong wanitanya dan mendudukkan perlahan di kursi santai samping kolam. Dengan telaten Harv mengenakan sendal rumah untuk istrinya, Harv memiliki pekerjaan baru sebagai budak istrinya saat ini, dan Faye sangat menyukainya.
'Akhirnya aku bisa merasakan menjadi Ratu yang memiliki Dayang yang tak lain suamiku sendiri, hoho!' batin Fay bersorak riang.
Tak lama Fay merangkul tubuh suaminya dan memberikan kecupan mesra di pipi Harv. Tentu saja Harv meminta lebih dengan mencium bibir istrinya.
"Ehm, maaf Tuan saya mengganggu..." Dengan hati-hati Will menginterupsi kesenangan tuannya.
"Sudah tahu mengganggu untuk apa kamu kemari!" Harv begitu kesal dia belum puas menyesap bibir istrinya.
Fay terkekeh dengan Harv yang mampu berubah seratus delapan puluh derajat dan kembali dingin jika bersama orang lain.
Will menyeka keringat di dahinya. "Ini mengenai kantor cabang di SF, Tuan!"
Mendengar salah satu kantor yang menjadi perhatian khususnya Harv bangkit dengan mimik serius menatap Will.
"Huh," Harv mendengus sejenak dan beralih menatap istrinya hangat. "Sayang, tunggu disini okay..."
"Ya," Fay segera menjawab dengan senyuman cantiknya membuat jiwa Harv melayang-layang.
Tak lama Harv menyingkir dan berbincang serius dengan asisten khususnya.
"Katakan!"
"Gudang persenjataan kita meledak Tuan!"
"Apaaa?!" Harv memekik tidak percaya apa yang dia dengar.
"Siapa yang berani melakukannya?! Cari orang itu hingga dapat, aku sendiri yang akan melenyapkan nyawanya!" Harv berkacak pinggang dengan emosi yang menguasai seluruh tubuhnya.
"Masih dalam investigasi anak buah kita, Tuan." Will menunduk menunggu perintah selanjutnya.
"Aku yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Alex!" Harv terlihat gusar, dia kembali menatap dimana istrinya berada.
Wanitanya tengah tertawa lepas di temani ibunya, kegelisahannya barusan menguap entah kemana. Dia menatap segera asistennya. "Aku akan memeriksa sendiri tempat itu, persiapkan semuanya, aku juga akan membawa Fay!"
Will sedikit tersentak, tidak biasanya tuannya membawa istrinya dalam perjalanan bisnis yang cukup beresiko ini.
"T-tapi Tuan, bukankah ini berbahaya?"
"Aku tahu, tapi..." Harv kembali menatap wanitanya. "Tempat teraman istriku, tentu saja berada di sampingku."
Harv sendiri tidak ingin dikatai posesif, hanya saja untuk meninggalkan Fay kembali hatinya tidak tenang.
"Tuan, Nyonya sedang hamil muda... Menurut yang aku dengar, wanita hamil tidak diperbolehkan bepergian di ketinggian tertentu. Menggunakan pesawat bisa mengakibatkan penurunan kadar oksigen dalam darah, hal ini bisa terjadi karena selama penerbangan tekanan udara menurun."
Harv menatap Will kesal, dia menegaskan rahangnya. "Panggil Yun kemari!"
Will mendengus pasrah dengan titah tuannya yang menurutnya akan mengambil resiko dengan tetap ingin membawa istrinya kemanapun dia berada.
__ADS_1
To be continued...