Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 86 : The Best Day!


__ADS_3

Fay bergegas meninggalkan restoran, dia melangkah pasti menuju salah satu mobil mewah yang terparkir tepat di area lobby restoran.


Braaak!


Fay menutup pintu segera, tak lama mobil melaju keluar kawasan. "Bagaimana penampilanku?"


"Tidak buruk!" Harv menyunggingkan senyuman kemudian menarik tubuh Fay ke dalam dekapannya. "I really miss you,Cutie..."


Harv mencium lekat pucuk kepala istrinya, rasa lega menyelimuti dirinya. Beberapa jam sebelumnya Harv menghubungi Fay setelah dia berhasil landing di bandara. Harv berencana memberikan kejutan untuk istrinya, tapi ternyata dia yang terkejut. Harv menyaksikan langsung bagaimana Alex beraksi mencoba menjebak Fay. Dengan cepat Harv memberikan pesan singkat pada Fay untuk menggiring Alex dan melakukan apa yang sudah terjadi di restoran sebelumnya.


"Apa kamu yakin semua akan berhasil?" Fay menarik diri dan menatap suaminya dengan raut serius.


"Aku tidak yakin, toh aku tidak pernah memikirkan hasilnya." Harv merubah posisinya kembali. "Aku baru mengetahui, bahwa dia sudah mengamatimu sejak lama." Harv berbalik menatap istrinya sendu. "Menggunakanmu memang menjadi senjata terbaik untuk menjatuhkanku."


"Setelah sampai di SF aku benar-benar kehilangan bisnis yang aku bangun selama ini." Harv membuang wajah menatap keluar jendela.


"I'm sorry..." Fay berbicara lirih, merasa tidak nyaman karena ini ada sangkut paut dengan dirinya. Harv harus kehilangan usaha yang dia bangun susah payah.


"You don't have to apologize, you're my wife..."


Fay mengernyit heran dengan jawaban suaminya yang tenang. Bahkan, Harv terlihat tidak seperti tengah kehilangan.


"Kamu lupa Cutie, aku akan melepaskan apapun... Demi kamu seorang..." Harv mengangkat dagu istrinya perlahan.


Sudah tidak bisa disembunyikan lagi dari wajah Fay, rona merah menyelimuti wajahnya sekarang ini. "Aaaa, kamu kang gombal!"


Fay menutup wajah dengan kedua tangannya malu. Debar jantungnya berdetak tidak karuan. Dia tidak percaya, sebelumnya dia sempat terpana oleh rival suaminya. Namun, gempuran aksi suaminya sekarang kembali membuat Fay jatuh cinta untuk kesekian kalinya.


"Haha!" Harv terbahak senang, dia menarik tubuh Fay, memeluknya erat dengan kata candaan lain yang membuat keduanya larut dalam kebahagian. Tanpa mereka sadari Will menatap dari kaca tengah dengan senyuman lebar yang terbit di wajahnya yang tak kalah tampan dari tuannya.


'Aku mendoakan untuk kebahagiaan kalian...' batin Will ikut merasa bahagia dengan keduanya.


***


Di sebuah cafe ternama, terlihat dua orang pasangan yang tengah sama bahagianya, mereka sedang menunggu seseorang.


"Pap!"


"Sheena!"

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan erat melepas kerinduan. Angella mendadak terdiam, walau bagaimanapun dia juga manusia yang memiliki hati nurani. Dia pernah di posisi Sheena...


"Sheena, Papa ingin kamu mengenal seseorang." Tuan Jie perlahan melonggarkan pelukan.


"Ya, aku tahu... Apa dia calon istri Papa yang baru?" Sheena berkata dengan tenang, membuat keduanya salah tingkah bersama. "Hai, aku Sheena, putri kesayangan Tuan Besar Jien Chen." Sheena mengulurkan tangan di hadapan Angella.


Angella segera bangkit, dia menyambut uluran tangan putri kekasihnya dengan senyuman ramah. "Hai, aku Angella Liem..."


"I know, I'm your biggest fan!"


Angella membuka mulutnya perlahan dengan ekspresi takjub tidak percaya.


"Hahaha!" Tuan Jie terbahak melihat kelakuan kedua wanita di hadapannya. "Ayo kita berbincang santai dan menikmati waktu kita dengan perlahan." Tuan Jie menarik kursi untuk putrinya, mereka sudah dalam posisi duduk bersiap membahas sesuatu yang penting dan serius.


"I'm sorry..." Angella membuka percakapan mereka, wajahnya tertunduk lesu.


Tuan Jie tersenyum dan mengusap perlahan bahu kekasih atau lebih tepatnya calon istri barunya. "Apa kalian ingin berbincang berdua saja, atau?" Tuan Jie menatap Sheena meminta persetujuan.


"Tidak masalah Pap, selama ini kita sudah sangat terbuka bukan?" Sheena menyesap minuman yang sudah terhidang. Ayahnya memang paling tahu apa yang ia suka dan yang tidak, tuan Jie telah memesan minuman dan kudapan kesukaan putrinya sebelum Sheena datang.


"Ya, Papa hanya tidak ingin mengacaukan suasananya." Tuan Jie menggoda Sheena yang di balas pukulan perlahan dari putrinya.


Angella menatap pemandangan yang sangat jarang dilihat. Dia ternyata belum sepenuhnya mengenal calon suaminya itu. 'Nak, ternyata Papamu sungguh pria yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang.'


"Karena..." Angella baru pertama kali ini mengalami hal seperti ini. Sebelumnya, dia sangat berani menantang Faye bahkan nyonya Lili sekalipun. Tapi, di hadapan Sheena mengapa nyalinya terasa menciut. "Aku berbahagia di atas kehancuran keluarga kalian."


Tuan Jie menggenggam tangan Angella, memberikannya kekuatan. Pria itu tidak ingin mengambil seluruh bagian memberikan penjelasan pada putrinya. Mau bagaimanapun, kelak Angella adalah ibu sambung bagi putri kesayangannya. Angella harus belajar memahami sisi putrinya.


"Heh," kekeh Sheena terasa menusuk di indra pendengaran Angella, hatinya sungguh sangat gelisah.


"Tante tahu?" Sheena menatap serius kedua pasangan di hadapannya. "Aku tidak pernah melihat Ayahku sebahagia ini sebelumnya. Aku benci mengakui, bahwa ternyata yang dibutuhkan Ayahku adalah wanita sepertimu."


Angella menjatuhkan air matanya, dia menatap tuan Jie. Pria itu mengembangkan senyuman manisnya. "Aku sudah bilang, kamu belum mengenal Sheena. Selama ini, aku lah yang membimbing dia. Mengajarkan banyak hal, bahwa kehidupan selalu memiliki jawaban jika kita bisa melihat dari sudut pandang lain."


"Walau bagaimanapun, orang luar hanya mengetahui bahwa aku adalah pelakor." Angella menyahut dengan menyeka air matanya. Senyuman pahit terpetakan jelas di wajah cantik Angella.


"Aku tidak peduli dengan tanggapan publik!" Tanggapan Sheena menghentak jantung Angella. "Aku tidak dibiayai hidup oleh mereka. Untuk apa aku peduli? Masalah Ibuku, mungkin ini adalah pelajar besar untuknya."


"Hidup yang membohongi dirinya sendiri pada akhirnya hanya akan berhadapan dengan kegagalan."

__ADS_1


"Ibuku beranggapan bahwa roda itu akan diam dan tidak berputar karena tertahan pengganjal. Dia lupa secara alami roda akan terus berputar, saat pengganjal terlepas maka roda akan berjalan dan berputar kemana dia diarahkan. Ibu terlalu fokus untuk memperlihatkan kebahagian semu di hadapan publik. Sampai dia lupa bagaimana menjadi seorang Ibu yang baik untuk putrinya, bahkan dia tidak tahu bagaimana menjadi pasangan yang baik untuk suaminya."


Angella sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Aku tidak tahu, kebaikan mana yang mengantarkan aku mendapatkan kalian. Maafkan aku, aku mencari kebahagiaan diriku sendiri dengan cara yang tidak layak. Tapi, aku bersumpah, aku akan selalu berbenah, belajar menjadi seorang Ibu yang kamu impikan, menjadi temanmu, dan menjadi pendamping Ayahmu di segala keadaan."


Ketiganya larut dalam keharuan, namun mereka tidak ingin berlama-lama dalam kesedihan. Ketiganya melewati kebersamaan dengan suka cita. Sheena memilih untuk tinggal bersama ayahnya, biarkan Ibunya menyadari apa kesalahannya selama ini.


Mansion Angella...


"Huh, next step... Restu keluargamu!" Tuan Jie memeluk erat wanitanya, satu per satu masalah telah terselesaikan.


"Hehe, ehmmm..." Angella tidak tahu harus berkata apa.


"Hanya saja, apa mungkin keluarga besar Liem menerima pria miskin sepertiku? Mengingat, aku sudah tidak punya apapun lagi." Tuan Jie menatap Angella sendu. "Maafkan aku..."


"Actually, aku juga sudah di usir keluarga besar saat aku berurusan dengan Harvey Smith. So..." Angella menggoda suaminya dengan kekehan tertahan.


"Hahaha, kita tidak punya apa-apa?" Tawa tuan Jie menggelegar, bukannya sedih mereka justru bebas tanpa tekanan.


"Ya, begitulah! Hahaha..." timpal Angella ikut terbahak.


Setelah puas tertawa keduanya kembali di posisi duduk mereka. Angella bangkit dan merogoh sling bag miliknya, tuan Jie memperhatikan lekat dengan senyuman yang tidak pernah pudar semenjak bersama Angella.


"Tadaaa!" Angella mengacungkan satu kartu hitam kepunyaannya.


"Apa itu, Honey?"


Angella mendekat, dia duduk di pangkuan kekasihnya. "Untungnya aku belum menggunakan uang yang kamu berikan untukku selama ini. Ini bisa kita gunakan untuk modal usaha. How?"


Tuan Jie memeluk erat wanitanya, dia sungguh terharu. Padahal, Angella berasal dari keluarga besar namun mengapa sifatnya tidak seperti Lili yang angkuh.


"Kamu selalu berkata, kebaikan apa yang membuat kamu bisa mendapatkanku. Sepertinya, itu lebih cocok untukku!" Tuan Jie mulai berkaca, dia tidak pernah merasa begitu dicintai seperti ini oleh seseorang jika bukan putrinya.


"Harvey sempat bilang padaku, Tuhan itu adil... Dia akan memberikan pasangan seperti cermin, lihatlah dirimu di kaca, maka kamu akan memiliki pasangan seperti itu!"


Tuan Jie memagut bibir Angella lembut, berkali-kali dia mengatakan rasa terima kasihnya. "Aku bersumpah, kamu adalah wanita terakhirku, Sayang!"


"Tidak perlu bersumpah, karena terkadang... Janji diucapkan untuk diingkari, tapi niat dalam hati, selamanya akan terpatri."


"Aku menyerah pada Artis Terbaik tahun ini."

__ADS_1


Keduanya kembali saling melemparkan tawa dan candaan. Mereka tidak menyesal akan masa lalu yang sudah terlewati, karena mereka meyakini bahwa hari ini tidak akan pernah terjadi tanpa ada masa lalu yang menuntun mereka sampai sekarang ini.


To be continued...


__ADS_2