
"Aku akan datang segera Cutie..." Dengan wajah yang bersemu merah Harv berujar membuat Will bergidig ngeri mencuri pandang dari kaca tengah akan kelakuan tuannya.
"Tunggu!" hardik Fay segera.
"Ada lagi?" Harv mengerutkan keningnya.
Terdengar di sebrang sana Fay seolah berancang-ancang dengan menghirup nafas dalam kemudian─
"Listen carefully Honey..." ujar Fay mengingatkan lebih dulu. "Kwetiawnya harus di goreng gosong, pedasnya sedang saja jangan sampai terlalu pedas aku gak mau makan nanti malah sakit perut!" oceh Fay memulai perkara.
"Sayurannya hanya boleh tauge!"
"Ingat TAUGE!! Jangan pake sawi."
"Toppingnya hanya sosis yang dipotong serong besar-besar, goreng sampai pinggirannya krispy!"
"Jangan lupa topping acarnya yang banyaaak!"
"Oh iya plus ekstra kerupuk!!"
Fay terus mengoceh tanpa jeda. "Minumannya aku pengen jus jeruuuuk dingin!"
"Tapi aku pengen jeruknya varian mandarin!!"
"Harus JERUK MANDARIN!!"
"Jeruk dengan tingkat kematangan yang pas!"
"Aku tau rasanya!"
"Okey Honey?"
Harv menelan salivanya, matanya masih terbelalak dengan sistem jaringan syaraf yang seolah berhenti sejenak. Pria itu mulai gelisah dan mengusap rahang tegasnya tak lupa dia sekarang menutup mata erat dan terkekeh sejenak.
"Hmm..." Harv berdehem sejenak menghirup udara perlahan dan membuangnya seketika. "Oke, bisakah kamu kirim pesan singkat pada Will apa saja syarat yang diperlukan barusan?" Dengan hati-hati dan lembut Harv meminta kelonggaran berharap istrinya tidak tersinggung dan mau bekerja sama.
"KAMU TIDAK MENDENGARKANKU YAAAAA... HUAAAA!" jerit Fay keras di gendang telinga Harv, suara melengking itu sukses membuat Harv memijit keningnya, seketika beban otak Harv bertambah berapa kali lipat dengan mendengar rengekan istrinya yang bisa jadi hanya berpura-pura atau sungguh nyata tengah kecewa padanya.
"Cutie, buka itu... Aku hanya takut lupa dan salah lalu kamu tidak mau memakannya." bujuk Harv mengharap belas kasih istrinya.
Tutt!
Fay kesal dia menutup sambungan ponselnya membuat Harv melotot seketika. Dia sudah merendahkan diri tapi apa boleh buat istrinya saat ini adalah kasta tertinggi di dalam hidupnya.
"Haiiissh!" berang Harv emosi. "Apa semua wanita hamil selalu bertingkah seperti ini?" tanya Harv pada Will yang tidak tahu apa-apa.
"Ehm... Mungkin Tuan." sahut Will gugup membalikkan tubuhnya. "Apa ada sesuatu?" tanya Will hati-hati.
__ADS_1
"YA!" bentak Harv seketika melampiaskan emosi pada asistennya mungkin jawaban yang tepat.
"Istriku memintaku membeli Kwetiaw goreng dari resto Liang!!" ungkap Harv menggebu. "Di goreng gosong, sayur apa itu namanya... Acar, kerupuk, sosis!! Aku tak pahaaaaam.. Aarghh!!" Harv berujar semakin menggebu terakhir dia memukul jok mobilnya dengan nafas memburu.
"Apa kamu tadi mendengarnya?" Seketika raut wajah Harv berubah menjadi penuh harap menatap asistennya yang serba bisa itu.
"Ehhm..." Will mengerti dia akan menjadi sasaran kekejaman tuannya sebentar lagi. "M-Maaf Tuan... Anda tidak menekan tombol loudspeaker jadi saya─" Dengan gugup dan gelisah Will mengutarakan kondisinya.
"AARGHH!!" pekik Harv terlihat frustasi.
"Suruh koki resto Liang ke rumah sakit!!!" titahnya segera dia beruntung menemukan solusi yang sangat tepat dan cepat. "Jika dia tidak mau, maka patahkan kakinya!!" ancam Harv menatap tajam Will. "Bayar berapapun yang dia mau, dan suruh pihak rumah sakit mempersiapkan dapurnya untuk memasak hidangan untuk istriku!" sambungnya mulai menurunkan rasa kesal dalam dirinya.
"Satu lagi─" Harv membuang nafasnya kasar. "Istriku ingin jus jeruk mandarin dengan tingkat kematangan yang pas."
"Suruh seluruh petani jeruk mengirimkan semua jeruk mandarin dengan tingkat kematangan yang di inginkan istriku!"
"SEKARAAANG!!"
"B-baaikk Tuan..."
Dengan bermanuver menjadi si pria serba bisa Will keluar kawasan sekaligus menghubungi beberapa orang terkait tugas yang di titahkan tuannya.
'Akhirnya ada saatnya Tuanku yang angkuh dikerjai istrinya yang tengah mengidam! Mungkinkah ini karma dari manusia-manusia yang dikerjain Tuan selama hihi...' batin Will antara iba dan juga terbahak melihat kondisi tuannya. 'Indahnya kebucinan...' sambung Will menahan tawanya agar tidak keluar.
Hanya saja sudut mata tajam Harv menangkap gelagat mencurigakan asistennya itu.
"APA KAMU TENGAH MENERTAWAIKU?" bentak Harv tidak menyukai keadaannya saat ini.
"Huh!" Harv mendengus kesal, tapi di satu sisi dia sendiri menahan rasa malu dalam dirinya. 'Ini pertama kalinya aku di kerjai oleh seseorang karena masalah sepele tapi aku sangat menyukainya ternyata. Hahaha Cutie... Lihatlah aku sekarang...' Harv menatap keluar jendela mengulas senyum bahagianya, memikirkan bagaimana tampilan Fay saat ini.
'Kamu pasti tengah cemberut, bersidekap tangan dengan wajah yang menggemaskan! Hehehe'
---
Ruang inap VVIP, Rumah Sakit terbaik dan terbesar negara XY.
Benar saja, apa yang di inginkan Fay di wujudkan suaminya dengan waktu yang lumayan singkat. Wanita beruntung itu tengah tersenyum puas mengusap perutnya yang sudah kenyang maksimal sekarang.
"Terima kasih sayaaaangnya aku!!" pekik Fay girang dengan wajah menawannya walau masih terlihat pucat tanpa ada polesan make up seperti biasanya. "Kamu memang the best husband forever ever!"
Fay memeluk Harv memeluk tubuh suaminya yang sangat setia dan patuh di samping ranjangnya. Tak lama Fay melonggarkan mengapit wajah suaminya membuat bibir penuh itu mengerucut. Otak nista Fay tentu tidak memerlukan waktu lama untuk mengabsennya.
Wajah Harv merona seketika, istrinya tak lain dan tak bukan seperti jelmaan rubah membuat dia takluk sepenuhnya.
"Mmmmm...."
Keduaya berujung bertautan mesra, mereka lupa di hadapan mereka masih ada nyonya Jane dan adiknya yang kini tengah super menganga.
__ADS_1
"Ini rumah sakit OYY!!" sungut Jade menghentikan tingkah pendosa bagi kaum para jomblo seperti dirinya.
"Syirik!" ejek Fay lirih menjulurkan lidahnya. Dia lebih berani menggoda adik iparnya itu. Harv terkekeh dengan kelakuan keduanya.
"Aarh!" dengus Jade terbelalak tidak percaya Fay sangat berani mengatainya sekarang.
Nyonya Jane menggelengkan kepalanya, dia begitu senang ketiganya terlihat sangat akrab saat ini.
"Sudah... Sudaah... Kita pulang sekarang Jade... Biarkan Kakak iparmu beristirahat." seru nyonya Jane menghentikan tingkah impulsif putra bungsunya itu.
"Ck.. Kau sungguh wanita yang beruntung bisa mendapatkan kasih sayang berlebihan dari ibu dan kakakku!" rutuk Jade masih tidak terima.
"Ya aku sangat beruntung, Jadi apa kamu tidak ingin bergabung menyayangiku juga?" Dengan merangkul lengan Harv mesra Fay menggoda Jade tak lupa mengerlingkan matanya. "Dengan begitu kita bisa membuka aliansi sebagai team avenger!" cicit Fay membuat Jade semakin kesal berusaha memukul Faye di depan Harv namun semakin membuat Harv terbahak saat Fay berlindung di belakang tubuhnya.
"HAHAHAHA..." Harv menarik lengan adiknya memeluknya dan mengacak rambutnya seperti saat pria itu masih di bawah umur.
Wajah Jade merona seketika membuat Faye cemburu saat ini. 'Jangan-jangan si Jade ini kelainan jiwa!! Patut di curigai nih...' batin Fay menyelidik tidak suka.
Perasaan nyonya Jane semakin membuncah, dia sangat bahagia melihat Harv dengan senyuman dan tawa lepasnya. Serta Jade yang manja pada kakaknya. Tidak ada lagi yang di inginkan nyonya Jane selain keharmonisan keluarganya. 'Terima kasih Fay, kamu membawakan aura yang positif untuk putra sulungku bahkan untuk keluarga besar kami... Mommy mendoakan kebahagianmu selalu...'
Tak lama kemudian anggota keluarga Smith itu pamit dan keluar dari rumah sakit. Fay kembali menggelayut manja di tubuh Harv yang tegap sempurna.
"Kamu sangat manja sayang." Harv mencium pucuk kepala istrinya lembut.
"Tidak ada salahnya manja pada suamiku bukan? Di banding manja sama orang lain..." cicit Fay menggoda dengan candaan yang Faye tidak tahu itu dark joke bagi Harv yang sudah mencium bau perselingkuhannya.
Deg!
'Faye, hanya kamu seorang yang sangat berani menyakiti perasaanku dengan melakukan perselingkuhan di belakangku!' batin Harv sekuat tenaga tidak menunjukan emosinya di hadapan Fay saat ini.
Harv membutuhkan sesuatu untuk meredam emosinya, dia menarik tengkuk leher istrinya dan melu mat kasar segera. Fay sempat tersentak, tidak pernah suaminya bermain kasar seperti ini. Fay mencoba membalas tautan keduanya dan melayani hasrat suaminya dengan patuh sampai──
"Aaarghh!!" Fay mendorong tubuh Harv sekuat tenaga saat pria itu menggigit sudut bibirnya.
Harv tersadar, dia segera menyeka sudut bibir istrinya yang berdarah dengan penyesalan yang menggelayut di dadanya. "I'm sorry Cutie..."
"Apa kamu marah padaku?" tanya Fay menyelidik sendu.
Fay mengira permintaan aneh-anehnya itu mungkin membuat suaminya kesal sampai dia tega menggigit kasar bibirnya. Fay sudah hafal dengan sifat Harv selama pria itu meminta hak biologisnya. Selama setahun terakhir Harv mana pernah bermain kasar padanya.
"Bagaimana bisa aku marah padamu Cutie?" sahut Harv terdengar pilu menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya.
"Maaf..." lirih Fay menundukan wajahnya. "Lain kali aku tidak akan meminta yang bukan-bukan." Fay terlihat begitu menyesal atas kelakuannya yang seperti besar kepala saat ini. Padahal jauh sebelumnya Fay adalah sosok yang mandiri, tidak pernah ingin bergantung atau mengandalkan suaminya.
"Heh... Sayang..." Harv terkekeh sejenak dan mengangkat dagu istrinya perlahan. "Apa kamu lupa? Suamimu ini sangat suka jika wanitanya bergantung penuh pada dirinya. Dengan begitu aku bisa membanggakan diriku sendiri bahwa sudah menjadi tumpuan hidup istriku..."
"Aku sangat mencintaimu Faye..."
__ADS_1
Kedua netra mereka bertemu dan berusaha menyelami ke dalam netra mereka. Fay melebarkan senyuman manis dia memeluk prianya erat. "Aku juga sangat mencintaimu Harv..."
To be continued...