
Ceklek...
Fay dan Will terpaku saat tuan muda mereka telah selesai membersihkan dirinya. Fay sendiri tengah membulatkan kedua matanya saat melihat tampilan Harv yang dengan hanya menggunakan handuk kekecilan dililitkan seadanya menutupi bagian sensitif si pria. Harv yang melihat langsung respon istrinya langsung menaikan sudut bibirnya.
"Apa kamu tergoda padaku Cutie? Air liurmu udah tumpah tuh!" canda Harv mencairkan suasana.
Fay yang semula membuka mulut lebar kini mengatupkannya cepat dengan gelisah membuang wajahnya. Rona merah tak bisa di sembunyikan Fay di wajahnya yang masih terlihat pucat. Harv semakin gemas ingin sekali menyelesaikan istrinya saat ini juga!
Dengan telaten Will membantu Harv mengenakan pakaiannya, Fay sampai tertegun kagum atas kekuasaan suami diatas kertasnya itu. Bahkan Asisten William sekalipun dia pria, saat ini justru tak ubahnya seperti dayang istana yang tengah membantu rajanya berkemas.
'Menjadi istri Tuan Muda Smith sungguh membuka wawasanku akan kenyataan bahwa aku sebenarnya adalah kaum missqueen yang mendadak kaya setelah menjadi bagian dari transaksi gelap mantan dan adik angkat lucknut!' batin Fay mengejek dirinya.
"Apa kamu membawakan makanan kesukaan istriku?" tanya Harv segera pada asistennya.
Fay menahan senyum culasnya, prianya tengah menunjukan sikap aligatornya dimana dia akan melambungkan angan Fay yang mungkin kembali menariknya ke dasar jurang tanpa ada aba-aba seperti biasanya.
"Sudah Tuan, milik anda juga sudah saya bawakan. Semua sudah terhidang di meja." sahut Will hormat.
"Bagus!" puji Harv telah selesai dengan pakaiannya. "Apa pekerjaanku berikutnya? Jika tidak begitu penting maka mundurkan semua jadwal pekerjaanku sampai istriku pulih! Aku akan berada di rumah sakit selama Fay disini..." titah Harv dingin menatap serius asistennya.
"Baik Tuan," Will menunduk mengerti. "Ada hal lainnya yang ingin saya sampaikan," Will menatap Harv dengan tatapan yang lain.
Harv mengerti maksud asistennya. "Hmm, tunggu aku di luar..."
Willbmenunduk dan bersiap beringsut mundur. "Saya pamit Nyonya, jika ada yang anda butuhkan jangan sungkan menghubungi saya!"
"AKU SUAMINYA! TENTU SAJA DIA BUTUH AKU BUKAN KAMU!!" pekik Harv cemburu.
Will tidak tahu ternyata tuannya se-agresif ini pada tingkahnya, Will meminta maaf dengan menundukan tubuh berkali-kali kemudian keluar dengan segera. Fay kembali di buat takjub dengan perubahan sikap Harv yang terlalu mendadak ini.
"Cutie..." Harv mendekati ranjang Fay dan memberikan kecupan selamat pagi untuk kedua kalinya.
Debar jantung Fay sungguh tidak bisa dia kendalikan, sekalipun itu rona wajahnya yang memerah akibat terlalu panas suhu diruangan saat ini.
"Aku suapi ya?" tawar Harv mengambil nasi hainan yang sangat di gemari Fay sebagai sarapan paginya.
"Aku tidak lapar..." tolak Fay datar sembari menahan gejolak rasanya.
Harv terdiam sejenak. "Aku senang, pada akhirnya aku bisa mengetahui sikap aslimu Fay!"
DEG!
__ADS_1
"Jadi selama ini, kamu hanya berpura-pura patuh padaku. Kamu sungguh definisi seorang istri yang tidak akan pernah mengecewakan suamimu bukan? Kamu pandai mengendalikan segalanya!" imbuh Harv sendu.
"Aku sungguh minta maaf, selama ini aku─"
Fay kembali merubah raut wajahnya yang datar menjadi sendu, dia tidak menyangka kali ini Harv peka akan kondisi dirinya.
"Untuk apa Tuan meminta maaf padaku? Saat ini aku hanya sedang kecewa pada diriku sendiri tidak bisa lebih lama menahan diri untuk tetap seperti Fay yang anda inginkan." ujar Fay lirih membuat hati Harv benar-benar seperti di hujam benda keras.
"Cutie..." panggil Harv semakin merasa bersalah. "Bukankah kita telah sepakat?"
"Harv, kekasihmu sudah kembali... Apa kamu tidak ingin bersamanya? Kita berpisah ya..."
DUUUAAAR!
"FAYE YVONNAA!" maki Harv berang bangkit dari duduknya.
Fay telah menjatuhkan air matanya, Harv kembali tersadar. Dia segera mengontrol emosi dalam dirinya.
"Sayangku Faye Yvonna, bukankah kamu sudah sangat tahu jawabanku!" Harv kembali mendekati istrinya.
"Selamanya istriku hanya ada satu, yaitu Faye Yvonna Smith!"
Fay menelan salivanya, dia membuang wajahnya agar tidak bertemu kedua netra suaminya yang selalu memiliki daya magis seolah menghipnotisnya. Fay harus meneguhkan dirinya untuk keluar dari jeratan kelabu dari pernikahan kontraknya ini.
Fay menutup erat kedua netra yang sudah menjatuhkan air matanya. Bukan sulit menerima, hanya takut kembali terluka. Itu alasan Fay selalu mencari pembenaran bahwa suaminya hanya mengada-ngada saat ini.
"Aku mencintaimu Faye, semenjak aku bertemu pertama kali denganmu... Aku sudah tertarik padamu!"
Harv menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Angella hanya bagian dari masa laluku... Dulu mungkin aku memiliki perasaan padanya, tapi saat ini dengan yakin aku mengatakan aku tidak memiliki rasa apapun lagi terhadap dirinya."
"Aku minta maaf atas rumorku dengannya, seharusnya aku tidak mengikuti permainannya mengantarkan dia ke hotel karena dia tengah─"
"CUKUP!"
Fay menghentikan penjelasan suaminya, dia tidak ingin mendengarkan apapun lagi mengenai hal yang membuatnya sakit selama ini. Harv terdiam, dia yakin Fay tengah cemburu. Satu sisi dia senang mengetahui istrinya cemburu sisi lainnya tidak mudah meyakinkan Fay akan perasaannya.
"Pergi dari sini, aku ingin istirahat..." usir Fay kembali membuang wajahnya dan menarik tangan dalam genggaman suaminya.
Tidak pernah dalam hidup Harv menerima penolakan seperti ini dari orang lain. Harv menatap istrinya sejenak, dia kembali ingat bagaimana Fay bersikap impulsif semalam.
"Oke Honey, aku mengerti... Tapi aku akan terus berusaha meyakinkanmu bahwa cintaku ke kamu benar adanya!" Harv bangkit dan mencium kening Fay sejenak kemudian pamit keluar.
__ADS_1
Fay kembali menjatuhkan air matanya, ingin rasanya dia membanting apapun yang ada di hadapannya saat ini.
"Aaaaarrrghhh!" pekik Fay setelah pintu ruangan tertutup dengan menghilangnya tubuh Harv.
Harv yang baru menutup pintu ruangan mengepalkan tangannya erat, jeritan istrinya terasa begitu menusuk hatinya. Dia menyuruh anak buah yang lain memanggil perawat memeriksa kembali kondisi Fay saat ini. Will masih menunggu dengan setia di depan ruangan dia merasa iba pada kondisi tuannya saat ini.
"Katakan..."
"Pihak kepolisian telah mengusut kecelakaan yang melibatkan Nyonya, hanya saja─" Will mulai menjelakan dengan sangat berhati-hati.
"Apa?"
"Berdasarkan dari kamera pengawas setempat, Nyonya melanggar dengan menerobos lampu lalu lintas dan menyebabkan kecelakaan terjadi." imbuh Will perlahan. "Pihak kepolisian memberikan surat edaran bahwa Nyonya dinyatakan melakukan pelanggaran dan dikenakan pasal berlapis karena korban saat ini dalam kondisi koma!"
Harv kembali mengepalkan tangannya erat, seluruh emosinya menguar dari tubuhnya membuat atmoser di sekitaran menjadi lebih dingin dari sebelumnya.
"Tidak hanya itu, pihak keluarga korban menuntut Nyonya untuk bertanggung jawab atas kecelakaan ini." sambung Will kembali menjelaskan seluruh informasi yang dia dapatkan.
"Apa kamu benar sudah memeriksa kebenaraan kamera pengawasan?" tanya Harv meyakinkan.
"Sudah Tuan, Nyonya benar─" Will tidak berani menyelesaikan kalimatnya.
Harv menegaskan rahangnya, dia berkacak pinggang. Rasanya dia ingin membunuh seseorang kali ini.
"Siapkan pengacara terbaik untuk kasus ini, jika dalam tuntutan hanya mengarah pada sejumlah materi maka berika semua yang mereka inginkan!"
"Kamu sudah sangat tahu bukan, aku tidak ingin Faye tahu kasusnya ini. Anggap ini hanya kecelakaan biasa, dan dia harus di bebaskan dari tuntutan hukum secepatnya!"
"Di mengerti, tapi Tuan─"
"Apa lagi?"
"Bukankah lebih baik Nyonya tahu apa saja hal yang sudah anda lakukan padanya... Dengan begitu saya harap Nyonya bisa membukakan hatinya untuk anda dan menerima cinta anda yang tulus pada Nyonya selama ini."
Harv terkekeh culas, dia tidak menyangka asistennya berani mengguruinya saat ini. "Tidak perlu, hal yang seperti ini tidak perlu dia ketahui. Aku hanya ingin menjadi pelindungnya tanpa dia ketahui dengan begitu aku bisa lihat ketulusan hatinya padaku benar atau hanya sekedar balas budi semata."
Harv meninggalkan Will tepat setelah para perawat keluar dari ruangan Fay. "Apa istriku baik-baik saja?"
"Nyonya sudah mulai membaik, jika tidak ada hal yang mempengaruhi emosinya mungkin besok Nyonya sudah bisa keluar dari rumah sakit. " Salah satu perawat menjelaskan pada Harv.
"Apa aku bisa menemuinya sekarang?" tanya Harv kemudian.
__ADS_1
Si Perawat mengernyitkan keningnya kebingungan atas pertanyaan tuan muda Smith. Harv terkekeh, dia mengisyaratkan dengan tangan agar mereka kembali ke tempatnya.
To be continue...