Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 79 : Revenge


__ADS_3

Di ruang makan keluarga Luke beberapa orang tengah berharap-harap cemas. Ada juga yang tengah merasa miris dan pasrah.


"Kerja sama bisnis apa yang kalian inginkan? Apa itu sepadan?" tanya Harv menekan.


"T-tentu saja, bukankah anda menikahi putri kami sebagai istri sah anda. Ini jelas sepadan..."


Dengan tidak tahu malu tuan Luke seolah tengah menjual Fay pada Harv untuk kedua kalinya. Fay sudah menjatuhkan air mata. Dia kembali ingat bagaimana dia terbangun dan bernasib sial harus terikat dengan Harv atas perbuatan mantan kekasih dan adik angkat yang menjualnya.


"Hahaha..." Harv tertawa mengerikan membuat yang mendengar merasa justru ketakutan. Tidak dengan Fay yang jiwanya memang sudah tidak ada disana.


"Kalian sungguh keluarga lucu!" Harv mengisyaratkan tangan pada Will, asistennya mengerti.


Will menyerahkan cerutu besar pada tuannya, Harv segera menerima dan menautkan di jemari tangannya. Tak lama Will sudah menyalakan cerutu dengan korek cricketnya. Harv menyesap dalam dan menghembuskannya seperti berada di kawasannya sendiri.


Tidak ada yang berani menyela perbuatannya, jangankan menyela untuk bisa menatap Harv saja mereka sudah tidak berani.


"Will!"


"Ini Tuan..."


Will menyerahkan beberapa dokumen pada tuannya. Harv segera menerima dan membacanya sekilas. Dia tersenyum sinis menatap tuan Luke yang sudah membanjiri tubuhnya dengan keringat dingin.


"Apa kalian tahu dokumen apa yang ada ditanganku?" tanya Harv normal menunjukan satu map berkas yang masih abu-abu di depan sebagian orang.


Semua orang kompak menggeleng kecuali Fay yang masih terpaku di tempatnya.


Harv mendorong berkas ke arah tempat duduk tuan Luke. "Di sana jelas terbaca surat pemutusan ikatan keluarga. Apa kalian tengah mempermainkanku?"


DEG!


Jantung tuan Luke seolah tengah di paksa melakukan kinerja lebih cepat dari sebelumnya. Fay mendongak, dia tidak menyangka apa yang sedang Harv lakukan saat ini.


"Kalian mengadopsi Fay lima belas tahun yang lalu, kemudian memutuskan hubungan dua tahun yang lalu tepat saat aku menemukan Fay dikamarku!"


Semua orang tercengang termasuk Fay, mereka menatap Harv dengan perasaan campur aduk.


"Apakah pantas seorang yang mengatakan dirinya orang tua membuang anaknya? Orang tua kandungnya saja tidak pantas kalian pun tidak!!"


Semua orang sudah merasa tercekik dengan ucapan Harv yang begitu menusuk.


"Aku baru pertama kalinya melihat orang yang membuang anak, bisa membuang dengan muka tidak bersalah seperti kalian!"

__ADS_1


"Bahkan hebatnya, saat anak angkat kalian bersinar kalian ingin menarik kembali ludah yang sudah kalian buang?"


"Dengar Tuan Luke, karena Faye sudah memutuskan hubungan dengan kalian maka dia sudah tidak ada kewajiban lagi dengan kalian. Kalian mau miskin, sakit, bangkrut atau apapun. Jangan pernah mencarinya untuk meminta bantuan!"


Harv bangkit, dia sungguh tidak ingin melihat lagi istrinya menangis pilu seperti saat ini. Dia memposisikan dirinya di belakang Fay.


"Apa mereka pantas untuk kamu tangisi Faye?" Harv menaikan wajah Fay.


Fay mendongak menatap keluarga angkatnya dengan berderai air mata. "Angkuhlah sedikit Honey, aku tidak ingin lagi mendengar atau mengetahui kamu kembali lagi pada mereka tanpa seijinku."


"Lihat mereka, tidak ada satupun dari mereka yang akan peduli padamu. Baik dulu, sekarang, ataupun nanti. Mereka akan tetap sama, mereka adalah orang munafik yang senang memanfaatkan keadaan." tekan Harv menyadarkan Fay.


"Kau tahu Harv, apa yang menyedihkan dari kisahku?" Fay mengeluarkan kata dengan susah payah. Harv menurunkan kembali tangannya dan berdiri tegak di belakang istrinya.


"Aku menggantungkan harapanku terlalu besar untuk memiliki sebuah keluarga bahagia."


"Aku pikir, aku akan menjadi salah satu anak panti yang bahagia bisa dipilih oleh sebuah keluarga yang menginginkanku." Fay terus mengalirkan air matanya. "Aku sudah menunjukan semua sikap patuhku, aku sudah mencoba menjadi anak yang baik menurut versi kalian. Aku selalu menuruti setiap perintah yang kalian berikan walau tidak sejalan." Fay bangkit menyeka air matanya.


"Aku selalu bertanya-tanya, untuk apa kalian mengadopsiku jika pada akhirnya kalian kembali membuangku?! Haha..." Fay mendongak memaksakan untuk tidak menjatuhkan air matanya. "Aku membenci segalanya!"


Harv mengepalkan tangannya, dia ikut merasakan jika menjadi istrinya. Ingin rasanya dia menarik Fay dari sana saat ini juga, tapi tidak... Wanitanya harus menyelesaikan menyapu bersih harga diri keluarga angkatnya.


"Aku tahu, kenyataan hidup itu penuh dengan rasa sakit dan penderitaan." Fay kembali menyelesaikan apa yang ingin dia keluarkan dalam benaknya.


"Saat kita merasakan terluka, maka kita akan belajar untuk membenci. Saat kita belajar menyakiti orang lain, maka kita akan dibenci. Namun, mengetahui rasa sakit yang kita alami, hal itu juga memungkinkan kita untuk tumbuh, rasa sakit juga memungkinkan kita untuk menjadi lebih baik."


"Dan bagaimana kita tumbuh, itu tergantung bagaimana kita memilih... Hidup selalu tentang pilihan, kita berhak memilih mana yang mau kita perjuangkan."


Fay sudah berada di samping Harv dan merangkulkan tangan dengan senyuman hangat seperti sebelumnya. Fay sudah melepaskan seluruh beban yang selama ini mengganjal hatinya. Dendam tidak akan pernah bisa membuatnya hidup dalam kedamaian. Maka yang perlu dilakukan melepaskannya.


Harv begitu takjub dengan istrinya yang jauh dari ekspektasinya. Dia sungguh bangga pada Faye, dengan cepat dia mencium bibir Fay membuat semua orang tambah terbelalak.


"I love you Faye... Selamanya kamu adalah istriku." tutur Harv menyeka bibir istrinya.


"Yes I'm," sahut Fay mengerlingkan mata menggoda, Harv menutup matanya dan tertawa lepas membuka pikiran seluruh keluarga Luke.


Keduanya segera keluar dari rumah yang besar namun pemiliknya memiliki hati yang sempit.


"Will, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan pada mereka," titah Harv menekan sebelum benar-benar keluar.


Will mengerti, dia menundukan tubuhnya. Kedepannya mungkin tidak akan ada nama Luke lagi di negara XY.

__ADS_1


Di dalam mobil Harv.


"Huaaa!!"


Sudah setengah jam berlalu Fay masih meraung di dalam Bugatti La Voiture Noire milik suaminya. Pria itu tidak bisa melakukan apapun selain menjadi sasaran amukan Fay saat ini. Entah dipukul bahunya atau bahkan sebelumnya lengannya digigit Fay karena emosinya yang memuncak.


"Sudah boleh pulang, Sayang?" tanya Harv hati-hati.


"Tidaaak! Aku masih mau menangis di sini!" bentak Fay tidak mengijinkan Harv menjalankan mobilnya.


"Huaaa!" Fay kembali meraung, walau dia terlihat tegar sebelumnya nyatanya hatinya masih merasa sakit.


"Haiishh..." Terdengar lirih Harv menghembuskan nafas beratnya.


"Kamu tidak suka ya?" pekik Fay kembali mencari masalah menatap nyalang suaminya. Harv hanya menunjukan senyum terpaksa. Hari ini hingga wanitanya melahirkan dia yakin dia akan menjadi pria paling sabar di dunia hanya di hadapan istrinya tentu saja.


"Aku suka, aku suka kamu menangis, tertawa, menjerit, merintih, dan lainnya. Apapun yang kamu lakukan aku menyukainya," ucap Harv bangga.


Fay menghentikan tangisnya, dia justru berharap suaminya sedari setengah jam yang lalu memakinya atau menekannya justru tidak sama sekali. Fay merasa usahanya sia-sia sekarang ini.


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Fay konyol.


"Heh, apa tidak ada pertanyaan lain? Aku sudah menghitungnya dan aku sudah menjawabnya ini sudah pertanyaan ke-50 setelah kamu masuk mobil dan menangis setengah jam lalu hingga sekarang ini." Harv menjawab dalam satu kali tarikan nafas.


"Jawaaab~" rengek Fay manja, tidak peduli kalimat sanggahan Harv sebelumnya.


"Hmm..." Harv mengambil nafas panjang, Fay mulai mengatupkan bibirnya bersiap menahan tawanya.


"Aku tidak sekedar mencintaimu, aku memujamu Honey... Aku─" Harv menjeda kalimatnya kali ini jawabannya terdengar begitu serius dari sebelumnya. "Aku sempat berpikir dari setengah jam yang lalu, apa ada kata yang lebih agung dan tinggi dari cinta? Aku sendiri tidak yakin apa ini sudah mewakilkan dan mendeskripsikan apa yang aku rasakan padamu saat ini. Perasaanku padamu selalu sama dan justru semakin kuat di setiap harinya." Harv menatap Fay hangat, menarik kedua tangan istrinya dan menciumnya lekat.


"Aku memujamu Faye Yvonna, I mean I love you more than I can say... A lot of─" Harv tidak percaya hatinya seperti dihantam benda keras saat ini sampai-sampai katanya tidak bisa keluar dari esofagusnya.


Dengan cepat Fay memeluk prianya begitu eratnya. "Kau menyebalkan Harv, kamu paling tahu membuat hatiku terjatuh tepat di mana ia inginkan," bisik Fay sangat bahagia.


Fay melonggarkan pelukan, terlihat Harv telah tersenyum lebar menghiasi wajah tampannya. Fay mengapit wajah Harv dengan tangan. "Honey, you're mine and I'm yours! Jadi jangan harap ada wanita lain yang menggodamu atau aku akan membuat perhitungan dengannya, denganmu juga!" ancam Fay dengan wajah cemberutnya.


Tanpa perlu jeda panjang Harv memagut bibir Fay dengan lembut namun menuntut. Fay melingkarkan tangan di belakang kepala prianya. Keduanya menikmati hisapan bibir mereka yang terus dirasa semakin liar. Dengan cepat Harv mendorong kursinya ke belakang memberi ruang yang cukup untuk mendudukan Fay di atas tubuhnya.


"Harusnya itu naskahku, Cutie!" ucap Harv dengan seringai menggodanya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2