Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 06 - Love is Blind


__ADS_3

"Oi! Ngeloyor aja... Say hello gitu..." umpat Vanesha menyambut kedatangan sahabatnya.


"Hallo..." sahut Fay datar bahkan terkesan acuh mengabaikan sahabat satu ruang kerjanya.


Vanesha mengernyitkan kening takjub dan segera menghampiri meja kerja Fay.


"It's ghibah time!" pekik Vanesha mendekat. "Lu cuti kok suram?" tanya Vanesha kepo dan bersemangat.


"Suka hati gue... Gue sebenernya butuh cuti banyak but reality say that I need to cover my money for buy any GIVENCHY!"


"Shut up!" olok Vanesha. "Serius lah dikit... Kekasihmu seharian kemarin uring-uringan semua orang kena omel dia!" sambung Vanesha kembali menuju meja kerjanya.


Fay mendelik terkejut membuat sudut bibir Vanesha terangkat. "Ciee... Mulai ada kepedulian ya~" ejek Vanesha.


"Heh... Aku cuma heran kok dia bisa uring-uringan? Kan gak ada kerjaan yang urgent juga."


Vanesha mengangkat bahu menyudahi pembicaraan mereka saat melihat batang hidung bosnya di depan mata.


"FAYE bawa berkas tender HiTech!" pekik Devan nyaring membuat Fay menyeringai geli.


'Bilang aja mau ketemu gue, sok-sokan nyuruh kerja sepagi buta ini!' umpat Fay dalam hatinya. Wanita itu segera bangkit dan menyerahkan apa yang di inginkan bosnya walau sejujurnya dia mengambil file sembarang.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Fay segera memasuki ruangan, betapa terkejutnya dia saat tengah menutup pintu tubuhnya langsung di rengkuh atasan sekaligus kekasih gelapnya.


"Mmm.... Mmmmmcchhh.... Mmm!"


Bunyi decit peraduan tautan keduanya mulai terdengar. Devan begitu kesal seharian kemarin Fay tidak bisa di hubungi setelah sambungan putus sepihak.


"Dev!! Ini jam kerja..." hardik Fay mendorong tubuh Devan.


"Kamu kemana aja sayang? Aku sungguh merindukanmu... Kamu beneran ke Antartika?!" tanya Devan polos.


"Hahaha..." pecah tawa Fay dengan tingkah atasannya.


'Selalu saja, setiap kali aku kecewa pada suamiku... Aku memiliki Devan yang menjadi penghibur laraku... Heh, apa aku harus beruntung atau─'


Keduanya kembali bertautan mesra sebelum benar-benar mereka akhiri karena deadline pekerjaannya.


Fay kembali duduk di meja kerjanya dengan air muka yang lebih cerah di banding sebelumnya.


"Buseeeet abis di absen Si Bos langsung sumringah! Bukan main andaaaa..." cibir Vanesha memang tidak pernah munafik jika ingin mengejek tanpa perlu menusuk di belakang Fay. Melainkan langsung mengutarakan di depannya.


"Hang out-nya malam ini gimana?!" ajak Fay pada Vanesha dengan senang hati tentu saja sahabatnya itu menyetujuinya.


---


Night Club, kota XY.


Fay dan Vanesh keduanya telah berada di sebuah club malam yang cukup besar dan terkenal di kota XY. Bunyi dentuman musik EDM yang mulai terdengar di i dra pendengaran keduanya membuat mereka menyeringai dan adu jotos bersama.


Dengan pakaian formal mereka sebenarnya terasa menggelikan. Tapi apa mau dikata, Fay ingin melampiaskan kekesalannya dengan minum dan bergoyang di area dance floor. Dengan begitu dia harap dia bisa kembali seperti semula saat Harv selalu meninggalkannya.


"Lebih seru kalau kita sewa gigolo!" pekik Vanesha tidak tahu diri membuat Fay membuka mulutnya lebar.

__ADS_1


"Ogah! Gue lagi gak mau berurusan sama cowok manapun!" tolak Fay dia segera menuju meja bartender memesan cocktail seperti biasanya.


Greep!!


"Ternyata disini!" bisik seseorang yang di hapal Fay membuat wanita itu refleks membalikkan wajahnya dan─


Cup~


"Eheeeemm!!" seru Vanesh menghentikan ciuman singkat keduanya.


"Mesti lu yang kasih tahu!" rutuk Fay menunjuk wajah sahabatnya.


"Siapa bilang..." kilah Vanesh memutar bola matanya. "Gue cari mangsa dulu silahkan kalian lanjutkan!" pesan Vanesh sebelum ia melesat mencari pria satu malamnya.


Jika harus jujur Fay terkontaminasi dengan gaya hidup Vanesha yang sedikit liar. Salah satu alasan istri pria berpengaruh di kotanya itu berselingkuh dengan atasannya karena Vanesha mengenalkan Fay apa itu FWB!


"Sepertinya kamu tidak ingin bertemu dengan ku... Apa kamu mulai bosan dan berniat mencampakanku begitu saja hm?!" umpat Devan mencerca Fay.


Tanpa basa-basi Dev menarik tangan Fay, membawanya ke ruang VIP agar hanya ada mereka berdua tanpa ada pihak lain yang memperhatikan.


"Deeev!!" tolak Fay sedikit berontak, namun cengkraman tangan Dev terasa kuat sangat sulit untuk melepaskan diri dari genggaman pria itu yang seperti tengah tersulutkan amarah.


Bruuk!


Dev mendorong tubuh Fay dan menjatuhkannya di sofa ruangan. Fay mengatupkan bibirnya gelisah. Dia sangat takut Dev berbuat sesuatu yang akan menghina dirinya.


"Entah mengapa perasaanku tidak nyaman beberapa hari ini!" cerca Dev kembali menyudutkan Fay.


"Aku sempat berpikir kemungkinan terburuk dari hubungan kita ini Fay! Jujur padaku..." Tubuh Devan telah merengkuh erat tubuh wanita yang tanpa sadar telah mencuri hatinya.


Fay berusaha beringsut hingga batas sandaran sofa, dia begitu cemas.


Lidah Fay kelu tidak ingin menghindar namun juga tak mampu berkata. Devan menutup erat kedua netranya, melihat respon Fay yang hanya terdiam saja membuat Devan yakin jika dugaannya benar.


"Fay... Kamu sungguh tega padaku!!" lirih Devan pilu. Pria itu tidak menyangka benar-benar di permainkan oleh seorang wanita.


Dia seperti tengah menerima karmanya, biasanya dia yang akan mempermainkan para wanita, saat ini justru sebaliknya. Sialnya Devan justru tengah jatuh cinta pada Fay. Lima bulan menjalin hubungan rahasia sudah mampu membuat dia menjatuhkan hatinya pada Fay.


"Maafkan aku..." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut mungilnya.


"Hah!! Hahaha... Aarrghh!"


Bruuk!!


Devan memukul dinding di depannya, Fay meringis ketakutan menutup matanya erat.


Devan beringsut mundur dari tubuh Fay, dia juga menegaskan kembali jasnya dan bersiap keluar dari ruangan yang membuat dadanya sesak. Fay terpaku disana beberapa saat, dia tidak menyangka satu hari ini dia mengalami kesialan bertubi-tubi.


"Ahh Faye, aku sudah bilang jangan berhubungan dengan pria manapun lagi setelah ini!" ejek Fay pada dirinya sendiri.


Setelah mengatur debar jantung dan pernafasannya Fay bangkit dan bersiap pulang. Niat awal bersenang-senang sirna sudah. Fay tidak ingin mencari Vanesha, dia yakin temannya itu sudah bersenang-senang lebih dulu.


"Huh!"


Greep!!


Fay tersentak berbalik badan, Devan masih berada disana. "Aku antar kamu pulang!"

__ADS_1


"Aku bawa mobilku Dev." Fay kembali menolak, lebih baik tidak lagi saling dekat mulai sekarang sebelum dia benar-benar menyakiti Devan lebih jauh lagi.


"Aku akan suruh orangku mengantarkannya ke rumah mu!" tukasnya tidak menerima penolakan.


Fay hanya mampu mendengus pasrah, dia merasa tidak enak pada pria yang dia rasakan tengah patah hati karena ulahnya itu.


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Keheningan menyelimuti keduanya, Fay bahkan merasa tercekik saat ini.


"Apa kekasihmu tahu kelakuanmu?!" tanya Devan memulai percakapan.


"Heh, jika dia tahu dia akan membunuhku... Hehe" canda Fay mencoba mencairkan suasana.


"Why?! Bagaimana bisa kamu sudah punya pasangan tapi kamu berhubungan juga denganku?!" berang Devan berapi-api.


"Heh... Coba aku tebak... Aku pelampiasanmu saat kesepian... Apa dia selalu meninggalkanmu hm?!" sahut Devan cepat menerka.


"Dev... Sebelumnya aku sudah bilang bukan?! Aku tidak bisa menerimamu!" ujar Fay membela dirinya.


"Kamu terus saja bilang tidakengapa dan kita harus coba dengan menjalin hubungan tanpa status. Heh..." Fay membuang wajahnya. "Ingat Dev, kita hanya sedang mengambil keuntungan masing-masing. Kita sama-sama menjadi patner bersama di saat kesepian melanda!"


Pernyataan Fay benar-benar menusuk jantung Devan tepat disaat tengah berdetak. Hampir saja dia merasakan organ itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sesaaak rasanya mengetahui jika Fay hanya memanfaatkannya saja.


"Aku mencintaimu Fay!"


DEEEGG!!!


Giliran jantung Fay yang berdegub dengan sangat kencang, dia kembali membalikkan wajah menatap atasan di tempat kerjanya. Keduanya telah sampai di basement Condo Luxury tempat dimana penthouse Fay berada.


"Dev..." lirih Fay merasa bersalah. "Aku minta maaf, aku tidak bisa membalas perasaanmu..." sesal Fay dia melibatkan Devan dengan hidupnya.


"Heh, kamu tidak perlu minta maaf Sayang... Aku yang salah, aku yang memang tidak bisa menahan atau menghardik saat cinta itu datang menyapaku karena dirimu..."


Fay sukses menjatuhkan air matanya, dia begitu terharu. Seandainya saja dia belum jatuh hati pada suaminya mungkin saja keduanya masih memiliki harapan.


"Jangan menangis..." pinta Devan mengusap wajah Fay perlahan.


Pria itu kembali mencuri sebuah ciuman dari wanitanya, Fay terdiam sejenak namun gerakan tangan Dev yang lembut membangunkan hasratnya. Fay merangkulkan kedua tangannya reflek di belakang tubuh Dev saat pria itu semakin menyesap kuat bibirnya.


Tangan besar Devan tidak tinggal diam. Semua sentuhan demi sentuhan membuat keduanya tanpa sadar melenguhkan suara mereka dalam mobil sempit Devan. Pria itu juga dengan cepat menarik kursi Fay kebelakang memberikannya ruang untuk lebih leluasa mendekati wanita pujaannya.


Sepuluh menit berlalu Fay kembali menautkan kancing-kancing kemejanya. Devan hanya bisa sebatas menjadi bayi besar selama keduanya melakukan kemesraan bersama. Fay melarang keras Devan menyentuh bagian sensitif yang hanya boleh di sentuh oleh suaminya itu. Beruntungnya Fay, Devan menepati komitmen keduanya.


"Fay... Bolehkah aku masih jadi kekasih gelapmu hm?!" bisik Devan enggan melepaskan wanitanya.


"Dev..." tolak Fay sendu.


"Aku tidak peduli lagi harga diriku atau kesakitanku! Aku hanya tidak bisa!!!" cerca Devan menggenggam erat kemudinya.


"Aku tidak bisa jauh darimu Fay!! Aku mohon..."


Devan benar-benar sudah merendah sampai batas ini demi Fay.


"Aku benar-benar jatuh cinta padamu... Semalam aku berusaha melupakanmu tapi saat aku mencoba dengan wanita lain aku justru tidak ingin. Aku tidak lagi berselera dengan wanita lain... Aku hanya ingin denganmu..."


Fay hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah, dia bingung harus seperti apa. Devan kembali mendekat memagut bibir Fay dan tak lama Fay pamit.


"Oh Fay... Aku akhirnya tahu mengapa ada ungkapan seseorang mengatakan cinta itu buta. Ya, aku buta Fay, aku buta mencintaimu..."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2