
"Jadi apa yang Nyonya Muda Smith inginkan?!" tanya Harv melepaskan tautan panas keduanya. Mendadak Fay dalam keadaan jauh lebih baik.
Fay menyapu lembut wajah Harv dengan jemari lentiknya. Tak lupa Fay memberikan senyuman terbaiknya walau dia masih berasa lemas.
"Aku hanya ingin tidak lagi mendengar lagi rumor kedekatanmu dengan para artis itu!" tutur Fay sendu.
Harv menaikan sudut bibirnya, dia membalas mengusap lembut wajah Fay dan memagut bibirnya lembut.
"Hehe... Apa kamu sudah jatuh cinta padaku hm?!" goda Harv merasa ada kupu-kupu dalam dirinya saat melihat Fay dalam keadaan tidak senangnya karena rumor Harv dengan beberapa wanita di luar.
"Dih jangan salah sangka dulu! Aku cuma takut di singkirkan dan aku kehilangan ATM berjalanku!" sahut Fay segera dengan mencoba memalingkan wajahnya menyembunyikan kegelisahan hatinya.
Harv terdiam sejenak, merasa kecewa atas jawaban Fay yang menusuk.
"Apa kamu tidak ingin rumah baru? Tas? Sepatu? Baju? Atau mobil baru?!" Harv mencerca Fay dengan pertanyaan beruntun mengabaikan pernyataan sebelumnya.
"Aku lihat data pengeluaran Nyonya Smith tidak ada perubahan satu tahun ini. Apa kamu tidak menggunakan kartu yang aku berikan?!"
Harv selalu memeriksa laporan keuangan yang di gunakan oleh istrinya. Bukan untuk melarang Fay, justru Harv benar-benar di buat takjub, istrinya itu tidak banyak melakukan pengeluaran. Semua nominal yang keluar hanya seputar biaya tetap yang di keluarkan oleh biaya rumah tangganya paling-paling dalam satu tahun Fay hanya akan membelanjakan aksesoris kebutuhan pribadinya sebanyak 3x saja itupun tidak mempengaruhi limit black card miliknya.
"Sayaaang... Aku kan bekerja, lagian aku tidak mau menghamburkan uang untuk hal yang tidak berguna. Aku simpan saja siapa tahu nanti kamu melempar surat cerai aku tidak punya apa-apa lagi."
Deg!
Rasa berdebar mendadak hadir di benak Harv. "Cutie, aku sudah bilang aku tidak suka sosok wanita mandiri! Aku berikan semua fasilitas ini bukankah kemauanmu juga?! Jadi apa benar kamu itu sosok matrealistis seperti yang kamu banggakan itu atau─"
Fay tersenyum, "Aku sudah bilang saat aku membutuhkannya maka akan aku keluarkan semuanya! Aku bukan wanita yang hanya bermodalkan tampang dan penghangat kasur untuk mendapatkan keuntungan."
"Heh!" Harv terkekeh dengan jawaban lantang dan yakin istrinya. "Jika kamu tidak ingin aku ceraikan, maka patuhi dan penuhi segala keinginanku Cutie. Selama itu juga jika bukan aku yang melayangkan gugatan, maka selamanya kamu permaisuriku!"
DEEG!
__ADS_1
Giliran jantung Fay yang tersentak, ucapan suaminya terdengar tulus dan benar adanya. 'Kamu sungguh pandai memikat tuan muda Smith...' batin Fay menatap lekat suaminya dengan berkaca.
"Jadi bisakah Tuan Smith mengabulkan permintaanku?!" goda Fay melingkarkan kedua tangannya mengembalikan topik pembicaraan mereka.
"Mudah saja bagiku untuk melenyapkan rumor itu... Hanya saja, kompensasi apa yang aku terima setelahnya?!" Harv menyesap harum tubuh istrinya lekat.
'Bajingaaaan... Dia selalu pintar melobi!! Aku mau kasih apa? Dia sudah punya segalanya...'
Fay tengah berpikir dia memajukan bibirnya kesal. "Apa yang di butuhkan tuan Smith dariku? Aku hidup aja numpang padamu... Kamu tidak mungkin mengharap recehan dari buruh corporate seperti aku kan?!"
Harv terkekeh dengan jawaban sarkas istrinya. Dia memainkan hidungnya dengan hidung istrinya. Sentuhan sederhana itu mampu membuat rasa hangat menjalar di hati keduanya.
Ini bukan malam yang pertama mereka habiskan dengan melakukan kemesraan di atas ranjang. Hanya saja mengapa saat ini terasa berbeda dari biasanya.
"Aku cuma punya tubuhku untuk membayarnya... Apa anda mau menerimanya Tuan?!" goda Fay mengerlingkan matanya di depan wajah Harv.
"Hahaha... Bagaimana jika dengan seorang bayi Cutie?!" tukas Herv membuat hati Fay seperti terpecah belah.
"Berapapun yang kamu mau aku akan kabulkan!" Harv membalas melakukan sentuhan sensualitas pada istrinya.
"Ayolah Tuan... Permintaanku barusan saja anda tangguhkan. Malah ngebahas yang enggak-enggak!" rutuk Fay kesal.
"Heh..." Harv bangkit dari ranjang menyambar ponselnya.
Dia melakukan sambungan telpon dengan asisten khususnya. Dia juga sengaja mengaktifkan loudspeaker di depan Fay agar istrinya itu percaya.
"Will, Nyonya Muda Smith memberi perintah agar kamu lenyapkan rumor mengenai aku dan beberapa artis wanita yang menumpang tenar pada namaku. Jangan biarkan pamor istri Sah tuan Smith kalah oleh wanita yang sangat suka mencari perkara..."
Tutt!
"Apa anda sudah puas Nyonya?!"
__ADS_1
Fay mengatupkan bibirnya erat, dia tiba-tiba saja gelisah. 'Bagaimana mungkiiiin??!! Dia benar-benar mendengarkan ku dan mengabulkannya?! Sepertinya otaknya bermasalah...' batih Fay merasa ingin berjingkrak-jingkrak kali ini.
"Jadi?! Apa sudah boleh aku meminta bayiku?!" Harv kembali mendekat dan bersiap menggagahi istrinya.
Hanya saja mood Fay hancur seketika saat pembahasan 'bayi' ini masih Harv perhitungkan.
"Aku tidak mau!" tolak Fay membuat Harv tersentak.
"Why?!" tanya Harv dingin.
"Saat aku hamil kelak tubuhku akan melar, aku tidak cantik lagi!" sahut Fay segera dengan perasaan menggebu.
"Heh, aku tidak masalah. Aku tetap mau!" Harv tidak ingin kalah.
"Tidak, hormon ku akan naik turun. Selain gendut aku mungkin jadi jelek! Kamu pasti tidak mau menyentuhku dan mencari selir baru!" cerca Fay masih teguh pada pendiriannya bahwa dia tidak mau melahirkan anak.
"Siapa bilang hormon kehamilan membuat ibu hamil jelek?! Dia bisa terlihat cantik juga... Apalagi dia tengah membawa benih di dalam perutnya. Tidak ada yang lebih cantik dari pengorbanan seorang ibu pada anaknya." Harv masih mencoba memberi pencerahan pada istrinya yang keras kepala.
"Aku tidak mau... Aku tidak mau..." rengek Fay tetap tidak ingin menyetujuinya.
"Kalau kamu memang pengen penerusmu, silahkan cari wanita lain yang mau mengandung putramu!" rutuk Fay emosi membuang wajahnya dengan nafas yang tersenggal.
"Sssttt... Jangan bilang seperti itu lagi Cutie... Okey, promise?" Harv mencoba menenangkan istrinya.
"Dengar sayang, penerusku tentu saja harus berasal dari rahim permaisuriku!" Harv memeluk erat Fay. Kata itu begitu terdengar tulus dan mampu mendobrak hati Fay.
Fay tertegun tidak bisa lagi membantah seperti sebelumnya. Apa jadinya jika dia hamil, dia sendiri anak yatim piatu yang tinggal di panti karena kemungkinan terbesarnya kedua orang tuanya tidak mengharapkannya. Harv tidak tahu, betapa traumanya Fay akan kehidupan masa kecilnya yang suram.
"Huh, jika kamu memang belum ingin aku mengerti... Tapi ingat, jangan pernah lagi selalu mengatakan cerai setiap kali kita berbincang seperti ini!" bisik Harv mengakhiri pillowtalk keduanya.
"Ingat Cutie, hanya boleh aku yang mengatakan perceraian itu. Selama aku tidak melayangkannya. Selama itu juga kamu adalah satu-satunya permaisuriku. Kamu adalah istri sah yang di akui negara dan beberapa orang penting tentu tahu bahwa kamu adalah istriku!"
__ADS_1
To be continued...