Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 55 : Bau Pengkhianatan...


__ADS_3

Kediaman Besar Smith, 08.00 AM.


"Harusnya Fay sudah mengalami gejalanya bukan?" tanya nyonya Jane pada pengurus rumah besar paman Tang.


Pengurus Tang melebarkan senyuman saat melihat kegelisahan hati nyonya besar akan keberhasilan rencana pasal kehamilan menantunya. "Ijin berbicara Nyonya, para pelayan di sana mengatakan bahwa nona Fay pagi kemarin muntah-muntah saat sarapan pagi."


Wajah nyonya Jane berseri, dia segera bangkit dari kursinya berencana menemui menantunya. Hanya saja segera di hardik oleh pengurus Tang. "Nyonya tunggu, jika anda kesana sekarang bukankan akan menjadi kecurigaan yang besar di dalam benak nona Fay?"


"Aiihh, kau benar! Aku seperti ini karena tidak sabaar!!" rutuknya gelisah.


"Tenang Nyonya, setidaknya anda sudah tahu keadaan terbarunya. Buat semua terasa natural, anda tinggal menunggu saja kabar baiknya." saran pengurus Tang.


"Haaiisshhh, tapi aku sungguh penasaran Uncle!" keluh nyonya Jane kembali gelisah dan gatal ingin segera menemui menantunya.


 


Penthouse Condo Luxury, 01.00 PM.


Hoeeek... Hoeeek... Hoeeek...


"Cutie, are you okay?!"


Harv semakin khawatir akan keadaan istrinya saat ini, dia segera menghampiri istrinya yang langsung berlalu menuju kamar mandi mereka.


"Mengapa istriku rentan sekali mengalami sakit, padahal sebelumnya dia selalu sehat-sehat saja!" gumam Harv lirih dan kemudian emosinya menyapa saat pintu kamar mandi di kunci oleh Fay dari dalam.


"Cutie!" seru Harv begitu khawatir.


Tok... Tok!!


Harv kesal wanitanya mengunci pintu kamar mandi. "Tidak biasanya!!"


Tak lama Harv merasakan kecurigaan besar pada istrinya itu.


Ceklek!


"Aku mual karena aku melewatkan sarapan dan makan siangku!!" Fay membuka pintu dan menatap suaminya sendu.


"Benarkah?" Harv memeriksa wajah dan menyelidik tubuh istrinya yang terlihat jauh lebih kurus lagi dari sebelumnya. "Aku akan panggilkan dokter Yun." sambungnya merogoh saku celana mencari ponsel pintarnya.


"Tidak perlu Sayang, pasti karena asam lambungku yang kumat!" cegah Fay tidak ingin dokter pribadi bahkan sahabat suaminya mengetahui pasal kehamilannya.


"Baiklah, aku akan menyuruh pelayan mengantarkan makanan kemari." Harv berencana memapah istrinya namun Fay masih dalam kondisi lemas, dia tiba-tiba hampir terjerembab dengan sigap Harv menahan tubuh istrinya.


"Faye!" pekiknya takut.


Harv segera menggendong Fay ala bridal dan menaruhnya di atas ranjang perlahan.


"Maafkan aku Sayang, aku meninggalkanmu di saat kondisimu masih seperti ini!!" sesal Harv saat kemarin dia meninggalkan Fay ke NY dan membuat wanita itu kembali salah paham padanya dan pada Veronica.


"Aku hanya butuh makanan Harv." kekeh Fay mengalihkan kondisi mereka yang berubah sendu.


Dengan cepat Harv meminta para pelayan membawakan makanan untuk Fay. Di saat suaminya memanggil para pelayan, benak Fay berterbangan memikirkan sesuatu yang penting.

__ADS_1


'Apa aku harus jujur pada Harv tentang kehamilan ini? Tapi aku tidak menginginkannya...' Fay segera mengusap cepat bulir bening yang sudah menerobos jatuh membasahi wajahnya.


Tak berapa lama pelayan sudah membawakannya makanan kemudian Harv mengambil alih membawakan pada istrinya.


"Mau aku suapi?!" Dengan penuh perhatian Harv memperlakukan Fay dengan baik.


Perasaan Fay kembali dibuat jatuh bangun oleh Harvey Smith. Perlahan dia yang menjadi lebih sensitif telah meneteskan air mata membuat Harv mengerutkan kening dengan perasaan gelisah melihat tingkah istrinya yang tanpa angin dan hujan menangis begitu saja.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Harv lirih menyapu bulir bening air mata istrinya. "Apa kamu marah padaku?!" sambung Harv menangkup wajah Fay lembut.


Fay membuang wajahnya, Harv mengerti. "Wanita itu adalah Veronica, sepupu jauh di NY. Kamu memang tidak mengenalnya. Dia adalah artis ternama yang selalu sibuk dengan jadwal pekerjaannya."


Fay terdiam, dia tidak ingin membuka suaranya sekarang.


"Isilah dulu perutmu, nanti kita bahas kembali. Jangan sampai kamu membiarkan penyakit menggerogoti tubuhmu." Harv mulai menyuapi Fay dengan penuh kasih sayang.


Fay kembali merasa dia terus saja membohongi hatinya dan entah mengapa dia tidak bisa sekalipun mempercayai suaminya walau kenyataannya suaminya itu benar-benar jujur mengenai dirinya.


Fay telah selesai dengan makan siangnya, Harv begitu sabar menyuap dan menemani istrinya dengan wajah yang tak sedetikpun menunjukan lelah atau pun bosan.


"Apa kamu sudah merasa baik?!" tanya Harv kembali memastikan keadaan istrinya, Fay mengangguk cepat sebagai jawaban.


Keduanya terlihat canggung saat ini, berbanding terbalik dari hari sebelumnya yang begitu mesra.


"Apa kamu selalu mencurigaiku Cutie? Tidakkah kamu mempercaiku seperti yang aku lakukan padamu?!"


DEG!!


Pernyataan Harv tepat menusuk jantung Fay saat tengah berdetak membuat dia merasa seolah mati sesaat.


Walau Fay sendiri sudah mengetahui konsekuensi atas apa yang di lakukan olehnya selama ini di belakang Harv. Dia tidak menyangka bisa secepat ini terbongkar. 'Ah aku lupa, matanya ada dimana-mana.'


"Jika aku katakan apa yang aku lakukan. Apa kamu akan mempercayaiku?!" tanya Fay tak kalah serius dengan raut wajah yang dia tampilkan saat ini.


Harv terdiam, tidak menyangka wanitanya bisa setenang ini.


"Aku akan berusaha percaya atas apa yang kamu ucapkan." Jawaban Harv membuat Fay terbelalak sempurna.


Harv menaikan sudut bibirnya dengan respon Fay dan segera memagut bibir istrinya yang menggoda. 'Aku bahkan sudah merendahkan diriku sampai seperti ini Faye... Kau sungguh wanita yang paling berbahaya yang aku cintai di dunia ini.'


Bukan Harv tidak mengetahui apa yang dilakukan keduanya, dia hanya ingin menguji kejujuran istrinya. Sialnya, sampai detik ini Harv tidak peduli apakah Fay membohonginya atau tidak. Yang jelas Harv tidak ingin kehilangan istrinya.


Hoeeek... Hoeeek... Hoeeek...


Fay kembali bangkit mendorong tubuh Harv sekuat tenaga dan berlari kencang menuju kamar mandinya. Fay memuntahkan seluruh isi perutnya.


Harv terpaku sejenak, kecurigaannya semakin besar. Dengan tenang dia membawakan air putih mineral. Tanpa banyak bicara Harv memijat tengkuk leher Fay perlahan. Memba tu membuat tubuh Fay rileks.


Fay berbalik dan menenggak habis air yang dibawakan suaminya.


"Aku akan menelpon Dokter Yun!" tutur Harv di hadapan Fay.


"Tidaak perlu sayang, sepertinya aku hanya masuk angin. terlalu lama berendam." elak Fay memeluk Harv dengan tubuh ringkihnya.

__ADS_1


Felly menenggaknya hingga tandas. Al mengusap lembut punggung istrinya, Felly terjatuh kembali dalam dekapan suaminya.


"Aku bawa kerumah sakit ya..."


"T-Tidak perlu sayaaang..."


"Aku sepertinya masuk angin terlalu lama berendam..."


"Aku tidak akan meminta persetujuanmu!" tukas Harv dingin membuat hati Fay dihinggapi perasaan yang tidak nnyaman


"Mmmmm.... Arrrghh...."


Ternyata Fay salah mengira tentang suaminya, pria itu masih sangat cabul!


"Aku sangat merindukanmu sayang..." bisik Harv sesaat sebelum menyesap ceruk leher wanitanya.


Fay tidak tahu mengapa dia merasa sangat, sangat haus akan sentuhan sekarang juga.


"Harv, aku inginnn..." rengek Fay yang merasakan libidonya meningkat saat ini juga.


Dengan senang hati Harv langsung melucuti pakaian mereka dan tanpa pemanasan atau foreplay dia memasukan senjata perkasanya ke dalam hole Fay yang masih kering.


"Aaaarrrghhh Harv periihh!!" jerit Fay tidak nyaman di bawah sana.


"Maaf sayaang, tahan sebentar ya..." Harv kembali menarik miliknya keluar agar Fay tidak merasa kesakitan.


Fay justru tengah menggigit ujung bantalnya membuat gairah Harv seperti dipecut untuk kembali membenamkan senjatanya.


"Aaaarrrrkk Harv sakiit!!"


"Aaarrgghh..."


Harv merasa senang kembali mendengar rintihan istrinya.


"Hehe Cutie, milikmu sungguh sempit! Aku tidak menembusnya dua hari sekarang merasa sangat sulit!!"


Wajah Fay memerah atas godaan suaminya, dia sungguh beruntung memiliki aset yang bisa memuaskan Harv.


Mereka terus melakukan sesi percintaan mereka dan melupakan bahwa dokter Yun yang sebelumnya telah dimintai datang oleh Harv telah berada di kediaman. Dari luar terdengar jelas desa han dan racauan keduanya membuat tengkuk leher Will dan Dokter Yun bergidig ngeri mendengarnya.


"Apa mereka baru mulai?!" tanya Yun pada Will.


"Iya, sepertinya begitu karena aku juga baru terdengar bunyinya sekarang!" jawab Will datar.


Keduanya menatap pintu kamar utama tuan mereka.


"Haiss... Bagusnya aku gimana?!" tanya Yun menatap Will.


"Tunggu saja lah, di banding diomeli..." sahut Will segera mencari aman.


"Dengan mendengar live making love mereka?!" Dokter Yun mengerutkan kening dan melayangkan protes.


"Mau gimana lagi... Mau ngopi gak?" ajak Will membesarkan hati dokter pribadi keluarga Smith.

__ADS_1


"Ayoklah..." sahut Yun sebal.


To be continued...


__ADS_2