
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu?
Yang datang beri harapan, lalu pergi dan menghilang... Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur kar'namu... Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan... Takkan kut'rima cinta sesaatmu...
(Sial - Mahalini)
Fay sudah berada kembali di kantor, selera makannya hilang sempurna saat ini. Fay menunduk menumpahkan air matanya di atas meja kerja.
Baru saja dia seperti merasakan sambutan hangat dari suaminya, nyatanya semua semu. Seharusnya dia sadar, bahwa tidak mungkin Harv benar-benar mencintainya.
Sial-sialnya ku bertemu dengan cinta semu...
Tertipu tutur dan caramu...
Seolah cintaiku (cintaiku)
Puas kau curangi aku?
(Sial - Mahalini)
Devan yang baru menyelesaikan pekerjaannya keluar dengan raut wajah heran.
"Fay? Bukannya kamu tadi pamit ada urusan?!" seru Devan mendekati kekasihnya.
Fay tersentak, dia segera menyapu air matanya dan menyapa atasan sekaligus kekasih gelapnya.
"Eh itu, aku gak jadi... Katanya di undur!" sahut Fay sedikit terbata.
Devan menyelidik tampilan wanitanya, pria itu menduga wanitanya sedang tidak baik-baik saja.
"Ya udah, kamu udah makan siang belum?!" Devan bersimpuh di bawah kursi Fay mengusap lembut wajah wanitanya yang masih menyisakan basahan yang di sebabkan air matanya.
Hati Fay tambah nyeri dengan perlakuan Devan saat ini. Selalu seperti ini, di saat Harv menyakitinya, Devan datang kembali memberikan kesejukan.
"Sudah... Sebelumnya aku beli makanan di makan di mobil!" bual Fay melebarkan senyuman .
Devan tentu tidak percaya, Fay paling pintar menyembunyikan keadaannya.
"Mau temani aku?!" ajak Devan lembut.
"S-sorry Dev... Gue agak lelah dan ngantuk... Aku ingin istirahat sejenak." tolak Fay sopan.
"Apa kamu sakit Sayang?!" Devan semakin mengkhawatirkan kondisi wanitanya dan menangkupkan kedua tangan di wajah Fay.
"Aku baik-baik aja Sayang..." tutur Fay lembut mencium bibir Devan sekilas.
Devan mengulumkan senyuman dan mengerti. "Aku tinggal bentar ya, aku lapaar bangeet!" keluh Devan dia lupa waktu barusan.
__ADS_1
Biasanya Devan akan makan tepat waktu jika Fay berada di samping menemaninya. Sebelumnya Fay mengabarkan ada urusan, Devan menjadi tidak berselera dan terus mengerjakan tugasnya hingga lupa waktu.
"Iya Sayang..." ucap Fay meyakinkan kekasihnya.
Devan bangkit dan meninggalkan Fay kembali sendirian di ruangan setelah mengecup kepala kekasihnya lembut. Fay menatap punggung Devan yang kini menghilang di balik pintu ruangan.
"Mengapa bukan dia yang menjadi pasanganku Tuhan!" gumam Fay lirih kembali menjatuhkan air matanya.
Hal yang membuat Fay takjub pada Devan adalah, pria itu dulunya terkenal dengan sebutan pria casanova yang selalu berganti-ganti pasangan. Hanya saja semenjak bersama dengan Fay, dia tidak pernah mendengar lagi rumor buruk tentang selingkuhannya itu.
Bahkan Devan benar-benar memposisikan dirinya 24 jam menjadi bagian dari hidup Fay. Mau tak mau Fay merasa nyaman dan sempat menjatuhkan hatinya pada atasannya itu. Terlebih Devan juga merupakan pria romantis yang menjaga komitmennya dan menjaga kehormatan Fay sampai saat ini.
Fay bangkit menuju kamar mandi, membasuh wajah kusutnya.
"Jangan jadi wanita cengeng Faye! Dia bisa dengan mudah menggandeng wanita lain... Aku pun demikiaan!! Tak perlu lagi memikirkan perasaan!" rutuk Fay membesarkan hatinya.
Felly kembali menuju meja kerjanya dan begitu terkejut saat sudah ada satu box makanan beserta minuman kesukaannya. Fay melengkungkan senyuman menatap ruangan Devan.
"Lah, kok malah makan di sini?! Katanya─"
"Sstt!! Ga usah berisik gue mau makan!!"
Vanesh terdiam sejenak setelah perkataannya di potong begitu saja oleh temannya.
"Lu kenapa?!" tanya Vanesh peduli.
Vanesh mengerti, Fay tidak ingin ranah privasinya terekspose begitu saja. Vanesh kembali menuju meja kerjanya dan menyelesaikan pekerjaan yang lumayan banyak hari ini.
Fay menghabiskan makan siang yang kesiangannya dengan cepat. Setelah selesai dia juga bisa menangkap siluet atasannya telah kembali. Fay bangkit dan bersiap mengucapkan rasa terima kasihnya.
'Hal yang membuat aku masih bertahan mungkin karena aku masih di kelilingi orang-orang baik seperti Devan dan Vanesh.' batin Fay.
Waktu berlalu dengan cepat, Fay juga beruntung kali ini pekerjaannya membuat dia tidak begitu memikirkan masalah pribadinya.
"Kuy balik!" ajak Vanesh mendekat.
Fay tersentak, dia mendongak dan baru menyadari bahwa saat ini sudah waktunya jam pulang bekerja.
"Aiih cepet banget..." dengus Fay kasar. "Kamu duluan aja, aku masih ada pekerjaan yang nanggung!" tukas Fay serius.
Vanesh mengangguk dan pamit setelah memberi semangat pada sahabatnya. Fay terpaku sejenak, dia membuang nafas berat dan merapikan meja kerjanya.
"Belum pulang?!" tanya Fay pada selingkuhannya.
Devan tersentak dan menatap Fay dengan senyuman yang mengembang. "Sepertinya begitu, ada beberapa berkas yang Nona Fay minta agar aku selesaikan sekarang untuk di distribusikan esok!" cibir Devan menggoda Fay.
Fay terkekeh dan menghampiri kekasihnya. "Aku pulang duluan ya..." pamit Fay mencium pipi atasannya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau menungguku? Aku temani kamu pulang..." bisik Devan menarik kedua tangan Fay. Alhasil Fay menaruh kepala di bahu prianya.
"Aku tidak apa-apa, biasanya juga kan aku sendiri Sayang. Cup~" sahut Fay manja.
Seketikan raut wajah Devan tersipu malu dengan rayuan kekasihnya. Devan mendongak dan Fay mengerti, mereka bertautan mesra.
"Ati-ati loh ya..." Devan memoeringati kekasihnya.
"Iya Sayangnya aku yang bawel... Aku pergi dulu ya... Bye!"
Fay berbalik melambaikan tangan di sambut senyuman manis kekasihnya. Tanpa menunggu lama dia segera menuju mobilnya.
Braak!!
Di dalam mobil Fay tidak segera menghidupkan bahkan terlihat seolah tidak berniat menjalankannya. Fay menggenggam erat kemudi kembali menangis membenamkan wajahnya di sana.
Tok... Tok... Tok...
Fay tertegun, dia bangkit dan menyapu wajah sembabnya. Dia tidak menyadari sudah berapa lama dia menangis di dalam mobilnya sampai ketukan di kaca jendela menyadarkannya.
Fay berbalik dan meringis mendapati Devan tengah beraut masam di samping mobilnya. Perlahan Fay membuka kaca jendela dan menampilkan wajah cengengesannya.
"TURUUN!!" bentak Devan kesal.
Fay merengut, tanpa ingin membantah dia segera keluar dari mobilnya.
"Aku pikir kamu sudah benar-benar pulang!! Kamu menipuku... Kamu ada masalah kan?! Sampai kapan menutupinya begitu hm?!" cerca Devan penuh emosi.
"Sini ikut aku!" Devan menarik tangan kekasihnya, tanpa membantah Fay menuruti setiap instruksi kekasihnya.
Keduanya telah berada dalam mobil, Devan tidak banyak berbicara dan langsung keluar dari pelataran basement kantor.
"Kita kemana?!" tanya Fay memecah kesunyian.
"Rumahku... Mau kan?!" sahut Dev berbalik menatap Fay hangat.
Fay tersipu malu, dia mengangguk perlahan sebagai jawaban. Devan menarik salah satu tangan Fay dan mencium jari-jemarinya.
Fay tersentuh, dia kembali merasa ingin menjatuhkan air matanya. Sebelumnya Fay merasa bingung harus pergi kemana, rumahnya seolah runtuh dan menghilang dari benaknya. Devan kembali datang dan menariknya dari pusara gelap yang menyeretnya dalam rasa sakit dan kecewa atas kenyataan yang di terima Fay saat ini.
"Kamu mau makan apa?! Apa mau makan di resto biasa?!"
"Hmm... Aku masak aja gimana?! Kamu mau?!" tawar Fay menggelayut manja di lengan kekasihnya.
Wajah Devan berbinar sekarang. "Benarkah?! Tentu saja aku sangat ingin... Sudah sangat lama kamu tidak mau lagi memasakan beef teriyaki kesukaanku!" sahut Devan antusias.
"Baiklah... Kita mampir grocery ya..." tutur Fay lembut.
__ADS_1
To be continued...