Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 52 : Masalah baru


__ADS_3

Fay mengekor di belakang Vanesh yang memberi arah pada si pria yang akan mengganti es krim mereka. Fay begitu gelisah dan mengedarkan pandangannya ingin mengetahui apa pengawal yang diberikan suaminya terlihat disana?


Semenjak kejadian naas tentang penculikan tempo lalu Fay menjadi lebih waspada pada orang asing. Rasa trauma itu membekas lekat di benaknya. Hanya karena Vanesh bersama dengannya terlebih dia yakin akan penjagaan suaminya.


Alhasil Fay mengikuti kemauan Vanesh dan pria yang baru saja tidak sengaja bertemu karena insiden menjatuhkan es krim entah memang tidak sengaja atau ada maksud tertentu.


"Ini dia, dua es krim baru untuk para gadis cantik..." Si pria membawakan dua cup es krim baru setelah sebelumnya keduanya mengatakan rasa apa yang mereka sukai untuk di pesan.


"Thanks..." Vanesh menerimanya dengan sedikit tebar pesona.


Pria itu memang terlihat sangat tampan, wajah yang bersih, rahang yang tegas dengan tubuh tegap atletis semakin membuat otak para perempuan mengalami kenistaan pikiran. Tidak terkecuali Vanesh, dia yang memang terkenal sebagai wanita pencari pria untuk jadi bahan mainannya mendadak kembali mengirim sinyal untuk menggodanya.


"Alex..."


"Wah nama yang bagus, sebagus orangnya..." ungkap Vanesh tanpa basa-basi, Felly memutar bola matanya malas dia mengerti maksud dan tujuan temannya.


"Vanesh, dan ini sahabat terbaik ku Faye..."


Mereka bertiga akhirnya bisa saling berkenalan, kemudian tanpa rasa canggung lagi mereka bercengkrama dan terlibat percakapan random yang ingin segera Fay akhiri rasanya.


"Nesh, yuk dah habis waktu makan siang kita!"


"Ah lu mah perusak suasana!! Bilang aja mau mesra-mesraan ama cowok lu..." sungut Vanesh lupa akan fungsi filter di mulutnya.


"SSSSTTT!!" Fay menekan telunjuknya di mulut teman lucknutnya itu.


"Ini emang udah selesai jam maksi bego!"


Alex terpaku sejenak dengan pernyataan teman Fay, seolah mengetahui sisi lain yang tidak ada dalam sistem data pencariannya tentang istri musuhnya itu.


"Oh iya temanmu benar, aku juga ada pekerjaan." seru Alex membela Fay menghentikan pertikaian kecil antara Fay dan Vanesh. "Tapi sebelumnya bisakah kita bertukar kontak?" pinta Alex dengan senyum ramahnya.


"Tentu saja!"


Tanpa menunggu lama Vanesh menjawab dan mengeluarkan ponselnya, ia bertukar ID Chat dengan si pria, Fay merasa enggan namun karena tidak enak dia juga bertukar ID Chat dengan pria yang mengenalkan dirinya bernama Alex.


"Senang bisa berkenalan dengan kalian, semoga lain kali kita bisa makan bersama lagi." pamit Alex saat ketiganya memutuskan kembali ke alamnya masing-masing.


"Pastinya!!"


Fay hanya bisa menggelengkan kepala dengan kekehan lirih akan tingkah blak-blakan temannya, sekilas pandangan Alex tidak lepas dari Fay. Dia terus mengamatinya, ada sedikit ketertarikan disana. Dia sangat menyukai sikap dingin Fay, namun saat menunjukan senyum manisnya ada perasaan hangat yang menjalar begitu saja di dalam benaknya.


'Aku tidak menyangka, baru mengawali pertemuan denganmu saja hatiku sudah gelisah dan senang dalam waktu yang bersamaan.' batin Alex menunjukan senyum culasnya.


Vanesh dan Fay kembali ke kantor mereka. Di dalam lift kebetulan sekali bertemu dengan Devan.


"Makan dimana tadi?" tanya Devan ketus.


"Di mall situ..." jawab Fay cengengesan.


Fay menolak ajakan makan siang kekasih gelapnya dengan alasan mentraktir Vanesh karena kalah taruhan. Jika tidak membual Fay tidak mungkin di biarkan pergi begitu saja.


"Mulai dah gue di anggap obat nyamuk!!" keluh Vanesh melihat kedua insan di sampingnya mulai menunjukan kemesraannya karena memang hanya mereka bertiga yang berada di lift itu.


"Aaargghhh Dev..."

__ADS_1


Setelah sampai di ruangan Devan segera menarik tangan Fay memasuki ruang kerjanya kemudian seperti biasa melanjutkan kemesraan keduanya.


"Aku sebal!" rengek Devan di hadapan wanitanya.


Fay terkekeh dengan sikap kekanak-kanakan atasannya. "Dev, apa tidak ada yang curiga pada hubungan kita di kantor?" Fay berujar sendu, mengusap lembut wajah hingga rambut belakang pria yang tengah menciup lekat ceruk leher wanitanya.


"Siapa yang berani curiga sayang?" Devan menatap Fay mesra dengan senyuman nakalnya.


Dengan perlahan tapi pasti Devan memagut bibir Fay mesra dan semakin liar mengabsen tiap inci rongga mulut wanita pujaannya.


Fay yang tak kuasa menerima serangan bertubi-tubi, pasrah melingkarkan kedua tangan di bahu bos yang sekaligus pria simpanannya.


"Bolehkah aku meminta hak ku?!" bisik Devan penuh hasrat di cuping telinga Fay.


"Aargh Dev jangaaan!!" pekik Fay tersadar dan mendorong sekuat tenaga tubuh Devan. "Bukankah sebentar lagi kita meeting dengan vendor?" sambung Fay mencari alasan kuat menghentikan aksi atasan mesumnya.


"Baiklah, sepulang kerja nanti kamu harus menggantinya!" ancam Devan menyeringai.


Fay membuka mulut lebar tidak percaya akan keberanian Devan memaksanya. Tanpa di ketahui keduanya di luar ruangan Devan, Ailee yang merupakan staff keuangan mengunjungi divisi mereka.


"Hei Nesh, mana Faye?" tanya Ailee saat sudah berada di ruang project. "Aku mau tanya beberapa dokumen pekerjaan." imbuhnya kemudian.


"Lagi di ruangan pak Dev, kenapa emangnya taruh aja nanti aku kasih tau orangnya." sahut Vanesh dengan masih fokus pada laptop miliknya.


"Sssttt, lu ga curiga apa ama mereka berdua?!"


Seketika Vanesh menghentikan gerakan tangannya dan mendekat pada Ailee. "Curiga apa?"


"Hih, lu yang satu ruangan masa ga tau gosipnya!"


Ailee mengaktifkan mode ghibahnya dengan Vanesh. Siapa yang tidak mengetahui bahwa Ailee adalah rekan kerja si ratu pembuat onar Hailey.


"Huusss kalo mo julid ama orang jangan sembarangan." Vanesh pura-pura tidak mengetahuinya.


"Aih gue lupa lu kan sohib kental pasti belain lah!!" ejek Ailee menunjukan wajah tidak ramahnya. "Ga usah di tutupin juga dah ketahuan... Mereka pasti ada affair selama ini!"


Cekleek!


Fay keluar ruangan dan terkejut Ailee tengah duduk di sebelah Vanesh menggunakan kursinya.


"Eh ada tamu..." sapa Fay membuat Ailee bangkit dari kursinya dan tersenyum canggung.


"Iya gue dah nunggu lama, lu bahas apa sih sama Pak Devan lama bener di ruangannya!" sungut Ailee mencoba menjebak Fay.


DEG!!


"Owh aku ngasih tau dokumen pendukung meeting kita bentar lagi ama vendor." jawab Fay sedatar mungkin kemudian duduk manis di kursinya.


"Ada apa?!" tanya Fay menatap Ailee serius.


"Ini dokumen pekerjaan bulan kemarin ada beberapa yang kamu tidak lampirkan berkas penunjang." tukasnya datar.


"Oh, coba aku periksa apa yang tertinggal kamu catat biar aku cek kembali."


"Ini aku sudah tempel di post it, usahakan hari ini kelar ya soalnya besok sudah mulai proses pembayaran."

__ADS_1


"Sip!"


Ailee menatap lamat kearah leher Fay yang tertanggal bercak kemerahan yang ia tahu apa itu. Akhirnya dugaan selama ini terjawab sudah bahwa rumornya benar adanya, Fay memiliki hubungan dengan Devan. Setelah mengetahui hal itu Ailee pamit pergi keluar divisi projek dengan seringai yang memiliki arti tertentu.


"Lu sih keseringan banget mesum ama bos lu!! Mulai kecium kan skandal lu!!" sungut Vanesh merutuki kelakuan sahabatnya.


"Haish..."


Fay menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kemudian dia hanya tersenyum kearah Vanesh dan segera melakukan pekerjaannya.


Sedangkan di negeri Paman Sam, Harvey tengah mengikuti beberapa jadwal bisnis yang telah di susun oleh asistennya.


"Tuan, nona Veronika ada disini." seru Will mendekati tuannya.


"Untuk apa?"


"Dia bilang hanya ingin mengajak anda makan siang."


"Baiklah, aku ingin menghubungi Fay sebentar."


Harvey menghindar, menatap kota New York dari atas gedung kantor miliknya.


"Aku sungguh merindukanmu sayang..."


Senyum Harv mengembang saat melihat tampilan ponselnya yang berwajahkan istrinya yang cantik.


Tuuut...


"Halo..."


"Cutie, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Aku baru sampai rumah... Bagaimana pekerjaan mu honey? Kapan pulang?"


Fay menaruh ponselnya di ranjang dan menghidupkan loudspeaker. Dia melepaskan pakaian kerjanya dan bergegas menuju kamar mandi dengan membawa ponselnya. Dia akan berendam, rasanya sungguh tidak nyaman.


"Kamu sedang mandi?" tanya Harv menerka saat mendengar percikan air.


"Ya, apa kamu mau mandi bersama?" goda Fay,


"Aku ingin melihatnya..." tutur Harv berhasrat.


Fay menekan switch panggilan menjadi video call, seketika wajah tergoda Harv menunjukan dirinya.


"Kamu sangat nakal sayang..." lirih Harv merasa terpancing hasratnya hanya melihat istrinya membenamkan diri dalam bak mandi tanpa balutan benang.


"Pulang lah, maka aku akan memanjakan mu dan adik juniormu lagi sayaaang..." goda Fay dengan menunjukan gerakan sensualnya.


"Aku akan segera pulang..." tukas Harv berhasrat.


Ceklek...


"Harv sayaaang aku masuk ya..."


Tiba-tiba sebuah suara wanita manja terdengar di telinga Fay, dan Harv membalikan wajahnya menatap ke arah asal suara.

__ADS_1


DEG!


To be continued...


__ADS_2