
Mansion Luxury, 09.00 PM.
"Sayang... Bagaimana jika Tuan Harvey mengetahui hubungan kita sudah sejauh ini?"
Devan tengah bertanya disela cuddling mereka, Fay tengah berada dalam dekapan kekasih gelapnya. Setelah melakukan makan malam bersama keduanya menonton short drama di tengah rumah seperti biasanya. Fay menatap nanar ke depan, dia menelan salivanya pedih.
"Tentu saja dia akan membunuh kita berdua," lirih Fay dengan kekehan hanya saja keadaan mereka sekarang justru menjadi mencekam.
Devan terdiam menghentikan sentuhan tangan di kepala wanitanya, hatinya berdegub kencang saat Fay mengatakan dengan datar jawabanya seolah sangat mengenal suaminya.
"Lantas, kenapa kamu masih melakukannya Fay?" Devan kembali bertanya. "Apa kamu benar mencintainya? Atau kamu memang senang menyakiti perasaanku?" sambungnya menahan emosi dalam dada yang sudah menyeruak.
Fay terdiam, dia sudah meneteskan air matanya, mudahnya Fay harusnya memanfaatkan situasi ini untuk memutuskan hubungan dengan Devan. Tapi entah mengapa, bibirnya kelu. Sebagian relung jiwanya tidak menerima jika harus berpisah dari pria yang selama setengah tahun terakhir selalu ada menghiburnya saat dia lelah dengan kerasnya dunia. Fay sendiri sadar dia tengah egois, satu hal yang masih mengganjal benak Fay yaitu kesungguhan Harv padanya.
Pernikahannya hanya berdasarkan kontrak keuntungan semata, jika dalam batas waktu dia belum kunjung memiliki momongan. Bukan tidak mungkin keluarga Smith akan mendepak dirinya.
"Apa dia selalu menyakitimu?" Pertanyaan Devan membuyarkan lamunan Fay.
"Aku minta maaf Dev, aku melibatkanmu pada kehidupanku yang buruk." sesal Fay dalam hidupnya dia menjadikan Devan sebagai pelampiasan rasa kesepiannya.
Devan menggeleng lemah kepalanya, terus mengusap lembut rambut Fay kemudian menciumnya mesra.
"Aku terlanjur mencintaimu Faye," bisik Devan lembut menjelaskan keadaannya. "Matipun tidak masalah asal bisa bersamamu!"
DEEGG!!
"Maafkan aku..." lirih Fay memeluk prianya dan terisak disana.
"Aku jatuh cinta padanya, tapi aku sadar menjadi Nyonya Smith tidak segampang dan sesimple yang terlihat di publik." Fay mencoba menjelaskan kondisinya saat ini. "Harv adalah orang berpengaruh, dilihat dari sisi manapun selalu ada kesenjangan diantara aku dan dia." imbuhnya.
"Harv selalu berada di puncak piramida, sedangkan aku justru di tangga terbawah. Saat aku mencoba menggapainya semua orang akan menatapku tidak percaya." tutur Fay pilu. "Semua orang hanya akan benggapan bahwa aku adalah alat yang di gunakan Harv untuk kelangsungan bisnisnya. Haha" Fay terkekeh pedih kembali mengingat posisinya.
"Aku memang menikah kontrak dengannya, aku sudah berusaha keras untuk tidak jatuh cinta padanya. Seperti yang sudah di kenal di jagat media, rumor Harv dengan para artis ternama tidak pernah padam." Fay kembali terisak.
Fay kembali menangis di dalam pelukan Devan, pria itu mengerti kemana arah pembicaraan kekasihnya membuat dia ikut merasakan patah hati yang serupa. Devan menyadari dia hanya pelampiasan semata, "Menangislah Sayaaang... Sebelum aku kenakan biaya!" canda Devan yang sejujurnya tidak suka mendengar wanitanya menangis.
"Haha..." Fay terkekeh atas usaha Devan menghibur seperti biasanya.
^^^Tenggelam, jiwaku dalam angan...^^^
^^^Tak kulihat lagi cahaya cinta, dan kamu hadir coba bawa bahagia.^^^
^^^Ketika ku masih mati rasa... Kar'na─^^^
^^^Dia yang pertama membuatku cinta...^^^
^^^Dia juga yang pertama membuatku kecewa...^^^
^^^Kamu yang pertama menyembuhkan luka...^^^
^^^Tak ingin lagi ku mengulang keliru akan cinta...^^^
^^^Jadi kisah yang sempurna─^^^
^^^[ Kisah Sempurna - Mahalini ]^^^
__ADS_1
---
Keesokan harinya─
Hooeekkk... Hooeekkk... Hooeekkk...
Fay kembali memuntahkan makan siangnya, tepat saat Vanesh memasuki kamar mandi kantor mereka.
"Kenapa lu?" tanya Vanesh khawatir langsung menepuk pundak Fay.
"Entah lah sudah beberapa hari ini aku mual terus rasanya!" keluh Fay menekan kembali perutnya. "Ga ada yang bisa gue makan huaa~" rutuknya kemudian dengan terlihat sedikit berlebihan.
Fay mengeluh tanpa rasa curiga apapun, tapi tidak dengan sahabatnya yang langsung menatap serius ke arah Faye dan menyelidik dari atas hingga bawah.
"Kapan terakhir lu mens?" pertanyaan horor itu muncul kepermukaan.
"Hah?" Fay telah selesai membasuh wajah kusutnya, dia mencoba mengingat kapan seharusnya ia mendapat tamu bulanannya.
Fay membulat, dia sepertinya sudah telat beberapa hari. "Aku baru telat beberapa hari bukan berarti hamil kan? Biasa gejala mau mens gini juga!!" elak Felly di hadapan sahabatnya yang memutar bola matanya jengah.
"Ya bagusnya lo tes aja, biar lebih akurat dan terpercaya.. Kalo cuma ngira ama nebak jelas itu sesat!!"
Fay terpaku dengan nasehat Vanesh yang 100% akurat dan terpercaya. Sepanjang jalan pulang Fay sangat gelisah, hari ini dia meminta untuk pulang sendiri pada Devan, mengingat semalam dia sudah sangat ceroboh tinggal di apartemen Devan di saat para pengawal Harv bisa saja melaporkan tindak tanduknya pada bos mereka.
Bruukk!
"Ups... Eh Fay, sorry loh aku ga sengaja..."
Di depan pintu lift Fay bertubrukan dengan seseorang yang sudah di hafal Fay saat ini.
"Apa kamu penghuni baru disini? Aku sepertinya tidak pernah melihatmu sebelum-sebelumnya?" selidik Fay bertanya pada pria yang terlihat mencurigakan di mata Fay saat ini.
Fay sudah berada di penthousenya kurang lebih memasuki dua tahun lamanya. Selama itu juga dia tidak pernah berpapasan dengan penghuni lainnya. Hal lumrah jika Fay merasa sedikit curiga dengan sikap Alex yang seolah sengaja berada di dekatnya.
"Oh iya Fay, aku kan pindahan baru mau buka cabang kantor disini kan?" sahut Alex cepat dengan senatural mungkin. "Makanya Alresco minta XCorp design kantor, kamu lupa mulu ih~"
Fay menunduk terkekeh dan malu bersamaan. Alex semakin dibuat terpesona oleh wanita di hadapannya. 'Mengapa Harv selalu mendapatkan bagian terbaik di hidupnya?!'
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai unit Fay berada, Fay menundukan tubuh pamit lebih dulu hanya saja─
Greep!
Alex menarik salah satu tangan Fay membuat gadis itu terkejut dan ketakutan dalam waktu bersamaan. Fay segera menepisnya, membuat Alex tersadar akan respon berlebihan Fay.
"Sorry, a-ku cuma mau traktir kamu makan malam." tutur Alex gelisah. "Kebetulan aku tidak ada teman... Aku sedikit kesepian." ujarnya terlihat memelas.
Fay mengerutkan keningnya tidak menyangka pria di hadapannya begitu berani dan blak-blakan terhadapnya saat ini.
"Oh aku lupa, kamu udah punya pacar ya." ujar Alex sendu membuat Fay kembali mengerutkan keningnya. "Ya udah deh, good night Fay."
Fay terkekeh dengan tingkah Alex yang sedikit terlihat seperti anak kecil. Perawakan Alex sejujurnya jauh lebih dewasa dia juga tampan, hampir memiliki separuh paras Harv. Sorot matanya yang tajam dengan hidung mancung dan rahang tegasnya mengingatkan Fay akan ketampanan Harv yang sempurna di matanya.
"May be next time ya... Aku sedang tidak enak badan hari ini." sahut Fay menunjukkan senyuman. "Lagian aku tidak punya pacar, hehe" Fay berbalik dan meninggalkan Alex dalam lift dengan seringai kepuasannya.
__ADS_1
"Harv adalah suamiku sedangkan Dev adalah kekasih gelapku... Mereka tidak termasuk kategori pacar bukan?" gumam Fay lirih membuka pintu rumah.
Di sisi lain Alex menyeringai, "Ternyata wanita ini tidak mengakui keberadaan Harv sebagai suaminya. Haha!!"
"Harvey, jangan salahkan aku jika aku mengganggu wanitamu!" gumam Alex memiliki kesenangan baru dengan hadirnya Fay. "Dia sendiri tidak menganggapmu sebagai pasangannya HAHAHA!!!'
Setibanya di rumah Fay menjatuhkan dirinya di sofa, dia teramat lelah saat ini.
"Aku sungguh merasa sangat cepat lelah dan kepalaku terus berputar tidak karuan..." Fay kembali bangkit, maid tengah menawarkan beberapa pertanyaan seputar pelayanan malamnya. Fay hanya meminta di antarkan makan ringan dan susu hangat ke kamarnya.
Di dalam kamar Fay melepas seluruh pakaian kerjanya berencana berendam. Ponselnya masih dia non-aktifkan. Dia tidak ingin mendengar apapun tentang Harv, biarlah semua kembali dalam keadaan seperti sebelumnya yang terus dalam kepura-puraan.
Trak...
"Heh..." Felly tengah menatap alat tespack di hadapannya. Dia terkekeh juga menjatuhkan air matanya.
"Bagaimana bisa!!" Fay menundukan wajahnya frustasi.
Fay terus mencoba mengingat, setelah kejadian penculikan dia lupa dengan obat kontrasepsinya. Seminggu di Maldives dia juga tidak ada melakukan pencegahan apapun, terlebih Harv selalu membuang benihnya di dalam. Fay mengetuk kepalanya seperti orang bodoh!
Dengan cepat dia memasukan kembali alat tersebut dan menaruhnya di tas untuk ia buang keluar dari mansionnya sebelum Harv mengetahuinya.
Fay bangkit memasuki bak mandi, dia kembali menangis dan membenamkan dirinya sampai sebuah kecupan membangunkannya.
DEG!
"Harvey!" Fay bangkit dari kasurnya.
'Tungguuuu...'
Fay ingat dia tengah mandi, mengapa saat ini justru berada di ranjangnya? Terlebih kedatangan suaminya seperti mimpi rasanya. Harv menatap Fay dengan senyuman tampannya, sedangkan Faye tengah bersikap absurd mencubit lengannya kemudian mencubit pipi Harv.
"Aaaawwww!!"
Harv terkekeh dengan tingkah istrinya saat ini. "Cutie, jangan biasakan dirimu tertidur di bak mandi!"
"Kamu sampai demam begini." ujarnya menempelkan telapak tangan di dahi istrinya.
Fay masih tertegun, dia tengah mengumpulkan keseluruhan nyawanya. Fay menatap jam di atas nakas.
"WHAT THE FU CK!!" pekik Fay kasar saat dia melihat jam menunjukkan pukul satu siang.
Harv menggelengkan kepalanya bangkit dan berencana mengganti pakaian. Fay kembali menyelidik tampilan suami maskulinnya.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Fay lirih.
Harv membalikkan tubuhnya menunjukkan cetakan roti sobek aneka rasa di hadapan mata Fay yang sudah membulat sempurna saat ini.
"Ppfft! Sepertinya istriku tengah merajuk." ucap Harv menahan tawa sebelumnya. "Aku sudah berusaha keras menyelesaikan pekerjaanku yang tidak bisa ditunda walau aku sudah mengancam mereka semua!"
DEG!
'Apa aku harus percaya? Suara wanita itu─' batin Fay.
To be continued...
__ADS_1