Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 16 - Heartbreaker


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


"Masuk!"


Harv sudah berada di kantor pusat SG Company, Will tengah menghadap tuannya dan memberikan jadwal untuk seminggu kedepan.


"Semua pekerjaan ini membutuhkan anda kembali melakukan pekerjaan bisnis ke Inggris Tuan." terang Will.


Harv tengah memeriksa beberapa berkas yang butuh verifikasinya, kemudian menatap gadget dan memeriksanya dengan terus menggeser jari-jemarinya. Dia menjawab dengan anggukan sebagai tanda mengerti, setelahnya memberikan isyarat pada Will agar keluar.


"Tunggu!" Harv kembali memanggil Will sebelum dia menghilang di balik pintu besar ruangannya.


"Iya Tuan, apa ada yang anda inginkan?"


"Ya, coba kamu periksa siapa pria yang bersama Faye semalam di Mall yang sama denganku!"


Will mengerti dan menundukan kepalanya, terlihat oleh asistennya itu tuannya tengah gelisah saat ini.


"Kamu kirimkan makan siang untuknya dari resto kesukaannya." titahnya kemudian.


"Baik Tuan, apa ada hal lainnya?"


"Tidak, pergilah!"


Will meninggalkan ruangan dan menutup pintu perlahan, setelah kepergian Will, Harv menghembuskan nafas berat. Rasanya dia tidak bisa fokus saat ini. "Jangan pernah coba-coba bermain di belakangku Fay!"


Harv sendiri tidak tahu bahwa dia sebenarnya tengah di landa kecemburuan yang besar, baru kali ini dia terus memikirkan hal kecil seperti ini. Sedangkan di kantor XCorp Devan menyuruh Fay menyiapkan berkas dan seperti biasa berkunjung ke ruangannya.


"Proyek ini sudah bisa kamu mintakan payment bulan depan." Devan tengah memberikan instruksi pekerjaan pada asistennya.


Fay terus menatap tampilan selingkuhannya yang jika dalam mode serius terlihat tak ubahnya suaminya. Hanya perbedaan umur mereka yang cukup jauh membuat Devan jauh terlihat lebih muda dan santai.


"Oh iya, kemarin manajemen bilang kita akan melakukan tender proyek besar dengan SG Company. Kamu undang rapat dengan pihak terkait mengenai design dan juga penentuan anggaran biayanya ya."


DEG!


Seketika Fay terlonjak mendengar kantor suaminya di sebutkan oleh Devan. Melihat respon Fay yang tidak seperti biasanya justru membuat atasannya itu mengernyit heran.


"Fay?" seru Devan membuyarkan kegelisahan Fay yang kini menjawab gagap.


"Eh, iya Pak segera saya siapkan..." sahut Fay dengan senyuman manisnya.


"Fay..." Devan bangkit menaruh pena dan berkas yang tengah ia periksa. "Apa kamu masih tidak enak badan?"


Devan sudah berada di samping tempat duduk Fay, dengan merapatkan tubuhnya di samping meja bersidekap tangan menatap tajam kekasihnya.


"Hehe, I'm okay..." Dengan sedikit kekehan palsu Fay menjawab seperlunya, dia tidak mungkin mengatakan dia sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku sangat mengenalmu Sayang, meski baru jalan enam bulan tapi ini cukup aku mengerti kamu tidak bisa membohongiku Fay!" Devan mendekat mengangkat wajah sendu wanita si pencuri hatinya.


Fay tersenyum merasakan kehangatan setelah sebelumnya dia terus di landa emosi karena kecewa. Fay bangkit mendekati tubuh atasannya dan seperti biasa tidak ada yang menolak pesona Fay dalam merubah suasana.


"Aku baik-baik aja Sayangnya aku..." bisik Fay di depan wajah Devan yang sangat dekat, saking dekatna mereka suda berpagutan mesra.


"Aku sangat mencintamu Faye Yvonna..." tutur Devan sendu. "Jangan pernah memaksa dirimu sendiri, kamu punya pilihan untuk hidup bahagia dengan melepaskan orang yang menyakitimu dan memilih bersama orang yang bisa membahagiakanmu." sambungnya menekan bibir Fay tanpa melukainya dan menciumnya kembali.


Fay menutup matanya erat, satu butir air matanya lolos terjatuh atas penuturan kekasih gelapnya itu.


"Aku selalu ingin menyalahkan takdir, mengapa aku tidak lebih dulu bertemu denganmu. Mungkin saat ini aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini memiliki pria sepertimu..." ujar Fay begitu sesak mengutarakannya.


Devan terharu tengah berkaca-kaca, dia memeluk erat Fay. Dia juga menyesal mengapa baru bisa di pertemukan dengan Fay saat dia sudah di miliki pria lain yang tidak bisa membahagiakannya sampai harus menjalin hubungan gelap bersamanya.


Fay bersyukur, Tuhan menghadirkan Devan untuk mengobati luka yang di torehkan oleh suaminya. Miris rasanya...


"Makan siang bareng ya?" ajak Devan lembut mengusap wajah Fay memastikan tidak lagi ada air mata yang menghiasi wajah cantik kekasihnya.


"Oke..." sahut Fay cepat.


"Hotel biasa?" bisik Devan mendadak berhasrat.


"Mesuum..." goda Fay mengeratkan pelukan.


"Isshh kamu kan kalau maksi mintanya di Resto Hotel melulu!" keluh Devan bercanda.


---


"Fay, bagian reseptionist bilang ada kurir makanan nunggu di bawah atas nama you!" seru Vanesha membuyarkan pekerjaan sahabatnya.


Fay tertegun sejenak, dia tidak merasa memesan apapun. "Tapi gue gak pesen apa-apa?"


Vanesh hanya bisa menaikan bahu dan menyuruh Fay cepat ambil pesanan di bawah. Dengan enggan Fay turun menuju lantai dasar mengambil paket nyasar entah milik siapa.


"Bener kok buat gue?" Fay menyelidik tampilan box katering dari salah satu resto kesukaannya. Bahkan menu yang di kirimkan adalah menu favoritnya.


Tanpa memeriksa lebih lanjut Fay segera menuju ke atas di takut Devan mencarinya.


Tring!


Sebuah pesan singkat masuk di daftar chat milik Fay. Dia bergegas membukanya, setelah membacanya dia mengerti siapa yang mengirimkannya makanan.


[ Have a good lunch Honey! ]


Satu detik setelah pesan masuk dan terbaca suaminya langsung menghubunginya.


"Halo..." sapa Fay datar.

__ADS_1


"Sudah kamu terima?" Suara husky di sebrang sana sejenak meruntuhkan ego Fay untuk bertahan pada posisi merajuknya.


"Oh, jadi ini pesanan yang Sayang kirim ya? So Sweet... Thank you..." Dengan cepat Fay melakukan seperti biasanya. Menyanjung prianya...


"It doesn't matter..." ucap Harv tengah tersenyum di sebrang sana.


"Harusnya sayang gak usah repot-repot... Aku biasa makan siang keluar." Rasanya Fay tidak ingin percakapan mereka terhenti saat ini juga.


"Jangan terlalu sungkan, aku tidak ingin istriku terlambat makan siang karena pekerjaannya."


Sejenak Fay merasa terenyuh dengan perhatian luar biasa yang tidak pernah pria itu lakukan selama ini. 'Mungkinkah ini bujukanmu agar aku memaafkanmu hah?'


"Thank you..." lirih Fay sendu membuat keadaan terasa canggung.


"Cutie, siang ini aku akan terbang ke Inggris... Maaf aku tidak sempat berpamitan langsung─"


"Oke be carefull..."


Harv merasa tidak nyaman dengan tingkah Fay saat ini, belum selesai kalimat yang di ucapkannya sudah lebih dulu di jawab oleh istrinya.


"Oh iya, barusan Pengurus Tang menyampaikan pesan Mama. Mereka membawakanmu dua pelayan untuk membantumu di rumah... Kamu tidak perlu cape dengan urusan rumah lagi..." tukas Harv dingin.


"APAAAA?!!" pekik Fay tidak terima, ini sama saja dengan mengamati gerak-geriknya.


"Aku tidak mau!" tolak Fay segera.


"Faye, patuhlah... Jika tidak maka Mama akan menggantikan posisi Nyonya Muda Smith nantinya."


DEG!


Hampir saja Fay menjatuhkan ponselnya saat Harv dengan datar dan dingin mengatakan kalimat yang melukai perasaannya. Tanpa ingin memperpanjang urusan dia mematikan panggilan dan mengusap air matanya melanjutkan memasuki ruangan.


"Van, nih gak usah beli makan siang. Gue udah janjian maksi ama Si Bos soalnya..."


Fay menyerahkan makan siang yang di siapkan oleh suaminya pada sahabatnya. Vanesha yang memang sedang malas keluar merasa kejatuhan keberuntungan. Dengan mengacungi jempolnya Vanesh berterima kasih dan memberi ejekan halus yang semakin hari dia merasa keduanya semakin memperlihatkan keintiman.


Selama di perjalanan dari kantor menuju hotel seperti biasanya hanya ada kesunyian membuat Devan semakin yakin wanitanya tengah tidak baik-baik saja.


"Fay..."


"Ya Sayang?" sahut Fay segera menyadari kekasihnya mencurigainya.


Fay menggelayut manja di lengan kekasih gelapnya, Devan menyeringai dia kesal Fay paling tahu kelemahannya.


"Kita cek-in kamar ya..." goda Devan.


Dengan senyuman dan anggukan Fay menyetujui saran kekasihnya. Devan mencium jemari tangan Fay membuat sakit hati Fay sedikit menguap dan berharap dia tidak lagi memikirkan hal yang membuat hatinya sesak.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2