Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 61 : Balasan setimpal


__ADS_3

Beberapa waktu yang lalu...


"Ada hubungan apa kamu dengan istriku?!"


Devan menyeringai, dia tidak menyangka bahwa perselingkuhan dengan istri sang penguasa terbongkar secepat ini. Dia di bawa paksa mengunjungi kantor SG Company bertemu dengan Tuan Muda Smith.


"Maksud anda?! Hubungan saya dengan Angella?!"


Braaaaak!! 


Harv menggebrak meja kerjanya, di tatapnya Devan penuh nyalang. Ingin rasanya dia membunuh pria itu saat ini juga. Setelah mengetahui kelakuan dia dan istrinya selama ini dibelakangnya.


Tetapi dia urungkan. Jika Fay mengetahui dirinya membunuh atasan yang jadi pelampiasan hasratnya dia yakin Fay akan membenci dirinya.


Beruntungnya Devan setelah mengetahui Fay merupakan istri sah Tuan Harv, Devan mengetahui beberapa skandal pria besar itu yang dia yakini menjadi akar permasalahan mengapa Fay sampai selingkuh dan memilih dirinya sebagai pelampiasan dan orang yang tepat membalaskan rasa sakit Fay selama ini.


"Jangan menguji kesabaranku Tuan Devan!" tukas Harv dingin dan angkuh di kursi kebesarannya. "Kamu adalah atasan istriku..." Harv beranjak mendekat menatap tajam mangsanya. "Istriku satu-satunya Fellycia!!"


Harv kembali bersandar, menggerakkan tangan mengisyaratkan perintah untuk Will. Will mendekat dan menuang gelas kosong milik tuannya dengan wine yang tersedia.


Devan sungguh takjub dengan kekuasaan pria di hadapannya. Satu gerakan tangannya saja tanpa kata asistennya mengerahui apa yang diinginkan tuannya dan melayaninya dengan patuh.


Harv bangkit membawa gelas minumannya dan menyesapnya dengan menikmati pemandangan kota XY dari atas gedung miliknya.


"Kamu jangan terlalu senang hati hanya karena mendapat perhatian khusus dari istriku. Dia hanya tengah bermain-main, dan kamu cocok sebagai pelampiasan kekesalannya padaku!"


Harv berbicara senormal mungkin walau kenyataannya emosinya tengah bergemuruh hebat dan ingin dia salurkan saat ini juga.


"Jauhi istriku mulai sekarang!! Atau kau akan menerima konsekuensinya..."


Harv berbalik badan menatap nyalang Devan yangasih di tempatnya. Terduduk rapi sesekali terkekeh lirih menundukan tubuhnya.


"Atas dasar apa anda menyuruh aku menjauhi rekan kerja bahkan asistenku sendiri?!" ujar Devan santai tidak terdengar takut sekalipun dia menyadari mungkin saja nyawanya terancam kali ini.


"Kau sungguh lancang!" hardik Will bersiap memberikan pelajaran pada pria tidak tahu diri di hadapannya. Hanya saja gerakannya tertahan saat Devan dengan cepat kembali mencecar tuannya.


"Dimana anda saat wanitamu menangis dan membutuhkan teman berbagi?! Selama ini akulah yang menemaninya dan menghapus air matanya atas kelakuanmu dan skandalmu!!"


Deg!


"Jika memang tidak bisa bertahan dengan satu wanita atau tidak mampu membahagiakannya maka lepaskan dia. Aku yang akan menggantikan anda menjaganya di sisa usiaku kelak!" tukas Devan lantang tak kalah mengancam di hadapan Harvey.


"HAHAHAHAHA!!" Harv tertawa keras dengan pernyataan Devan, walau dia akui hatinya cukup sakit saat pernyataan Devan benar adanya.


"Kau tidak cukup mengetahui istriku Tuan Devan!" Harv kembali berbalik menyesap sisa wine di gelasnya.


"Fay sangat mencintaiku, kau pasti jelas mengetahuinya! Lagipula─"


Harv menyerahkan gelas pada Will berjalan tegas menghampiri Devan. Terlihat raut wajah Devan yang mulai gusar dan menelan salivanya.


"Sekalipun dia menjadi mantanku, tidak ada yang boleh memilikinya setelah diriku!" Harv menatap tajam menyeringai dengan angkuhnya.


Devan menunjukan senyum culas membalas Harv yang mengintimidasinya, "Kamu tidak pernah berpikir kebahagiaannya kah?!"


"Jika bukan karena aku terlalu memikirkan kebahagiaannya saat ini juga aku memenggal kepalamu!!" pekik Harv mencekik leher Devan dengan cepat.


Devan tersentak, gerakan Harv dan cekikan tangan pria berkuasa itu semakin lama semakin menghimput tenggorokannya. Sekuat tenaga Devan melepaskan cengkraman tangan Harv namun dia seperti tengah kehabisan oksigen saat ini.

__ADS_1


Bruuk!!


Harv menjatuhkan tubuh Devan, secepatnya dia menghirup oksigen dan mengalirkannya ke seluruh tubuhnya.


"Kamu sungguh membuang waktuku!! William bawa dia pergi, beri dia hukuman yang pantas karena sudah berani menyentuh yang bukan milikmu!!"


Deg!!


'Seperti ini kah akhir kisahku dan Fay? Hehe...' batin Dev mengolok dirinya sendiri.


"Baik Tuan..." Will segera menghampiri Devan yang masih tertegun di tempatnya.


"Apa kamu tahu Tuan Harvey Smith? Fay pernah berkata padaku─" Devan masih bersikukuh berdebat dengan Harv. Hal ini dia lakukan semata menyerang mental pria di hadapannya.


Will menghentikan langkahnya saat gerakan tangan tuannya mencoba menghentikannya dan ingin Devan melanjutkan pembicaraan.


"Fay pernah berkata padaku, seandainya dia lebih dulu bertemu denganku dia tidak akan semenderita seperti sekarang ini menjadi istri rahasiamu!" tukas Devan dengan seringai kemenangannya.


DEG!! 


Bug!!!


"Kau sungguh lancang di depan Tuan Harv!" Will dengan segera memukul Devan hingga pria itu tersungkur di lantai. Dia menyeka sudut bibir yang berdarah akibat pukulan keras yang dia terima.


Harv mengepalkan kedua tangan hingga buku jari jemarinya memutih menahan semua gejolak emosi yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Buat dia tidak menampakan dirinya beberapa hari di depan Fay, selanjutnya buat dia seolah memiliki tugas keluar!!" titah Harv tidak ingin menahan lebih lama bajingan di depan matanya.


"Baik Tuan!!"


"Cih, kamu hanya berani melakukannya di belakang Fay!! Jika benar Fay mencintaimu maka lakukan hal ini di depannya dan buat dia sendiri yang mengatakannya aku tidak akan membantah!"


Harv meninju wajah Devan yang kedua kalinya hingga kembali tersungkur. Dia sudah tidak bisa menahan lagi amarahnya.


"MENJAUH DARI FAYE SEKARANG JUGA!!"


Will menyeret tubuh Devan secara paksa keluar dari ruangan tuannya. Emosi Harv sungguh telah mencapai puncaknya ingin rasanya dia membunuh seseorang saat ini juga.


"Tuan... Saya mendapatkan sesuatu mengenai Tuan Alex!"


Salah satu bodyguardnya menghampiri Harv yang masih begitu emosi. Setelah kepergian Will datang salah satu anak buahnya melapor.


"Apa itu?!"


Si pria menampilkan rekaman kamera pengawas di beberapa tempat termasuk penthouse mereka melalui tab miliknya.


"Dia terlihat beberapa kali menemui Nyonya, Tuan!"


Praaaaaang!


Gelas yang dipegang oleh Harv terjatuh dari tangannya. Sorot matanya yang tajam menerawang ke depan.


"Kamu awasi terus pergerakannya!"


Secepatnya Harv menarik jasnya dan keluar ruangan menemui seseorang.


---

__ADS_1


"Hari ini cukup sekian, kedepannya design final akan di kirim ulang melalui surel."


Alex dan team penanggung jawab pekerjaan dari XCorp beserta Fay tengah melakukan rapat pekerjaan.


Sedari rapat dimulai Alex hanya memperhatikan Fay yang tengah melakukan pekerjaannya sebagai notulen rapat. Hari ini tuan John sendiri yang menggantikan Devan menemui klien mereka.


Fay terpaksa melakukan persiapan sendiri, biasanya Devan akan memberikannya materi yang sudah di kelompokan untuk dia olah. Devan tidak pernah memberatkan pekerjaan Fay. Sebaliknya dia selalu mempermudah urusan kekasih gelapnya itu.


"Baiklah, saya akan menantikan prototype ulang yang di kirim nona Fay pada email saya langsung ya!" ujar tuan Alex menutup diskusi mereka. "Kebetulan sudah waktunya makan siang, bagaimana jika aku traktir makan siang sekalian?!" ajak Alex menatap penuh makna pada tuan John.


"Wah, anda terlalu repot-repot tuan Alex..." sahut tuan John canggung.


"Ah bukan masalah... Mari!"


Alex bangkit dan mempersilahkan Fay lebih dulu. Fay tersenyum canggung menanggapi sikap berlebihan Alex padanya.


Sesampainya di salah satu resto terkenal yang tak jauh dari lokasi kantor XCorp, wanita itu merogoh tas kerjanya dikarenakan ponselnya bergetar.


Ddddrrrttt... Ddddrrrttt...


"Maaf saya ijin menjawab panggilan sebentar." pamit Fay pada seluruh anggota yang ada disana. "Silahkan di lanjut tanpa saya..."


Fay berlalu sedikit menjauh setelah mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.


"Haloo..."


"Cutie, kamu dimana?" tanya suaminya segera.


"Aku di ajak makan siang oleh klien di dekat kantor." sahut Fay gelisah.


"Oh ya, baiklah..." tukas Harv datar.


"Apa kamu sedang makan siang juga?" Tiba-tiba saja Fay memperpanjang durasi percakapan mereka.


"Ini aku sedang menuju resto."


"Ok honey, have a nice lunch... Mmmuuach!" sambung Fay riang membuat Harv merona di tempatnya.


Fay segera menutup panggilan dari suaminya dan beranjak kembali menuju tempat rombongan kantornya.


"Sorry saya lama." Fay mendekat seketika Alex berdiri dan menarik kursi untuk di gunakan Fay tepat di sampingnya.


Fay lagi-lagi tersenyum canggung tak lupa mengatakan ucapan terima kasihnya.


"Wah, sepertinya Tuan Alex sudah tidak begitu canggung dengan Fay. Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" Tuan Jhon mencurigai sikap manis tuan Alex yang selalu di tampilkan di depan Fay. Bahkan sebelumnya pria cukup berpengaruh itu memesan kursi khusus untuk Fay berada disamping dirinya.


"Iya, sangat kebetulan sekali aku mengenal Fay sebelumnya, bahkan aku pikir bisa berjodoh dengannya karena aku kembali di pertemukan di proyek kerja sama ini!" tutur Alex menatap lekat Fay dengan seringainya.


Fay semakin gelisah, dia kurang nyaman dengan perkataan Alex akan kedekatan dirinya.


"Wah, Fay ternyata kamu dewi keberuntungan XCorp... Hahaha" Puji tuan John.


"Ah tidak, mungkin semua kebetulan saja!" Fay mencoba mengelak.


"Well... Well... Well..."


Tiba-tiba saja ada suara lain mendekat ke arah mereka. Fay terbelalak saat suara bariton yang ia kenal berada dekat dengannya. Dia melirik langsung ke asal suara. Terlihat suaminya di temani Will menghampiri meja mereka.

__ADS_1


Alex menyunggingkan senyum culasnya, tidak menyangka secepat ini Harv menyadari keberadaannya yang mulai menargetkan istrinya.


To be continued...


__ADS_2