
"Tantee..."
"Oh, Angella? Kamu datang tidak ada kabar... Tante tidak ada persiapan..." tutur nyonya Jane sediki terkejut saat melihat wanita muda cantik di hadapannya saat ini.
Seorang wanita muda yang terlihat begitu cantik dan bersinar itu tiba-tiba berkunjung ke kediaman besar Smith. Wanita itu di antar pengurus Tang bertemu dengan nyonya besar Smith atau nyonya Jane. Keduanya langsung berpelukan melepas kerinduan.
"Kamu kemana aja sayang? Kamu tambah cantik begini..." puji nyonya Jane pada Angella.
"Ah tante bisa aja..." Angella menunduk tersipu malu. "Aku tengah sibuk dengan project film besarku di luar." sambungnya duduk di sebelah nyonya Jane setelah di persilahkan wanita paruh baya itu.
"Heh, seandainya dulu kamu tidak keras kepala mengejar karier mu mungkin sekarang kamu yang jadi Nyonya Muda Smith sayang!" gerutu nyonya Jane membuat Angella tersentak.
"A pa?!" lirih Angella berusaha meyakinkan kembali ucapan wanita yang sudah di anggapnya ibu mertua.
Angella Liem adalah teman sepermainan Harvey, keduanya sudah saling mengenal dari mereka masih begitu kecil. Hubungan kedua keluarga besar Smith dan Liem semakin erat saat Harvey dan Angella menjalin hubungan saat mereka memasuki masa perkuliahan.
Hanya saja Angella yang begitu terobsesi dengan karier di dunia hiburannya dua tahun yang lalu memutuskan untuk menunda pernikahan demi projek film besar yang akan mengantarkannya menjadi Best Artis tahun ini. Pernikahan hanya akan menghambat karier dan juga kehilangan penggemarnya.
Angella berusaha menata debaran jantungnya yang seperti tengah di remas dengan kencang oleh keadaan saat ini. Dia tidak ingin menyesalinya, dia tidak boleh menjatuhkan air matanya walau dia sangat ingin.
"Jadi Harv sudah menikah? Siapa wanita beruntung itu?"
---
Di perusaan XCorp Fay sudah selesai melakukan pekerjaan yang di titahkan oleh atasannya. Fay sudah mensubmit proposal kerja sama pada SG Company yang merupakan perusahaan suaminya. Fay mengikuti prosedur sebagaimana mestinya, dia mengirimkan e-mail pada asisten khusus William.
"Fay, clubbing yuk! Laki lu kan lagi di luar juga..." Vanesh mendekati meja kerja Fay. "Biar segeran dikit lah kepala kamu. Dari kemaren mewek mulu kan?!" imbuh Vanesh meyakinkan sahabatnya yang sudah beberapa hari ini terlihat murung.
"Bolehlah..." sahut Fay merapihkan meja kerjanya.
Tak berapa lama terlihat Devan dari arah luar menghampirinya. "Ayo Sayang kamu sudah siap?" tanya Devan lembut tak tanggung di depan Vanesh memanggil Fay begitu mesra seperti itu.
"Ehmm... Buset deh... Emang udah deklarasi jadi pasangan?" cibir Vanesh menatap Devan mengejek.
Devan mendengus kesal. "Bukan urusan lo..."
__ADS_1
"Dih gak tahu terima kasih, kalau bukan gue yang kenalin Fay lebih deket lu mana ada tuh bisa manggil Sayang kek gini!" sungut Vanesh terbawa emosi.
"Huuss... Udah ah, Dev kita mau clubbing... Sorry..." tolak Fay pada ajakan pulang bersama dengan pacar rahasianya itu.
"Haiisshh..." Devan membuang nafas berat. "Aku boleh gabung? Aku ajak temanku juga boleh?" bisik Devan mendekat merangkul kekasihnya. DIa begitu rindu seharian ini dia tidak menyentuh kekasihnya.
Vanesh sudah bisa menebak, di banding menjadi obat nyamuk dia pamit lebih dulu. Devan bersyukur sahabat kekasihnya itu begitu pengertian.
"Kita semobil ya?" ajak Devan mencium ceruk lehe kekasihnya.
"Deeev ini di luarr ruangaan..." rutuk Fay mendorong tubuh Devan.
"Hehe sorry, aku kangen banget sama kamu soalnya." tuturnya kembali melepaskan tubuh Fay dan menggenggam erat jemari tangan setelahnya keduanya keluar bersamaan dari ruangan menuju pelataran parkir.
Tak lama mereka semua telah berkumpul di salah satu club malam terkenal dan terbesar di kota. Fay menenggak satu gelas kecil Tequila miliknya kemudian kebali meliukkan tubuhnya yang di perhatikan lekat oleh Devan yang sudah berhasrat padanya. Devan tak segan lagi memeluk tubuh Fay dari belakang dan menciumi ceruk leher Fay bertubi-tubi, Fay menunduk dengan kekehan malunya.
"Cieee yang di mabuk cinta, berjuta rasanyaaa~" pekik Revan mengolok keduanya.
Kedua temannya sudah bergabung, masing-masing membawa pasangannya. Revan tengah membawa perempuan one night-nya sedangkan Stevan masih bertahan menjalin hubungan dengan Vanesh.
"Mau kemana mereka?" tanya Fay menyelidik.
"Kek gak tahu aja..." cibir Revan juga bangkit mengajak wanitanya menuju hotel yang berada persis di samping club.
"Ta-pi... Awas aja kalau Stevan nyakitin Vanesh!" umpat Fay tidak terima jika temannya hanya jadi alat pe muas saja.
"Heh, kenapa kamu begitu perhatian dan peduli pada orang lain... Apa kamu tidak mau peduli pada keadaan kita sekarang?" bisik Devan kembali menciumi ceruk leher kekasihnya.
"Kita ke kamar yuk..." ajak Devan yang di balas dengan anggukan oleh wanitanya.
Tanpa di ketahui Fay bahwa suaminya sudah berada kembali di negaranya dan tepatnya di club yang sama. Harv segera melacak keberadaa Fay dari sinyal ponsel istrinya itu.
"Heh, istriku paling tahu waktu bersenang-senang!" keluh Harv menyusuri club mencari keberadaan istrinya.
Fay yang tengah di papah menuju area VIP tak sengaja menangkap siluet pria yang begitu di hafalnya. Degub jantung Fay berdetak tidak karuan, wajahnya mendadap pucat dengan bola mata yang sudah hampir keluar.
__ADS_1
'Harv? Mampuuusss guee!' jerit Fay dalam hatinya.
Dengan cepat Fay memikirkan cara agar terlepas dari kekasih gelapnya tanpa perlu memberi-tahukan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Fay belum siap jujur pada Devan siapa sebenarnya pria yang memiliki status dengan dirinya.
"Aduuhhh... Dev, aku ke toilet bentar yaaa!" rengek Fay menarik tangan Devan dan berpura-pura menahan hajat kecilnya.
Devan mengernyit namun dia terkejut Fay sudah berlari menghindarinya sebelum dia ijinkan. Fay terus menghindar berlari mencoba menghindari semua orang sampai akhirnya dia tidak sengaja menabrak seseorang.
Bruuk!
"Upss.. Sorry..." Di saat ingin segera menghindari orang Fay malah tak sengaja menabrak seseorang hingga menghentikan langkah kakinya.
"Faye..." ucap seseorang yang masih bisa Fay ingat siapa suara itu.
Fay mendongak tak percaya dia kembali di pertemukan dengan pria yang paling dia benci seumur hidupnya.
"Zayn!" pekik Fay lirih.
"Heh, aku sangat senang bisa kembali melihatmu Fay!" sambung Zayn dengan wajah berserinya membuat Fay muak rasanya.
Zayn berusaha membantu Fay, namun tangan pria itu segera di tepis oleh Fay. "Menjauhlah dariku... Aku tidak mengenalmu!"
Fay berusaha lari hanya saja dia kembali di hadang seseorang di hadapannya saat ini.
'Betapa sialnya hari ini!' rutuk Fay dalam hatinya saat melihat siapa yang menghalangi jalannya.
"Kakak... Sudah lama kita tidak bertemu..." sambut wanita yang seumuran dengan Fay yang tak lain dan tak bukan adik angkat yang merebut pacarnya Zayn tengah berkacak pinggang di hadapannya.
"Heh..." Fay terkekeh lirih. Hari sial memang tidak pernah menampakan wujudnya di dalam kalender, sehingga dia harus menerimanya saat ini juga.
"Bagaimana kabar Kakak? Sudah hampir setahun Kakak tidak berkunjung..." ucap Greic sengaja di buat manis yang membaut Fay ingin muntah rasanya. "Tapi mengapa kita bertemu sekarang? Apa karena tahu aku akan menikah dengan Zayn, Kakak tidak rela dan menyusulnya kemari?" sambuh Greic mencoba memfitnah Fay.
Fay membuka mulutnya takjub, ternyata semakin hari Greic semakin menunjukan sifat aslinya. 'Mengapa mereka tidak mati saja berdua...'
To be continued...
__ADS_1