
Penthouse Condo Luxury.
Harv dan Fay sudah berada kembali di kediaman mereka. Benar saja nyonya Jane sudah berada disana dan tengah menunggu keduanya di ruang tengah.
"Gimana kabarmu Fay?" tanya nyonya Jane mendekat dan memeluk menantunya.
"Aku baik-baik saja Mom..." sahut Fay manja memeluk ibu mertua rasa ibu kandung itu.
"Dia selalu muntah bahkan pingsan." timpal Harv menambahkan dari belakang.
"Apaa?" Nyonya Jane merubah mimik wajahnya khawatir tapi tidak dengan hatinya yang bersorak gembira.
Seperti yang di rencanakan sebelumnya, nyonya Jane hanya perlu memastikan bahwa istri putranya itu benar-benar tengah berbadan dua.
"Duduklah dulu Mom, fay baru saja baikan dan dia sudah banyak berdiri tadi." ajak Harv merangkul pinggang istrinya.
"Apa kamu sudah melakukan test sayang?" tanya nyonya Jane penuh harap pada menantunya.
"Testt? Test apa?" tanya Harv balik mengerutkan keningnya.
Fay mengatupkan bibirnya erat, bisa sangat berbahaya jika nyonya Jane membeberkan kandungannya saat ini. Maka niatan memberikan kejutan sebulan lagi bisa gagal total.
"Mom, aku lapaaar dan tiba-tiba saja pengen masakan Mommy!" Fay tiba-tiba merengek menggelayut manja di lengan mertuanya saat ini.
"Benarkah sayang?!" Bukannya risih nyonya besar justru begitu senang. "Baiklah Mommy masakin, kamu mau makan apa?!" Di dalam benak nyonya Jane pastinya Fay tengah mengidam setelah meminta buah-buahan masam pada suaminya di mall. "Kamu mandi lah dulu Sayaang, Mommy bakalan masakin kamu... Kamu butuh banyak makanan sehat biar cepat sehat!" bujuk nyonya Jane merangkul bahu menantunya.
"Aku sangat menyukai Beef Yakiniku bikinan Mommy... The best!" ujar Fay mantap menunjukan dua jempol di hadapan mertua perfect all kill-nya
Harv semakin melebarkan senyuman di wajah rupawannya, dia begitu bahagia melihat dua wanita yang paling dia cintai di dunia terlihat begitu saling menyayangi satu sama lain. Tak lama Will memberikan sekantung obat-obatan milik Fay yang sudah dia tebus setelah un memberikan resepnya.
Fay tidak menuju kamarnya dia bersikeras ingin membantu ibu mertuanya menyiapkan makanan. Hanya saja saat memasuki dapt perasaan mual kembali mendera perutnya dan tanpa bisa Fay tahan saat ini juga Fay mengeluarkan suara muntahannya.
Hooeekk!!
"Sayang!" pekik Harv menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya dia bergegas menghampiri istrinya.
"Mommy kan udah bilang kamu gak perlu bantu Mommy, ada maid yang akan melakukannya!" omel Nyonya Jane menekan jemartelunjuk di kening menantu keras kepalanya.
"Kamu gak enak lagi ya? Yun kan udah bilang kamu harus bed rest kamu gampang muntah!" tutur Harv merengkuh tubuh Fay.
Perasaan Fay membuncah luar biasa, tidak pernah dalam hidupnya dia di perhatikan berlebihan seperti ini oleh sebuah keluarga besar paling berkuasa di negaranya. Tak lama perasaan sensitif menguar di diri Fay dia kembali terisak.
"Cutie..."
Harv menyeka air mata istrinya, tanpa ingin berbicara Fay hanya ingin membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Nyonya Jane sangat memahami kondisi menantunya saat ini.
"Bawa istrimu ke kamar kalian," titah nyonya Jane lembut. "Fay harus selalu mendapatkan udara terbuka agar dia tidak merasa mual dengan bau menyengat." terang nyonya Jane kembali menasehati putranya.
__ADS_1
"Harv kamu siapkan air hangat untuk istrimu, pijatlah lembut badannya dia pasti sangat membutuhkannya. Tubuhnya akan sangat lelah di waktu seperti ini."
Harv terus menyimak pesan ibunya tanpa ingin membantah justru akan melakukan semuanya demi istri tercintanya.
Fay melonggarkan pelukan dan berbalik badan menghambur memeluk mertua idamannya.
Bruuk!
"Terima kasih Mom... Anda adalah ibu terbaik sepanjang sejarah!" puji Fay masih dengan isak tangisnya.
Nyonya Jane tersenyum bahagia, dia membalas pelukan Fay dan menepuk punggung menantunya berkata menenangkan. "Kamu jangan sungkan, kamu sudah Mommy anggap putri sendiri."
"Sekarang mandilah, jika sudah siap akan ada orang yang memberitahu kalian."
Fay dan Harv pamit menuju lantai dua dimana kamar mereka berada. Di depan anak tangga Fay merengek menguji iman suaminya.
"Gendooong!" rengek Fay manja menarik salah satu tangan suaminya.
"Hahahha..." kekeh Harv menyukai tingkah kelinci menggemaskannya. "Kamu semakin manja saja Cutie..."
Fay mengerucutkan bibirnya tidak menyukai respon suaminya yang tidak serta merta menggendongnya saat ini juga. "Gak suka ya aku tambah manja?!" cibir Fay merajuk.
"Hahaha, sangat suka Cutie!" Dengan cepat Harv mengangkat tubuh istrinya dan menuju kamar mereka.
Fay mengulas senyuman kemenangan, dia membenamkan kembali wajahnya di dalam dada bidang prianya yang harum semerbak melambungkan asanya.
"Eh?" Kening Harv berkerut, selama ini Fay tidak pernah semanja ini sebelumnya. Fay yang Harv kenal satu tahun lalu terlalu mandiri baginya.
Harv berbalik dan berencana menurunkan istrinya di ranjang.
"Aku tidak mau turun!! Aku mau di gendong terus!" pekik Fay semakin membuat Harv menggelengkan kepala dengan kelakuan istrinya saat ini.
"Kamu tidak ingin aku tinggalkan?" goda Harv malah membuat keadaan mereka sendu kali ini.
Harv menuruti istrinya dia duduk bersandar pada kepala ranjang dan memeluk tubuh Fay yang berada di gendongannya. Harv memainkan rambut tergerai panjang istrinya dan mengecupnya perlahan. "Apa begini sudah boleh?" tanyanya perlahan.
"Hm..." Fay menganggukkan kepalanya.
"Honey..." seru Fay kemudian mendongak menatap wajah suaminya.
"Ya?" sahut Harv lirih mencium bibir Fay sekilas.
Tiba-tiba hati Fay di selimuti awan kelabu. "Aku sangat mencintaimu Harvey, apa kau percaya?" tanyanya tiba-tiba.
Harv tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. "Tentu saja..."
"Tapi─" Fay menjeda kalimatnya, ragu untuk melanjutkan. "Bagaimana jika aku mengecewakanmu Honey?" Pada akhirnya Fay memberanikan dirinya. Dia harus menyelesaikan permasalahannya dengan Devan, hanya saja dia sendiri semakin gelisah. Jika Harv lebih dulu mengetahuinya, apa yang akan dilakukan pria itu pada dirinya?
__ADS_1
"Apa kamu akan membunuhku jika tahu mengcewakanmu?" tanya Fay kembali lirih dan sesak bersamaan.
Harv mendadak terdiam dengan pertanyaan istrinya, dia tahu sangat tahu apa yang sudah di lakukan istrinya di belakang dirinya selama ini. Hanya saja Harv seolah memiliki jawaban sendiri untuk meyakinkannya bahwa bisa jadi Fay memiliki alasan sendiri.
Bahkan tanpa Fay ketahui, bahwa Harv melihat dengan mata kepalanya sendiri saat wanitanya bermesraan dengan pria lain yang tak lain bos dimana istrinya bekerja. Sakit? Tentu saja...
Saat Harv ingin mempermasalahkannya dia mendapati Fay pingsan di dalam bak kamar mandinya. Rasanya dia bisa menarik kesimpulan kasar, bahwa Fay tengah mencari pelampiasan setiap kali Harv berulah dengan wanita lain yang di ketahui oleh Fay.
"Bagaimana mungkin aku membunuhmu sayang? Kamu adalah nyawaku..." tutur Harv tenang.
"Kamu mati aku pasti ikut mati!" lanjutnya seraya mencium pucuk kepala Fay.
'Aku harap kamu tidak melakukan hal di luar batas kesabaranku Fay...' batin Harv pilu.
Tubuh Fay bergetar hebat, Fay menangis dalam diam tanpa ingin bersuara. Harv tidak bisa melakukan apapun. Hatinya juga sakit, keduanya sama-sama tengah menenangkan diri mereka. Tak terasa Fay justru tertidur dalam dekapan suaminya, setelah lelah menangisi kebodohannya.
Ceklek!
"Harv..." panggil nyonya Jane memasuki kamar utama.
Harv hanya menaruh jari telunjuk di bibirnya saat ibunya mendekat. Nyonya Jane tersenyum dan menghampiri keduanya.
"Dia tidur?" tanya nyonya Jane menyelidik.
"Ya, dia sungguh aneh. Tidak mau mandi, tidak mau turun, maunya seperti ini!" rutuk Harv lirih.
Nyonya Jane terkekeh, dia sungguh gemas melihat kelakuan keduanya. Mereka pasangan unik yang membuat nyonya Jane bertahan mempertahankan Fay sebagai menantunya. Harv memiliki perbedaan usia cukup jauh dengan Fay. Di mata nyonya Jane terkadang melihat putranya seperti tengah menjaga keponakannya, bukan berstatus suami istri seperti saat ini.
"Jagalah istrimu dengan baik..." ujar nyonya Jane mengusap lembut lengan Fay.
"Usahakan selalu kabulkan keinginannya, berikan dia keamanan ekstra. Jangan selalu membuat dia curiga dan menahan emosinya." Nyonya Jane kembali menasehati putranya. "Jaga cucuku dengan baik." Nyonya Jane mengusap perut Fay perlahan.
DEEEEGGG!!
Degub jantung Harv berpacu sangat cepat saat ibunya mengatakan kata cucu! seluruh saraf tubuhnya seolah berhenti sejenak mendengarnya mata Harv terbelalak. Nyonya Jane mengerutkan kening melihat respon putranya. Tubuh Harv merasa lemas namun dia bertahan untuk menopang tubuh istrinya yang masih di dalam dekapannya.
"Kenapa sikapmu seperti itu?" tanya nyonya Jane penasaran dengan respon aneh Harv. "Jangan bilang kamu belum mengetahuinya!" cibir nyonya Jane menggelengkan kepala.
Rasanya seolah benar bahwa putranya tidak memiliki kepedulian pada keadaan Fay selama ini.
"Yun tidak mengatakan Fay tengah hamil. Dia bilang Fay hanya kelelahan dan stress!!" tukas Harv menahan segala emosinya.
"Hah?" Giliran nyonya Yun tidak percaya atas penuturan putranya. 'Sepertinya Harv tidak berbohong...'
"Tapi mengapa Yun meresepkan vitamin dan penguat janin ini untuk Fay?" Nyonya Jane menyerahan kantung kresek yang sebelumnya dia periksa kandungannya saking penasarannya. Lagi pula dia juga masih ingat saat mengandung Jane dia mengkonsumsi vitamin yang sama yang baik bagi tubuh kembang janin dalam perut.
Harv semakin membatu dengan wajah pucatnya, dia tidak bisa percaya atau sulit percaya. 'Kenapa Fay? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?!'
__ADS_1
To be continued...