Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 84 : Menguntit


__ADS_3

"Jadi bagaimana keadaan disana?"


"Aman Tuan, kita sudah menyelipkan beberapa anak buah kita disana. Gedung persenjataan mereka sudah tidak bisa diselamatkan."


Seringai kepuasan terpetakan jelas di wajah rival Harv yang tak lain Alexander. Dia sudah merencanakan melakukan perlawanan disaat musuhnya lengah. Selama beberapa hari ini Harv memang berkutat dengan permasalahan istrinya. Dia melonggarkan keamanan mengenai aktivitas jaringan bawahnya.


"Persiapkan rencana selanjutnya," ucap Alex menyesap dalam cerutunya, tak lama dia mengepulkan asap pekat dengan wajah yang berseri. "Setelah ini, aku yakin dia akan meninggalkan istrinya. Setelah itu, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan."


"Bawa Faye Yvonna kehadapanku secepatnya!"


Sementara itu di kediaman besar Smith, Faye tengah merasakan mual yang hebat, tubuhnya lemas.


"Sebaiknya kamu jangan memaksakan Faye untuk ikut dalam perjalanan bisnismu." Dokter Yun telah selesai memeriksa keadaan Faye.


Harv berkacak pinggang dengan perasaan gelisah. Dia menatap nanar ke luar ruangan, tidak mungkin dia meninggalkan istrinya saat ini.


"Lagi pula, apa kamu yakin tidak akan membahayakan Faye jika ia ikut serta ke SF? Semua musuhmu akan menargetkannya serentak!" ujar Dokter Yun kembali mengingatkan sahabatnya.


"Aku tidak mungkin meninggalkan Fay dalam keadaan dia membutuhkanku seperti sekarang." Harv berujar sendu, perasaannya diliputi kecemasan yang berlebihan saat ini.


Beberapa kali Fay selalu terlibat kecelakaan karena semua musuh sudah mengetahui kelemahannya. Dia tidak ingin kecolongan kembali.


Hoek... Hoek... Hoek...


Harv tersentak, dia bergegas menuju kamar dan memeriksa apa yang terjadi dengan istrinya. "Cutie!"


Hoek...


Dengan lembut Harv memijit tengkuk leher dan punggung Fay. Wanitanya bersimpuh lemas di hadapan toilet kamar mandi. Tak lama dia membasuh wajahnya, Harv memapah Fay perlahan menuju ranjang keduanya. Dengan cepat Harv juga menyodorkan air minum untuk istrinya. Harv menelan salivanya, dia tidak tega melihat istrinya sekarang. Sudah beberapa bulan kehamilannya, istrinya malah terlihat semakin kurus dan tidak bertenaga.


"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini?" Harv bersimpuh dihadapan istrinya dengan raut wajah sendu menggenggam tangan Fay.

__ADS_1


Fay tersenyum lebar menangkup wajah suaminya mesra. "Aku akan baik-baik saja Sayang, toh biasanya aku selalu di tinggalkan."


Fay memberikan candaan yang tidak mengenakan di diri Harv, Fay semakin terkekeh dengan perasaan bersalah Harv saat ini.


"Pergilah, aku akan aman disini. Toh ada Mommy, aku akan baik-baik saja, aku jamin!" Fay menautkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai sebuah perjanjian.


"Huh!" Harv bangkit tidak mengatakan apapun. "Aku akan berbincang sejenak dengan Will dan Yun, kamu istirahatlah lebih dulu."


Harv masih bisa melayangkan kecupan mesra di kening Fay sebelum dia keluar dari kamar. Hatinya sungguh berkecamuk hebat saat ini. Fay menatap nanar kepergian suaminya, dia mengerti kekhawatiran berlebih Harv saat ini, apalagi Fay tengah mengandung putranya.


"Apa begitu sulit meyakinkan Papa? Mama harus seperti apa sekarang? Mama tidak ingin membuat kamu tidak nyaman saat melakukan perjalanan yang cukup jauh itu." Fay bergumam lirih mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit, tak lama ibu mertuanya datang dan menanyakan kabarnya.


***


Beberapa hari kemudian,


Fay tengah berjalan-jalan di salah satu mall, dia berencana mencari perlengkapan untuk bayinya dan sedikit mencuci mata dan mengusir kebosanannya. Sebelumnya nyonya Jane meminta maaf tidak bisa menemani karena ada keperluan mendadak mengenai festival fashion week yang akan diikuti selama sepekan kedepan.


Bruk!


"Sorry Onty,"


Fay berbalik segera dan menatap seseorang yang menabraknya dari belakang. Fay menerbitkan senyuman saat seorang gadis kecil menunduk meminta maaf atas kesalahannya. "It's okay," jawab Fay ramah.


Kening Fay berkerut saat melihat gelagat aneh dari si gadis kecil. "Apa kamu baik-baik saja?"


"Hiks," Tiba-tiba saja gadis kecil itu menangis. "Aku kehilangan Ibuku! Huaaa..."


Fay langsung merasa iba, dia bersimpuh dan mencoba menenangkan gadis kecil itu.


"Kamu jangan menangis, Onty akan membantumu. Kita pergi ke bagian informasi ya? Dengan begitu orang tuamu akan mendatangi keberadaanmu." Fay membelai lembut kepala si gadis, belum apa-apa dia sudah merasa kelak dia akan pergi keluar bersama bayi di dalam kandungannya.

__ADS_1


Gadis kecil terlihat gelisah, Fay bangkit dan menuntun tangan mungil itu menuju area informasi yang ada di depan pintu masuk mall. Tak lama ponsel Fay berdering, Fay meminta ijin pada gadis kecil untuk menerima panggilan sebelum si penelpon memarahinya.


"Halo," sapa Fay sudah sangat mengerti, suaminya akan menghubunginya tiap lima belas menit. Fay rasa ingin membanting ponsel dan menonaktifkannya, hanya saja dia urung mengingat bagaimana sifat posesif dan keras suaminya.


"Apa kamu sudah sampai?" sahut seseorang di seberang sana dengan suara bariton seksi yang selalu sukses membuat Fay terpana.


"Sudah Sayangnya aku, jadi... Bisakah Tuan Smith tidak menggangguku berbelanja?" Fay menggoda suaminya, lebih tepatnya memelas untuk dilepaskan barang sejenak saja.


"Apa kamu tidak merindukanku, Cutie?"


Fay membuka mulut perlahan dengan memutar bola mata jengah. Bagaimana bisa dia merindukan suaminya yang setiap waktu menghantuinya. Keduanya terlibat percakapan random cukup lama. Fay lupa bahwa dia sedang membantu seseorang.


Fay menutup sambungan dengan mengeluarkan nafas berat. Sejenak dia kebingungan, dia mencari keberadaan gadis kecil yang sebelumnya masih berdiri di sampingnya. "Kemana perginya anak itu? Apa dia sudah menemukan Ibunya?!"


Fay menyelidik sekitar, ada perasaan lain saat melihat gadis yang diperkirakan baru berusia sekitar enam atau tujuh tahun. Dia begitu takut akan keselamatan si gadis, mengingat kejahatan tidak hanya karena ada niat, namun kesempatan memungkinkan mereka bertindak gegabah.


Fay berlarian kecil, dia juga lupa menanyakan nama si gadis. Tanpa di duga, Fay melihat sosok yang tengah ia cari dalam keadaan ditarik paksa oleh seseorang. Perasaan Fay kembali tidak nyaman, dengan beralasan kemanusiaan Fay berniat mendekati dan menanyakan pasal kedekatan keduanya. Dia mengira bahwa wanita paruh baya di samping gadis kecil yang sebelumnya dia temui bukan ibu atau keluarganya.


Fay berhenti sejenak, dia tiba-tiba ingat pesan suaminya untuk jangan bertindak gegabah. Fay memberi jarak agar tidak ketahuan sedang membuntuti mereka. "Bagaimana bisa seorang Ibu begitu kasar pada putrinya?"


Fay merogoh ponsel dan merekamnya, sekilas Fay mendengar dari mulut mungil si gadis memekik memanggil Mama pada si wanita paruh baya. Fay berencana melaporkan kejadian kekerasaan pada anak-anak dengan bukti yang dia punya saat ini. Kedua anak dan ibu tengah saling beradu mulut, tak lama datang seorang pria dengan wajah yang mencurigakan mengatakan sesuatu membuat keduanya kembali menarik paksa si gadis keluar dari area mall.


Entah angin apa yang membuat Fay ingin ikut campur dengan urusan orang lain. Mungkin karena dia akan menjadi seorang ibu, dia tidak tega seorang anak kecil mengalami kekerasan dan pemaksaan oleh pihak keluarganya. Sekilas ingatannya kembali di masa dimana ia berada di panti dan diadopsi oleh keluarga Luke. Hatinya kembali nyeri mengingat pengalaman hidupnya yang bagai roller coaster.


Fay terus mengikuti langkah sepasang wanita dan pria paruh baya yang menyeret seorang gadis yang masih kecil. Sekilas Fay juga mendengar jeritan si gadis menolak ajakan keduanya. Fay semakin yakin bahwa ini tindakan kejahatan. Keduanya meninggalkan area mall dan memasuki sebuah mobil van gelap. Fay  bergegas dan menyembunyikan dirinya di balik pilar pembatas. Mobil van itu melaju keluar area mall, beruntung Fay sempat memotret nomor polisi mobil yang tampak mencurigakan.


Tiba-tiba─


Bruk!


"Aaargh!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2