
Fay sudah berada di mansion miliknya, dia menyunggingkan senyuman di bibir tipisnya. Sebuah box besar telah siap sedia di atas meja ruang tengah. Tanpa perlu waktu lama Fay segera memeriksa isi di dalamnya.
"Suamiku memang paling tahu apa yang cocok untukku." gumam Fay dengan tersipu.
Fay menenteng box yang berisi pakaian mewah nan mahal yang di persiapkan suaminya untuk acara penjamuan makan malam di kediaman besar Smith. Sebuah tempat yang sangat Fay hindari setelah menyandang status istri sah Harv selama satu tahun lebih ini.
Fay menanggalkan pakaiannya, memasukkannya segera ke dalam keranjang kotor. Fay bergegas menghidupkan kran air hangat memenuhi bak mandinya. Tak lupa dia mencampurkan beberapa kelopak bunga dengan essential oil yang sangat di sukainya.
Fay lebih dulu membersihkan diri, menggosok tubuhnya yang kotor setelah apa yang di lakukan dengan Devan di kantor hari ini. Fay kembali di dera penyesalan mendalam, dia terus merutuk dan menyalahkan diri sendiri atas hubungan terlarangnya bersama Devan.
"Seandainya aku tidak terbawa emosi dan cemburu saat itu, mungkin aku dan Dev tidak pernah seperti sekarang. Aku juga tidak akan menyakitinya..." Fay semakin dalam menenggelamkan dirinya dalam bak mandi yang kini sebagian airnya sudah tumpah kemana-mana.
Fay kembali di bawa mengingat hari dimana untuk pertama kalinya dia cemburu dengan gosip yang beredar di media sosial mengatakan suaminya tengah berada satu hotel dengan salah satu teman makan malamnya. Padahal mereka tengah satu kota tapi bisa-bisanya Harv melakukan hal itu di belakangnya.
"Jika bukan karena ego-ku membalaskan sakit hati ku ini, mungkin aku tidak akan mengalami kesialan seperti ini!"
Felly kembali memejamkan mata perlahan, melarutkan seluruh kekecewaannya berharap semua luruh bersama dengan air yang membasuh tubuhnya. Tanpa dia sadari Harv telah berada di kediaman mereka, dia telah menyangka istrinya tengah berendam.
Cup~
"Aarrrghhh!" pekik Felly terkejut saat seseorang mencium keningnya mesra.
"Jangan biasakan dirimu tertidur di bak mandi Cutie... Baru semalam kamu demam tinggi karena masuk angin!" ceramah Harv bergegas menanggalkan seluruh pakaiannya.
Fay tidak menjawabnya, dia sibuk menelan saliva melihat gerakan menggoda suaminya yang tengah melempar pakaiannya dan menyusul berendam bersama.
"Mau aku gosok punggungnya?" tanya Fay mendekat, Harv menyeringai dan mengangguk perlahan.
Dia juga merasa sangat lelah, seharian ini pekerjaanya jauh lebih berat dari biasanya. Hanya karena ingin lebih berdekatan dengan istrinya, Harv harus mengejar pertemuan kolega dengan melakukan teleconference. Harv merasakan tubuhnya tengah di pijat lembut membuatnya rileks.
__ADS_1
Tidak hanya punggung suaminya yang tengah dia gosok saat ini, jemari lentiknya tengah menyelusuri dada bidang Harv beserta jalur cetakan roti sobek beraneka rasa yang di sukai Fay tengah dia sapu perlahan justru membuat Harv sedikit tersengat jutaan arus listrik pendek.
"Cutie, kita harus ke kediaman sebentar lagi..." keluh Harv menahan gejolak hasratnya yang mulai menunjukan dirinya.
"Yups..." sahut Fay cepat, namun gerakan tangannya semakin menjadi turun menuju senjata prianya yang sudah menjulang tinggi bak keadilan.
Harv sudah tidak tahan, dia berbalik badan dan bersiap melakukan permainan short time mereka.
---
"Apa aku sudah cantik?" tanya Fay memastikan di depan cermin besar pada suaminya.
"Absolutely..." puji Harv mendekat dan memeluk erat wanitanya.
Keduanya memakai pakaian semi formal dengan warna yang senada. Mereka memang pasangan yang serasi, Fay juga wanita yang sangat manis dan lembut, berpadu dengan tuan muda Smith yang tampan rupawan dengan aura dingin dan kharisma yang membuat mereka benar-benar terlahir untuk bersama.
Tak butuh waktu lama keduanya telah berada di kediaman Smith yang hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja dari kediaman Fay. Harv turun lebih dulu, membukakan pintu untuk permaisurinya. Di beri perhatian sederhana seperti itu sungguh membuncah perasaan Fay. Dia semakin jatuh pada pesona suaminya.
Seluruh maid tengah menunduk menyambut tuan mereka, Fay merangkulkan tangan pada lengan Harv. Dengan hangat dan lembut Harv mengusap lembut tangan Fay semakin terlihat keduanya selalu berbahagia setiap saat.
'Gue jamin kalao Harv jadi aktor, dia juga bakalan nyabet semua award setiap kategori! Termasuk mendapatkan grammy award best actor in the world!' Fay terus bermonolog dalam hatinya mengumpat suaminya.
Felly merasa seperti bermimpi saat ini, dia bak Cinderella from the modern fairytale. Di sanjung oleh keluarga besar Harv setelah di buang oleh keluarga angkatnya Luke yang begitu menyakiti dirinya. Bahkan dia ingat, dia bisa terjerat dengan Harv karena ulah adik angkat lucknuthnya.
Fay bahkan berpikir, seandainya keluarga angkatnya tahu dia adalah istri orang nomor satu di negaranya mungkin saat ini mereka akan menyanjungnya juga dan menyesal telah membuangnya setelah sebelumnya mereka mencoba meyakinkan Fay dengan sebuah keluarga yang hangat.
Keduanya berjalan menuju ruangan penjamuan yang di beri arahan oleh salah satu pelayan. Fay menggunakannya menyelidik kembali suaminya yang akhir-akhir ini menunjukan sikap yang tidak biasanya.
'Apa karena hari ini ada penjamuan dia kembali mendatangiku?' batin Fay kembali menerka. Dia masih tidak ingin melambungkan angannya bahwa Harv kembali mendatanginya karena dia merindukan sosok Fay.
__ADS_1
Bagi Fay sosok Harvey Smith adalah pria yang nyaris sempurna tanpa cacat. Selain karenarupanya yang rupawan, di tambah dengan harta dan kekuasaan yang tidak perlu di ragukan lagi. Satu hal yang tidak di ketahui oleh masyarakat luar bahwa suaminya itu terkadang memperlakukannya dengan lembut. Fay belajar selama satu tahu dia menjadi istri sah Harv, yang di butuhkan pria itu hanya kepatuhannya maka sekalipun Harv tidak akan menyakitinya.
Meski nyaris sempurna tetap saja Harv memiliki kelemahan yang membuat Fay sampai nekat melakukan perselingkuhan dengan atasannya. Harv tidak memiliki banyak waktu untuknya, dia akan datang tak diduga dan pergi tanpa berpamitan. Belum lagi dengan rumornya yang silih berganti di gosipkan dengan banyak wanita sosialita dan artis ternama benar-benar membuat Fay jengah rasanya. Pamornya sebagai istri sah kalah jauh dengan para artis yang numpang tenar pada nama besar tuan muda Smith.
"Kakaaak!" pekik melengking dari satu-satunya pria muda yang terdengar manja pada Harv.
Bruk!
Jade memeluk kakaknya erat, dia sungguh rindu pada kakak yang sangat ia sayangi yang begitu menyayanginya.
"Jadee... Apa kamu tidak malu dengan Kakak Iparmu hm?" keluh Harv mengacak rambut Jade.
"Cih, dia hanya Istri tak dia anggapmu kan, untuk apa aku peduli!" ketus Jade bersidekap tangan menatap sinis Fay.
Fay seperti sakit tak berblood, senyuman manis fay terus terpancar walau dia merasa di permalukan demi menjaga air muka suaminya. Salah satu alasan dia tidak menyukai kediaman besar karena adik iparnya tidak begitu menyukainya. Setiap kali dia berada di kediaman, Jade selalu mengusilinya. Terakhir kali dia berkunjung dengan Harv dia di beri obat pencahar oleh Jade.
"Harv, Fay... Akhirnya kalian tahu juga mengunjungi tetua!" sapa nyonya besar Smith bangkit merentangkan tangan menyambut keduanya.
Harv membalas merangkul ibunya lebih dulu, tak berapa lama di susul oleh Fay yang langsung di cerca pertanyaan horor yang tidak ingin Fay dengar.
"Fay Sayaaang, kamu kok terlihat jauh lebih kurus hah?" tukas nyonya Jane tidak senang.
"Hehe..." Fay hanya bisa menunjukan gigi putih rapinya. "Ini bukan kurus Mom, ini ideal agar Harv tidak berpaling pada wanita lain!" bual Fay mengada-ngada membuat Harv memutar bola matanya kesal.
Dari sisi Jade terdengar rutukan lirih mengejek dirinya, tanpa sadar Fay membuang nafas beratnya.
"Tapi, kalau kamu kurus begini bagaimana bisa hamil!"
JEDEEEERR!
__ADS_1
To be continued...