Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 17 - Tersiksa


__ADS_3

Suara lenguhan dari dua insan berlainan jenis itu menggema di salah satu kamar president suite hotel ternama. Fay dan Devan seperti biasa tengah bercumbu sembari menunggu makan siang mereka di siapkan oleh pihak restoran hotel.


Gairah keduanya sudah mencapai batas maksimal rasanya, Devan sudah memohon berkali-kali untuk melakukan penyatuan. Tetapi wanitanya merengek manja tidak ingin. Alhasil dengan berat hati Devan masih bisa bertahan dengan rasa sayang yang besar pria itu tidak memaksakan kehendak dan meruntuhkan harga diri kekasihnya.


"Aaarrghh! Faye I LOVE YOU!" pekik Devan saat dia tengah mencapai puncaknya dengan bantuan mulut kekasihnya.


Dengan sigap Fay meminumnya dan mengerling senang prianya cukup puas dengan pelayanannya yang hanya sebatas seperti itu saja. Fay bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya yang kotor dan hina. Tanpa Devan ketahui dia tengah meringkuk mengguyur tubuhnya dengan siraman air di selingi isak tangis pilunya.


Devan segera membersihkan miliknya dengan tissue dan bergegas kembali mengenakan pakaiannya. Membuka pintu yang sudah di ketuk, sepertinya makanan sudah siap.


Tok... Tok... Tok...


"Sayaaang, makanan sudah siap..." seru Devan mengingatkan wanitanya yang masih bertahan di kamar mandi.


"Ok Honey... Wait a minutes..." sahutnya segera.


Fay keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk, membuat jakun prianya naik dan turun saat melihatnya. "You're freaking hottest Honey..."


Fay tersenyum dan tersipu bersamaan, Devan kembali mendekat merangkul hangat dan bercengkrama sejenak sebelum akhirnya menyantap makan siang mereka.


"Aku tidak menyangka, kamu wanita yang hampir sempurna ternyata bisa di sia-siakan." keluh Devan menatap Fay yang tengah memakan makanannya.


"Heh... Berarti aku tidak sempurna dimatanya." kekeh Fay tidak ingin kembali sakit hati.


"Tapi kamu sempurna di mataku..." gombal Devan membuat Fay kembali melengkungkan senyuman.


Setelahnya Devan selalu saja menunjukan kekonyolan dan terus membuat Fay tersenyum melupakan apa yang menghimpit hatinya sebelum mereka kesana. Setelah selesai dengan urusan mengisi perut mereka kembali ke kantor yang langsung di sambut cibiran pedas dari sahabatnya.


"Eh busyeeet makan siang telatnya ampe satu jam... Daebak!!" sindir Vanesha pada Fay yang baru datang dari luar. "Mana abis mandi lagi..." keluhnya tak berkesudahan.


"Iri bilang Bosqueee~" sahut Fay cekikikan, Devan yang sempat memperhatikan memetakan senyumannya. Jika di banding sebelumnya dia lebih menyukai ekspresi kekasihnya seperti ini.


'Fay adalah wanita rapuh yang pura-pura tegar... Dia harus selalu di awasi, di temani dan di support... Aku sungguh ingin menyeretnya dan membawanya pergi jauh. Hanya ada aku dan dia, dia berhak bahagia dan aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia..." batin Devan prihatin dengan keadaan wanitanya.


Vanesh tiba-tiba mendekat dan duduk di hadapan Fay dengan wajah seriusnya.


"Gue kadang ngerasa hubungan pertemanan kita ini istimewa bukan? Tidak ada hal yang aku tutupi selama ini padamu... Tapi sialnya feedback elu ke gue kok beda!" cerca Vanesh aneh di mata Fay.


"Lu kenapa?" tanya Fay mengernyitkan kening kebingungan.


"Fay, apa alasan kamu gak mau ngakuin hubungan dan tidak mau status PACAR dengan Devan karena sebenernya lu udah punya pacar?!"


DEG!


Walau terdengar rancu kalimat yang di utarakan sahabatnya, tapi Fay cukup bisa memahami arah pembicaraan sahabatnya.

__ADS_1


"Maksud lo apa sih..." hardik Fay menutupi kegelisahannya.


"Gak usah tipu gue lagi! Sediih gue..." Vanesh bersidekap tangan mendengus sebal merebahkan diri di kursi dengan tatapan tajam menusuk netra Fay.


"Haiish!"


Tuk!


Vanesha menyerahkan kartu ucapan yang dia terima saat membuka bungkusan makan siang yang di berikan temannya itu.


Have a good lunch Honey, I love you...


Bergetar tubuh Fay saat membaca kartu ucapan yang terasa seperti olokan semata. Fay segera menarik kartu itu meremas dan membuangnya ke kotak sampah segera tanpa kata.


"Lah?!" Vanesh terkejut dia mendekatan kembali tubuhnya di meja dan menatap heran pada Faye.


"Club?" tanya Fay seolah tanpa perlu kalimat panjang untuk mengerti apa maksud sahabatnya. Vanesha mengerti, dia tersenyum hangat kemudian bangkit memutar dan memeluk sahabatnya.


"Kamu tahu, fungsinya teman itu berbagi disaat susah bersuka cita saat senang!" pesan Vanesh lirih membuncah perasaan Fay. Susah payah wanita itu membesarkan hatinya selama ini, hanya saja semenjak dia mengakui perasaanya semua menjadi berubah.


---


Di SG Company Harv tengah mengamuk, dia kembali mencerca seluruh pegawainya. Melampiaskan segala emosi yang tengah mendera hatinya saat ini. Dia tidak bermaksud mengatakan hal yang kurang pantas sebelumnya pada Fay. Hanya karena dia tersulutkan amarah akhirnya dia tidak bisa mengontrol kalimat yang keluar dari mulutnya.


BRAAAAAAAAAK!


Harv menyapu meja kerjanya hingga berserak, asistennya masuk keruangan setelah di persilahkan sebelumnya.


"Tu-an..." Will terkejut dengan kekacauan yang di lakukan Harv saat ini.


'Semakin hari Tuan semakin menunjukan sikap yang aneh, apalagi jika berkenaan dengan istrinya... Apa mungkin Tuan─'


"Jika tidak ada hal yang penting menyingkirlah..." tukas Harv berkacak pinggang menatap pemandangan kota dari jendela besar ruangannya.


"Saya hanya membawakan informasi yang Tuan inginkan sebelumnya mengenai pria yang bersama Nyonya Muda." cicit Will hati-hati.


Harv menunduk membuang nafasnya berat. "Berikan padaku..."


Harv berbalik badan menerima beberapa helai kertas dan foto, dengan emosi yang mulai kembali datang dia meremas dokumen itu.


"Nyonya memang memiliki janji dengan teman wanitanya, mereka datang bersama. Tetapi, saat di restoran x keduanya bertemu dengan tiga pria... Salah satunya adalah atasan Nyonya..."


"CUKUP!" Harv menghentikan penjelasan asistennya. "Pergi sekarang persiapkan keberangkatanku." titah Harv terdengar menahan emosinya.


"Tuan, saya yakin Nyonya tidak sedang mempermainkan anda..." ujar Will berharap hubungan tuannya baik-baik saja.

__ADS_1


"Hmm..."


Harv tengah meremas erat ponselnya, ingin rasanya dia menghubungi Fay saat ini juga. Selain karena rindu, dia juga ingin menyelesaikan semua kesalah-pahaman ini. Rasanya semakin lama hubungan mereka justru semakin runyam. Hanya saja egonya yang terlalu tinggi sungguh enggan untuk sekedar berbincang bersama dan saling jujur satu sama lain.


"Fay, aku berharap kamu bisa mempercayaiku... Seperti aku mempercayaimu selama ini, tapi kamu baru saja menghilangkan rasa kepercayaanku padamu yang selama ini aku jaga untukmu!"


"Aaaaarrrghhh!!"


BRAAAAAAAAAK!


Harv melempar ponselnya, dia sungguh emosi terlebih saat melihat foto kedekatan istri dengan atasannya. Jika dia tidak melihat karena saat itu dia juga bersalah mungkin saat ini juga Harv memberikan hukuman setimpal pada Devan. Dengan berani pria itu menyentuh tubuh istri si penguasa negaranya tanpa takut apa yang akan menimpanya.


---


Setelah jam kepulangan berlalu, Devan beranjak menuju meja kekasihnya. Di depan Vanesha pria itu terang-terangan menebarkan kemesraan dengan Fay.


"Sayaang... Ayo kita pulang..." sapa Devan di depan meja Fay.


Fay yang masih berkutat dengan berkasnya tersentak dan tersenyum, Devan mendaratkan kecupan ringan di kening kekasihnya membuat mulut Vanesha terbuka lebar.


"Eehhhmmm... Inget gaes ini kantor, kadang kantor tak berdinding walau pun sudah di beri jarak!" pekik Vanesha mengingatkan.


Devan hanya menunjukan wajah kesalnya, jika bukan karena Vanesha membawa Fay lima bulan yang lalu ke PUB dan dia bisa mengenal Fay lebih dekat sampai-sampai memiliki hubungan gelap seperti ini mungkin dia sudah mencerca si gadis banyak omong itu.


"Lain kali aku bakalan paksa Stevan buat antar jemput kamu biar kamu juga bisa rasain atmosfernya dan gak usah rutuk orang sebegitunya!"


Fay terkekeh di belakang tubuh Devan saat prianya mencerca sahabatnya.


"Dih malesin... Si yang gak punya niat itu mening cari cowok lain!" hardik Vanesha malu-malu.


Fay menggelengkan kepalanya tak lama merangkulkan kedua tangan di tubuh kekar kekasihnya.


"Sayaaang, hari ini aku ada janji hanya berkencan dengan Vanesha. Soalnya pas kemaren kamu menyabotasenya!" goda Fay manja.


Devan menunjukan raut wajah tidak sukanya, namun ciuman panas Fay mampu membuatnya luruh dan mengijinkan sepenuhnya. Dengan terpaksa Devan akhirnya keluar ruangan dan pulang seperti biasa, sendirian.


"Ck, lu beneran udah sedeket itu loh sama Devan... Apa gak putusin yang sana trus milih Si Bos aja ya?"


"Panjang ceritanya... Yuks!"


Fay merangkul lengan sahabatnya, mereka keluar ruangan segera menyusul Devan dan pergi ke tempat yang sudah di tentukan. Tanpa mereka sadari bahwa sebelumnya ada seseorang yang tengah tidak sengaja melihat adegan Fay mencium Devan.


"Heh, dasar ja lang! Siap-siap aja kedokmu akan terbongkar... Sekarang nikmati saja dulu ketentramanmu...Hehe"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2