
"Selamat malam Tuan!" sapa seorang pria kurus setelah di persilahkan masuk oleh pria tinggi tegap dengan jas rapinya yang tak lain bodyguard si tuan.
"Katakan!"
Di sebuah ruang kerja dengan gaya klasik terlihat dua orang yang tengah terlibat percakapan serius. Mereka di kelilingi oleh orang-orang berjas hitam yang berdiri tegap melindungi tuannya dalam kondisi apapun.
"O-orangku tidak sengaja terlibat sebuah kecelakaan semalam!" Gugup seorang pria yang di perkirakan berusia memasuki kepala empat itu tengah membawa berita pada tuannya.
"Lantas?" lawan bicaranya adalah si pria yang masih terlihat awet muda di usia yang baru menginjak kepala tiga berujar sangat dingin.
"Apa Tuan tidak ingin tahu siapa orang itu?"
Si pria muda yang di panggil tuan oleh pria lainnya menyelidik tajam dengan menggoyangkan gelas wine di atas kursi kebesarannya. Tak lupa salah satu jemari tangan lainnya tengah memainkan cerutu besarnya kini menyesapnya kuat membuang kepulan asap pekat dari mulutnya.
"Pppuufft!"
Si pria muda bangkit menuju sisi lain ruangan di samping jendela besar yang mendominasi seluruh sisi ruang kerjanya yang semua terbungkus oleh kaca. Dari tempatnya dia bisa menyaksikan keindahan kota XY dengan gemerlap lampu kota menyinari di bawah sana.
"Apa kamu sedang mempermainkanku?"
Kraaaakkk!
"A-mpun Tuan... Sa-ya tidak berani Tu-an..." sahut si pria kurus menjatuhkan dirinya di lantai dan bersujud di depan tuannya.
"Kemarin malam orangku melakukan tindakan kejahatan dan terlibat kejar-kejaran dengan preman, sialnya di perempatan jalan dia dihentikan oleh salah satu mobil yang melanggar lalu lintas dan menabraknya." ucap si pria kurus cepat.
"Anehnya mobil yang ditabrak orangku tidak masalah sama sekali hanya penyok sedikit, bahkan yang menggunakannya adalah seorang wanita, dia justru tidak memiliki cedera yang berarti." sambungnya kemudian kembali berbicara cepat. "Tapi orangku sampai dinyatakan koma karena terjepit."
DOOORRR!
Si tuan tidak menyukai cerita yang bertele-tele tidak pada intinya, dia melayangkan tembakan peringatan di hadapan si pembawa berita. Wajah si pria pucat pasi dengan debar jantung yang berdetak 10x lipat dari biasanya.
"A-ampun Tu-tuaan..." sahut si pria bergetar ketakutan. "Wanita itu adalah orang Tuan Harv!" imbuhnya mengatakan intinya.
Si tuan mengulas senyum culasnya, dia kembali berbalik badan menghadap keramaian kota dari atas tempatnya.
"HAHAHAHA!" pecah tawa besarnya, tidak ada berita yang membahagiakan selain berita dari rivalnya.
"Apa maksudmu dia Angella?"
Si pria yang di panggil tuan adalah pewaris Alresco Grup yaitu Alexander Pierce dahulu merupakan sahabat baik Harvey Smith yang kini menjadi musuh dalam selimut.
"Sepertinya bukan Tuan, dia wanita biasa yang tidak banyak orang tahu. Hanya saja─"
__ADS_1
Alex panggilan akrab si tuan muda berbalik badan menatap tajam si pria pembawa pesan. Si pria kembali diliputi rasa ketakutan.
"Dia adalah Nyonya Muda Smith alias istri sah Tuan Smith." tukas si pria yakin. "Seluruh ruangan rumah sakit di jaga ketat oleh para anak buah terbaik Tuan Harv, tadi pagi bahkan saya melihat Nyonya Besar Smith berkunjung. Sudah di pastikan, bahwa yang ada disana adalah istri Tuan Harvey." seringai menggoda si pria membuat Alex berbinar bahagia.
"Hahahaha, finally, we got you Nyonya Muda Smith... Aku pastikan tidak lama lagi kita akan bertemu." tukas Alex menggelegar di sambut rona bahagia di kesemua anak buahnya.
"Bob!"
"Saya Tuan..."
"Berikan dia kompensasi setimpal!"
"Baik Tuan.."
Bob adalah asisten khusus tuan Alex, si pria asing itu berucap ribuan kata terima kasihnya dengan terus menundukan tubuh sembilan puluh derajat. Alex menggerakkan tangannya mengisyaratkan agar pria itu segera keluar dari ruangannya.
'Hahaha, akhirnya adikku berguna dalam mendapatkan tambang emas!' batin si pria begitu senang.
Alex kembali menyesap wine kesukaannya, dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya. "Harvey, bersiaplah... Aku akan membuat serangan kejutan untukmu..."
---
Penthouse Condo Royal, 08.00 AM.
Fay terbangun dari tidur lelapnya, salah satu tangannya menyapu ranjang di sampingnya. Matanya terbuka lebardia kembali sudah mengira bahwa suaminya tidak akan ada disana seperti biasanya. Fay tidak peduli, dia mencoba bangun dengan sisa tenaganya. Semalaman suaminya menggarapnya hingga tidak memiliki tenaga yang cukup. Bahkan rasa perih mendominasi pusat tubuhnya, Fay merasakan tubuhnya seperti terjatuh dari atas tebing curam saat ini.
Fay bangkit dan berjalan tertatih menuju kamar mandinya. Dia tidak mengenakan apapun, polos tanpa sehelai benang menutupi tubuh indahnya. Dia pikir bahwa tidak ada siapa pun di rumahnya sampai dia terperanjat saat suaminya tiba-tiba datang membawa nampan berisi sarapan pagi mereka.
"Wow, istriku sungguh sangat menggoda... Apa kamu berniat melakukan serangan lanjutan?!" goda Harv endekat.
"Aaarrkk! Cabuuulll..." Secepat kilat Fay berlari menuju kamar mandi dan menutupnya segera. Dia tidak sanggup jika Harv kembali berubah menjadi beruang lapar.
Harv terkekeh dengan tingkah istrinya, dia menaruh nampan di atas ranjang merogoh saku celana karena ponselnya bergetar membuat dia harus menjauh menuju area balkon kamar dan menjawab panggilan.
"Hm..."
"Tuan, pihak ketiga mempersulit kasus Nyonya..."
Harv mengeraskan rahangnya saat Will langsung mengucapkan maksud panggilannya.
"Bagaimana bisa?" sahut Harv dingin.
"Mereka mengatakan dalam menuntut keadilan, karena korban mengalami koma. Bahkan mereka sendiri ingin bertemu dengan Nyonya secara langsung untuk meminta pertanggung-jawaban." imbuh Will menggebu.
__ADS_1
"Lancang sekali!" pekik Harv langsung. "Seret orang itu kehadapanku nanti siang! Mereka sungguh melanggar batas kesabaranku..."
"Baik Tuan..."
Harv mendengar pergerakan di dalam kamar, sepertinya Fay telah selesai dengan membersihkan dirinya.
"Kamu sudah selesai?" Harv menaruh kembali ponselnya mendekati Fay yang begitu menggodanya.
'Hanya menatap wajahnya kegelisahan dan kemarahanku sirna,' batin Harv merangkul tubuh istrinya.
"Aku sungguh bermimpi melihat kamu masih ada disini." sahut Fay mendongak dengan senyuman.
Harv memagut bibir seksi Fay, rasa mint menjalar di mulut Harv dia terus menyesap kuat dan mengabsen tiap inci bagian rongga mulut istrinya.
"Aarhh!" Fay mendorong tubuh Harv, jika tidak akan sangat berbahaya mengingat Harv mudah sekali tersulutkan hasratnya.
"Mulai sekarang dan seterusnya aku berjanji akan selalu berada di sampingmu Cutie..." goda Harv menjentik dung mancung Fay.
Wajah Fay merona sempurna dengan kegombalan suaminya. Harv menuntun Fay duduk di ranjang dan bersiap memanjakan istrinya. Kedua netra mereka terus bertatapan mesra, tanpa perlu kata namun menjelaskan keduanya tengah sama-sama dalam keadaan jatuh cinta.
Dengan telaten dan hangat Harv menyuapi istrinya, selaa sarapan pagi mereka bernang random dengan di selingi canda tawa yang jarang sekali mereka rasakan selama ini.
"Oh iya, kemarin aku bilang sama Asisten Will untuk mengurus mobilku ke bengkel. Apa masih belum selesai?" tanya Fay membahas mengenai kecelakaannya membuat wajah Harv sedikit menegang.
"Aku akan membelikanmu mobil baru, mobil itu telah rusak." sahut Harv cepat.
"Apa? Bagaimana bisa? Bukankah aku baik-baik saja?" Fay mengernyitkan keningnya. "Jika mobilku rusak bagaimana dengan pengemudi lainnya?" sambung Fay merasa mulai gelisah saat ini.
DEG!
Harv merasa kecolongan kali ini. "Maksudku, mobilmu baik-baik saja hanya saja sudah pernah mengalami kecelakaan. Aku tidak ingin kamu menggunakannya khawatir kamu menjadi trauma..."
Harv segera mencari alasan yang memungkinkan agar Fay tidak curiga. Wanitanya merengut menandakan percaya akan alasannya saat ini. Harv membuang nafasnya perlahan. "Keselamatanmu adalah prioritasku mulai saat ini Cutie... Jadi jangan banyak membantah!" titah Harv lembut mencium kening istrinya.
Wajah Fay kembali merona, berkali-kali Harv membombardir dirinya dengan sikap manis yang membuat Fay semakin jatuh pada pesona suaminya. Begitu pula Harv yang terus merasakan cintanya semakin lama semakin bertambah pada istrinya.
Ponsel Harv kembali berdering memecahkan keromantisan keduanya yang barusaja akan berpagutan. Harv sampai mendengus kesal. Fay terkekeh karenanya, Harv bangkit dan memaki si penelpon.
"Hal penting apa yang membuat kamu menggangguku sekarang HAH?!" maki Harv sedikit menjauh dari istrinya.
Fay menatap kepergian Harv. "Apa harus menjauh dariku seperti itu?" Bagi Fay yang pencemburu berat akan selalu merasa sensitif dan menaruh curiga pada suaminya itu.
To be continued...
__ADS_1