
Dddrrrrtttt... Dddrrrrtttt...
"Aaarrrghh... Honey, ponsel mu bergetar!" seru Fay di sela aktivitas panas mereka saat ini.
"Ouughh biarkan saja..." Harv terus melancarkan serangan brutal di dalam sangkar emasnya.
Selalu seperti ini, jika dia di hadapkan dengan istrinya satu jengkal pun Harv tidak ingin melewatinya. Harv membiarkan ponselnya yang terus berdering. Fay kembali meringis mendapatkan serangan bertubi-tubi dari suaminya. Hanya saja ponsel Harv kembali berdering mengganggu aktivitas panas mereka yang tidak pernah ada kata berhenti.
Dddrrrrtttt... Dddrrrrtttt...
"Harv..." lirih Fay menyuruh Harv untuk memeriksa ponselnya yang sungguh mengganggu.
"Oh shiiit!!" umpatnya kasar menghentikan gerakan tubuhnya.
Dia masih menatap wajah Fay yang sangat menggodanya dan enggan melepaskan miliknya. Ponsel Harv tergeletak di atas nakas, untuk menjangkaunya dia harus bangkit dan melepaskan miliknya yang sudah terlalu nyaman di sangkar emasnya.
Dengan wajah yang sudah bersiap memaki Harv menekan tombol hijau. "Aku bersumpah siapa yang menggangguku aku akan buat perhitungan serius dengannya!!"
Fay terkekeh dengan tingkah konyol suaminya saat ini, pikiran nistanya tengah merasuki otaknya saat ini. Fay ikut bangkit dan menggelayut manja di tubuh lengket suaminya.
"Yun? Oh shiiit!" Akhirnya Harv tersadar bahwa dokter pribadi mereka telah datang sepertinya. Sebelum menjawab panggilan Harv tersenyum dengan tingkah Fay yang mulai nakal menggerayangi tubuhnya saat ini.
"Honeeey..." seru Harv lirih memagut bibir istrinya dan menekan tombol hijau di ponselnya.
"Hmm..." Harv menjawab dengan deheman karena bibirnya masih memagut bibir istrinya.
"Apa kamu tidak perlu jasaku?! Sudah satu jam aku menunggu kamu selesai dengan urusan ranjangmu itu!" sungut Yun di sebrang sana terdengar begitu kesal. "Sepertinya istrimu baik-baik saja ya?!" sambungnya sinis berniat untuk bergegas keluar kediaman Harv jika pria itu tidak mengindahkan keberadaannya saat ini.
"Kau sungguh sangat mengganggu!" umpat Harv tidak merasa berdosa sama sekali. "Tunggu sebentar aku selesaikan, nangung!" tutur Harv tengah menahan gejolak hasratnya.
"Ini udah sejam gila!!" protes dokter Yun memekik terdengar dari luar kamar.
Harv hanya melengkungkan senyuman dan menutup sambungan melempar ponselnya sembarang.
Tuut!!
"Aaarrrghh!!" erang Harv menjambak rambut Fay yang tergerai. "You're freaking bi tch Cutiee!!" umpat Harv mendongak menikmati blow j ob yang dilakukan Fay setelah Harv menerima panggilan dan menguji kesabaran suaminya.
"Kau senang menyiksaku honeeeey!!"
Harv kembali menarik miliknya dari mulut mungil Fay memasukkannya kembali di hole kenikmatannya.
"Aaaarrrghh!!" pekik Fay merasa terkoyak walau bukan sesi yang pertama.
"Dokter Yun sudah di luar sayang, kita akan melakukan cepat."
Harv menghentakkan miliknya lebih cepat agar keduanya mencapai puncaknya lebih cepat dan dalam waktu yang bersamaan.
Harv mengenakan kembali pakaiannya. "Kamu bersihkan sebentar, lalu aku akan panggil Yun kemari setelah kamu siap." titah Harv pada FAy yang tengah tergelatak dengan masih mengatur pernafasannya yang tersenggal.
"Aku sudah bilang aku baik-baik saja sekaraaang!!" rengek Fay kembali merasa gelisah, membayangkan jika dokter Yun mengetahui kehamilannya.
"Hanya memastikan, aku tidak akan kompromi untuk urusan kesehatan dan keselamatanmu Cutie!"
__ADS_1
DEG!!
Denyut jantung Fay kembali bertalu-talu, Harv mencium mesra keningnya dan keluar kamar segera.
"Apa aku yang begitu bodoh masih tidak bisa menerima dengan nalar bahwa suamiku benar-benar mencintaiku?!" gumam Fay lirih setelah suaminya menghilang di balik pintu kamar.
Segera Fay bangkit dan jalan tertatih menuju kamar mandinya.
Sedangkan di luar kamar Harv telah di sambut hangat oleh kedua pria lain yang menunggu kedatangannya.
"Gila Bro, ga salah lu tuh di kasih title Raja Bisnis bahkan sekarang aku beri tambahan sebagai Raja Ranjang!!" umpat Yun sarkas. "Gue ampe merinding gila!! Kamar lu yang kedap begitu suara kalian masih jelas terdengar." sambungnya semakin memojokkan Harv.
"Shut up, kayak ga pernah aja!" rutuk Harv menimpali ejekan temannya.
Trak!
Harv bergabung duduk di sofa dan membuka kaleng soft dring yang telah tersedia di atas meja. Di sebelah kamar utama memang ruang santai yang di gunakan Fay untuk menghabiskan waktu luang jika wanita itu bosan di dalam kamarnya. Ruang itu di fungsikan sebagai ruang tengah dengan di fasilitasi televisi besar lengkap dengan sofa untuk menonton bersama. Will dan Yun sengaja membeli beberapa cemilan menemani mereka bermain kartu saat menunggu tuannya selesai dengan hajat ranjangnya. Membawanya ke ruangan itu karena khawatir Harv mencari mereka dalam waktu dekat. Namun pikiran sempit mereka sungguh salah besar, sudah satu jam berlalu tapi bosnya tak kunjung selesai dengan urusannya.
"Jadi, aku sudah bisa periksa?!" tanya dokter Yun memastikan.
"Tunggu sejenak, Fay sedang membersihkan diri." sahut Harv merebahkan dirinya di sofa.
"Dia kenapa?!" tanya dokter Yun menatap aneh pada temannya itu. Selama ini dia sangat jarang di panggil di kediaman Fay. Apalagi memeriksa Fay, bisa di katakan jarang. Baru kali ini Yun bolak balik memeriksa istri pria nomor satu di negaranya itu.
"Aku tidak tahu, dia selalu saja muntah." tutur Harv melemah. "Semalam dia demam, aku pulang ke rumah mendapati istriku pingsan di dalam kamar mandinya saat dia berendam." Harv menatap nanar langit-langit ruangan, tidak hanya Yun yang merasa aneh dengan kondisi kesehatan Fay saat ini, dia pun berpikir demikian. Istrinya tidak pernah mengeluh akan kesehatannya selama ini.
"Owh..." respon dokter Yun dengan penuturan Harv. "Bagusnya kamu beliin dia testpack!" sahutnya.
DEG!
"Harv..." panggil Fay dari dalam kamarnya membuat ketiganya hening sejenak.
Harv melengkungkan senyuman pahitnya. "Aku sangat berharap, tapi seperti yang kalian ketahui bahwasanya istriku tidak mau hamil. Dia pasti selalu rutin mengkonsumsi obat kontrasepsinya." ukar Harv pilu.
"Siapa tahu? Kamu selalu melakukan hubungan badan dengan panas dan intens." timpal dokter Yun segera membangkitkan semangat di diri sahabatnya.
"Sudahlah... Periksa istriku, dia telah selesai!" Harv menyudahi dan mengalihkan topik pembicaraan saat ini.
Terdengar helaan nafas lirih dari sahabatnya saat ia bangkit dan menepuk bahu Harv. Bersamaan dengan itu pikiran Harv melayang kembali memikirkan apa yang di ucapkan temannya ada benarnya.
'Apa Fay mau mengandung putraku?!' batin Harv justru seolah tengah meminta semua terjadi.
Yun telah membukakan pintu kamar dan menyambut Fay dengan senyuman hangatnya.
"Hai Dokter..." sapa Fay ramah.
"Hai Fay, akhir-akhir ini kesehatanmu menurun ya?" tanya Yun mendekat. "Wah matamu kenapa bisa sebesar kenari?!" canda Yun menyadari sesuatu di wajah istri temannya.
"Sebaaal!!" rutuk Fay mengerucutkan bibirnya di sambut kekehan oleh Yun yang kini menarik salah satu tangan Fay memeriksa denyut nadinya.
"Kau habis menangis kah?!" Yun menatap serius ke arah Fay.
Wanita itu tidak menjawabnya namun respon sendu sudah menjelaskan semuanya walau tanpa kata keluar dari mulut gadis itu. Yun mulai mengeluarkan stetoskop miliknya dan memeriksa denyut jantung Fay.
__ADS_1
"Apa kamu kembali banyak pikiran?!"
Semua pertanyaan remeh Yun tak ada satupun yang Fay jawab. Selain Fay sendiri malu dia sejujurnya tengah salah sangka pada suaminya. Hanya karena rasa cemburunya yang besar dia selalu tidak mempercayai Harv jika keduanya tengah dalam jarak jauh.
"Kita sudah saling mengenal hampir dua tahun loh!" Yun telah selesai memeriksa fisik Fay. "Kamu masih menganggapku orang luar, aku sungguh sedih hati!" Dokter memasukkan kembali stetoskop menatap serius ke arah Fay.
Fay hanya bisa tersenyum, namun tak lama dia kembali di landa rasa mual yang membuatnya sangat ingin muntah saat ini juga. Tanpa menghiraukan keberadaan Yun, Fay berlari menuju kamar mandi.
Hoeeek... Hoeeek... Hoeeek...
"Aaaahh sialaan!!" pekik Fay lirih dalam kamar mandi. 'Sudah susah payah aku tahan sebelumnya... Bau Yun sungguh menyengat!!' batin Fay mencuci wajahnya yang masih terlihat begitu pucat.
Dokter mengamati tingkah laku Fay kemudian bangkit membawakan Fay segelas air putih.
"Kapan terakhir kali kamu menstruasi?!"
Fay tersentak saat suara Yun sudah berada dekat dengannya saat ini. Wanita itu menerima segelas air putih dan menenggaknya habis.
"Apa kamu sedang hamil Fay?" pertanyaan Yun sukses membuat Fay menyemburkan air yang belum sempat masuk ke tenggorokannya.
Ffuuuhhh!
"Heh..." Dokter Yun terkekeh dengan respon Fay yang sangat kentara tengah menyembunyikan sesuatu. "Apa kamu berniat menyembunyikannya?"
Fay terdiam, dia membuang wajahnya. Tanpa bisa ia tahan air matanya kembali menyeruak entah untuk alasan apa. Dia sungguh sangat sensitiv saat ini.
"Why?" lirih Yun menatap Fay iba. "Beri aku alasan logisnya kamu tidak menginginkan Harv mengetahui kehamilanmu..."
Fay menatap nanar ke arah dokter pribadi keluarga Smith itu. "Aku mohon, jangan beritahukan Harv saat ini."
Terdengar dengusan kasar dari diri Yun, dia segera memapah kembali Fay menuju ranjangnya.
"Aku belum siap," sambung Fay menundukan wajahnya memainkan kedua jarinya setelah kembali duduk di ranjangnya.
"Siap atas apa?!" hardik Yun cepat. "Kehamilanmu? Atau reaksi suamimu?!" imbuh Yun memastikan.
"Dua-duanya!" sahut Fay segera.
"Hahaha... Kau sangat lucu Faye!" Dokter Yun terdengar tidak menyukai pemikiran Fay kali ini. "Tentu saja Harv dan seluruh keluarga Smith akan sangat bersuka cita atas berita ini. Ini lah yang mereka tunggu!"
"Lantas, setelah aku melahirkan putranya dia akan mengambilnya dan menceraikanku?!" sahut Fay menggebu tidak terima.
"Hah?!" Dokter Yun mengerutkan keningnya. "Pikiran macam apa itu Fay?! Siapa yang mendoktrinmu mengatakan hal itu?!"
"Entahlah, aku selalu merasa─" Fay menghentikan kalimatnya. "Apa yang dia harapkan dari wanita sepertiku? Dia bisa mendapatkan wanita sempurna lainnya yang cocok dengannya. Aku tidak tahu alasan apa dia mau bertahan denganku. Apa benar seorang Harvey Smith mencintai wanita biasa sepertiku? Bahkan aku hanya seorang yatim piatu." Fay semakin deras mengalirkan air matanya.
Yun mengerti posisi Fay saat ini, memang bukan hal mudah menjadi nyonya muda Smith, tapi tidak juga menjadi hal sulit selama Harvey sendiri yang menginginkannya.
"Aku beritahu padamu Fay, kehidupan Harv kamu sendiri sudah sangat tahu bukan. Dia tidak pernah bisa disandingkan dengan kata sederhana!" Yun mencoba menjadi penengah bagi hubungan keduanya. "Semuanya rumit, dia orang yang sangat berpengaruh. Jika dia terlihat lemah sedikit saja, atau kelemahannya terbuka sedikit saja maka semua orang akan berlomba menjatuhkannya!" sambungnya.
"Entah mengapa aku sangat yakin, dia sangat mencintaimu Faye." Yun menatap Fay serius. "Kamu lah kelemahannya... Satu-satunya alasan dia bertahan denganmu ya karena dia menginginkanmu. Tidak ada di kamus Harv bersanding dengan wanita lebih dari tiga bulan. Kamu adalah pengecualian!"
DEG!
__ADS_1
To be continued...