Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 76 : Burung Kenari


__ADS_3

| Haloooo reader tersayang aku gak?


I hope you're doing well for today... Ganbateee!!


Kalian tahu tidak rasanya, sudah panjang kali lebar othor up cerita ini tapi lupa save dan tidak sengaja othor klik tanda silang menutup tampilan web dan tidak bisa di lakukan pemulihan? Pengen nangis daraaaaaah rasanyaaaa!! HUAAAAAA~


Yang bikin gila adalah, ini bukan yang pertama kalinya... Othor masih sering ngulang kesalahan yang samaaaaa... CRY SO LOUUUDD TOLOOONG!!


Huhuhu...


Mohon maaf mengawali minggu terakhir di bulan ini, banyak banget drama buat nuntasin novel ini.


Dua novel on going othor ini otw timit, dan mau berganti dengan novel baru lainnya. Semoga kalian tidak kecewa dengan eksekusi hasil akhirnya.


Terima kasih banyak yang terus setia beri dukungan pada Novel ini, pop up nya ngesot banget, gak ada perubahan dari awal kemunculannya. Bikin lemes bestieeee~


Tapi bersyukur sih\, semoga kalian bisa petik hikmah dari semua cerita yang othor sampaikan di masing-masing karya. Saranghaeyo semuanya... Semoga Tuhan membalas semua kebaikan semua reader yang masih setia dukung cerita receh ini. |


────── Back to story...


Kediaman Condo Luxury.


BRAAAAAAAK!!!


"HARVEY SMITH!!!"


Fay sudah kembali ke kediamannya, dia membuka pintu dengan emosi yang meluap dan membantingnya secara kasar.


"Nyonya Muda, Tuan sedang berada di ruang baca, apa ada yang anda inginkan Nyonya?" Salah satu pelayan menghampiri Fay segera, dia tidak ingin tuannya yang tengah sibuk bekerja menjadi sama emosinya dan menimbulkan pertikaian.


"Kamu sudah pulang Cutie?" sapa Harv lembut. Dia langsung keluar dari ruangan dan menghampiri istrinya yang baru datang dari luar sudah membuat keributan.


Fay terpaku sejenak, matanya menatap nanar kearah suaminya. Dia terpukul, Harv menyembunyikan semua kenyataan yang sedang terjadi di luar. Bahkan dengan hubungan mereka saat ini.


"Dimana kamu menaruh Devan?" Dengan lirih dan tatapan sayu Fay berujar pada suaminya.


"Heh!" Harv terkekeh lirih menunduka wajahnya. "Jadi kamu membuat keributan, memaki namaku untuk menanyakan kabar selingkuhanmu Honey?" Harv mendongak menatap tajam istrinya.


DEG!


Rasanya bagai di tampar dalam bentuk ilusi namun dampaknya begitu terasa di diri Fay. "Lepaskan dia, semua ini salahku..."


"Kamu membelanya?" Sorot mata Harv semakin tajam dan nyalang seolah tengah menguliti Fay hidup-hidup sekarang.


"Aku tidak sedang membelanya Harv, ini semua salahku. Dia tidak tahu tentang hubungan kita, aku menipunya..." Satu per satu air mata Fay mulai berjatuhan. Dadanya sungguh sesang, penyesalan itu selalu datang terlambat bukan?


Dahulu Fay berharap perselingkuhannya terbongkar dan suaminya akan menceraikannya langsung. Namun, saat ini ada benih di dalam rahimnya. Dia sungguh menyesal atas perbuatannya menduakan Harv.


Sekuat tenaga Harv menahan emosinya, dia bergegas pergi meninggalkan Fay menuju kembali ke ruangannya.

__ADS_1


"Harv!" pekik Fay segera menahan langkah kaki suaminya.


Brak!


Pintu tertutup dengan sendirinya, Fay sempat berhenti sejenak. Ada gemuruh yang kuat dalam benaknya, sebelum dia membuka pintu ruangan dia menyemangati dirinya sendiri. 'Hal yang sudah terjadi maka harus aku hadapi sekarang, bau bangkai ini memang tidak akan selamanya bisa aku tutupi.'


Ceklek...


Perlahan Fay membuka ruang kerja suaminya selama dia berada di Condo. Ada rasa sesak dalam dada Fay, hanya ada dua kemungkinan hasil yang dia akan dapatkan dari kebodohan masa lalunya. Hubungan dia dan Harv kandas, begitu pula dengan hubungan dia dengan Devan. Tapi itu adalah solusi terbaik, Fay tidak ingin berhubungan dengan siapapun lagi saat ini. Dia sudah memiliki calon penerusnya yang akan menemaninya di kehidupan barunya kelak.


"Rekaman itu begitu nyata Fay!" tukas Harv memulai perbincangan mereka, hatinya begitu nyeri saat kembali ingat apa yang sudah ia lihat dalam rekaman tersebut.


Harv membelakangi posisi kedatangan istrinya, pria itu tengah mengalihkan emosi yang tengah memuncak dengan menyesap winenya serta menatap pemandangan di luar mansion mereka.


Fay tertunduk lemas, air matanya kembali terjatuh. Dia tidak tahu siapa yang berani menyebar-luaskan aib dirinya. Dia tidak berpikir bahwa ini rancangan suaminya, mengapa baru kali ini dia menjadi pusat perhatian dan seluruh harinya mendadak terasa begitu berat.


"Kamu adalah satu-satunya orang yang dengan berani menyakitiku seperti ini." timpal Harv berbalik badan menatap istrinya tajam. "Apa kamu tidak tahu bagaimana aku memperlakukanmu selama ini, hah?"


"Aku sudah katakan berkali-kali, apa yang aku lakukan di luar jangan harap bisa kamu lakukan juga Faye!" Harv kembali melempar sorotan mata tajam seolah ingin menguliti habis istrinya. "Selama ini aku tidak pernah menyentuh wanita lain, aku begitu menjaga statusmu sebagai istri sahku!"


"Lalu apa yang kamu berikan untukku Fay?" Perlahan Harv menghampiri dimana istrinya berada. "Pengkhianatanmu sungguh di luar kendali dan nalarku... Kamu jauh lebih berani dari yang aku kira." Harv terus menekan setiap katanya, pandangan dan gerakan tubuhnya seolah akan menerkam istrinya.


"Maafkan aku Harv... Kamu bisa melepaskanku sekarang!" Fay beringsut dengan berujar lirih.


"Melepaskanmu? Inikah tujuanmu melakukan pengkhianatan dengan bosmu, hah?" Harv mengunci tubuh Fay, dia mencengkram kuat kedua bahu istrinya.


"Aarhh..." Fay merintih merasakan sakit di bahunya.


Fay meringis dengan apa yang di lakukan suaminya saat ini, selain fisik ikut nyeri hatinya jauh lebih pedih mendengar hinaan suaminya mengatakan dia haus sentuhan saat ini. "Aku seperti ini karena kamu Harv! Apa kamu tidak menyadarinya?"


"Istri adalah cerminan suami bukan? Kamu selalu berganti pasangan, membawa mereka makan, jalan bersama, bahkan keluar masuk hotel untuk apa, hah?" Fay tak kalah mencibir suaminya saat ini.


"Aku sudah katakan aku tidak pernah menyentuh mereka!" hardik Harv.


"Aku mana tahu!!" pekik Fay keras, tubuhnya bergetar hebat. "Aku hanya tahu, suamiku akan selalu menjadi bahan gosip diluaran mencari wanita untuk memuaskannya."


Bruk!


Harv memeluk erat istrinya, jeritan dan tangis pilu Fay membuat hatinya jauh lebih nyeri di banding melihat video pengkhianatannya.


"Semua ini hanya salah paham saja, aku memaafkanmu Fay," lirih Harv berujar di belakang tubuh Fay yang masih bergetar hebat.


Fay berusaha menghentikan tangisnya, dia ingin memastikan apa yang ia dengar barusan. Dengan sekuat tenaga Fay mendorong tubuh Harv. "Apa kamu bilang?"


"Aku memaafkanmu... Aku sudah katakan, kamu hanya boleh jadi milikku seorang Faye." tukas Harv dingin menatap istrinya.


"Apa kamu bodoh Tuan Harvey?" ejek Fay menatap tidak percaya pada suaminya. "Kamu sangat mampu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Kamu tidak perlu mempertahankan wanita yang sudah tidak memiliki nilai di matamu, di mata publik, terlebih di mata keluarga besarmu."


PLAAAK!

__ADS_1


"FAYE YVONNA!!"


Harv menampar keras pipi wanita yang di cintainya, tubuhnya terpaku sejenak atas refleks yang tidak bisa ia kendalikan itu. Fay sendiri terbelalak, dia menyentuh pipinya yang terasa panas saat ini.


"Harv, hubungan kita tidak akan berhasil." lirih Fay kembali berderai air mata.


"Sayang... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud..." Harv tersadar dan mendekat berharap bisa menyembuhkan pipi Fay yang kini memerah sangat jelas di pandangannya.


"Heh..." Fay justru terkekeh, dia semakin yakin untuk berpisah dengan suaminya, dan masalah ini bisa jadi merupakan jalan keluar yang disiapkan Tuhan untuk membantunya. "Apa kamu percaya bayi dalam kandunganku ini adalah milikmu?"


DEG!


Harv terpaku, dia menelan salivanya. Pria itu memang sedikit merasakan perasaan khawatir pasal benih siapa yang ada dalam tubuh istrinya.


Melihat respon suaminya Fay sangat yakin Harv tidak percaya bahwa bayi di dalam perutnya memang miliknya.


"Haha... Bagaimana jika aku mengatakan bahwa ini bukan bayimu Honey?" tutur Fay menabuh genderang perang dengan suaminya. "Apa kamu tidak mencurigai satu hal hm?" timpal Fay semakin menjadi.


"Sudah dua tahun kita bercinta tapi aku tidak juga kunjung hamil, lantas mengapa saat aku bercinta dengan Devan minggu lalu aku dinyatakan HAMIL!!" Fay berujar lirih di depan wajah suaminya.


"Kau sangat berani Faye!"


PLAAAAK!


Dua kali mendapatkan pukulan di wajahnya membuat Fay justru terbahak bukannya menangis. Harv kembali tersadar, Fay beringsut mundur menjauh dari jangkauan Harvey.


"Sayaang... Maafkan aku, patuhlah maka aku tidak akan pernah berbuat kasar padamu."


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku Harv, tindakanmu sudah benar... Sepatutnya kamu membunuhku, bukan?" Fay sudah tidak ingin menangis, ini salahnya dia sedang membayar karma yang dia tuai sebelumnya.


"Harvey, ceraikan aku sekarang juga!"


DEEEG!!!


Jantung Harv seperti tengah di cengkram kencang oleh jemari tangan Fay saat ini, dia bahkan lupa bagaimana caranya bernafas. Untuk pertama kalinya dia selalu di buat kecewa oleh orang yang sangat dia cintai di dunia ini.


"Hah, kamu meminta cerai dariku agar bisa bersama dengan Devan?" Raut wajah Harv kembali di penuhi aura hitamnya.


"Tidak," Fay segera menyahut pikiran negatif Harv padanya. "Aku tidak ingin bersama siapapun, adanya bayiku seorang sudah cukup untukku!" timpalnya sendu.


"Cukup Faye!" Harv menarik satu tangan istrinya mendekap erat Fay. "Aku tidak peduli, kamu mau selingkuh, atau anak itu bukan milikku sekalipun aku tidak peduli!" bisik Harv tak kalah pilu.


"Aku hanya menginginkan kamu!"


"Aku tidak pantas, aku kotor dan tidak layak. Apa kamu bodoh?"


"Cukup kataku Fay!" hardik Harv cepat. "Layak tidaknya, pantas tidaknya... Hanya boleh aku yang memutuskan."


Fay lupa siapa Harvey Smith, apa boleh buat hidupnya sudah tertawan suaminya. Dia tidak tahu harus beruntung atau justru merasa kasihan pada diri sendiri yang kini bagai burung kenari. Hanya bisa hidup dalam sebuah sangkar tuannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2