
"Hal penting apa yang membuat kamu berani mengganggu waktuku sekarang?!" berang Harv pada asistennya. Will hanya bisa menghembuskan nafas perlahan dengan kelakuan tuannya yang mulai menunjukkan tingkah kebucinan.
"Maafkan saya Tuan, tapi saya sudah bersama mereka di kantor." terang Will menjelaskan pekerjaan sebelumnya yang Harv tugaskan padanya.
Harv terkekeh menundukkan wajah, hal sepenting itu saja dia lupa jika sudah berhadapan dengan istrinya.
"Sepuluh menit lagi aku akan berada disana, seperti biasa siapkan apa yang berguna untuk aku pakai!"
"Baik Tuan..."
Harv memutuskan panggilan dan kembali menuju tempat dimana istrinya berada. Terlihat Fay tengah memakan sarapan paginya, Harv tersenyum bergegas mendekat dan merangkulkan kedua tangan di tubuh istrinya.
"I love you Cutie, makan yang banyak agar kamu bertenaga saat aku gagahi nanti," bisik Harv mesum.
"Aaarrghh cabuuul!" pekik Fay mendorong tubuh suaminya. Harv terkekeh dengan respon istrinya yang malu-malu tapi mau itu.
"Cutie, tiba-tiba aku mendapatkan pekerjaan mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan." terang Harv menangkup wajah istrinya.
"Owh, pergilah..." sahut Fay masih terdengar lemah. "Berkerja keraslah, aku tidak mau kehilangan sebagian harta kekayaanku." canda Fay sudah kembali seperti sebelumnya.
Harv terkekeh dan segera memagut bibir menggoda istrinya. Keduanya bertautan mesra cukup lama sampai keduanya kehabisan pasokan oksigen mereka barulah Harv melepaskan tubuh Fay.
"Baik-baik di rumah okay? Jangan pergi tanpa pamit padaku..." pesan Harv masih terus mengkhawatirkan keselamatan istrinya yang kini mulai terekspos sedikit demi sedikit.
"Anda tenang saja Tuan, aku kan bisa menjaga diriku selama ini. Semalam aku tengah apes saja." cicit Fay beralasan agar Harv tenang.
"Tetap saja, kamu kan masih belum pulih betul sayang. Istirahatlah, aku tidak lama..." Harv segera pamit sebelum waktunya terbuang lebih lama lagi berurusan dengan kecoak yang mencoba menjadi hama di kehidupannya.
Fay tersenyum manis membuat perasaan nyaman menjalar di hati Harv saat ini. Harv mencium kening Fay mesra, untuk pertama kalinya Fay merasakan Harv semanis ini sekarang. Fay sempat berpikir seenak jidatnya dengan mengandaikan sedari dulu dia terlibat kecelakaan mungkin Harv bisa menyatakan perasaannya lebih cepat sebelum Devan tiba-tiba hadir di kehidupan Fay saat ini.
'Aku harus meminta perpisahan pada Dev, tapi bagaimana caranya... Aku semakin tidak mungkin lepas dari genggaman Harv jika sudah seperti ini. Semua ini juga demi kebaikan Devan, jika Harv sampai tahu dia adalah kekasih gelapku mungkin saja Harv akan membunuhnya.' batin Fay sendu saat melihat punggung suaminya hilang seiring menutupnya pintu kamar mereka.
Tak berapa lama Fay mendapatkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak di kenalnya, namun saat membaca pesannya dia bisa mengetahui itu siapa.
- - -
__ADS_1
SG Company, 10.00 AM
Harvey sudah berada di kantor pusat miliknya, seluruh orang menunduk menyambut kedatangannya. Dengan langkah panjang dan tergesa Harv segera menuju ruangan pribadi atau ruang presidir. Tak lama kemudian Will datang membawa seseorang.
"Selamat pagi Tuan Smith!" sapa seorang pria paruh baya menundukan tubuhnya di depan Harv yang tengah memainkan cerutu besarnya.
"Katakan apa mau mu?!" tukas Harv ketus tak ingin berlama-lama.
Dengan wajah dingin dan angkuh seperti biasa, Will mendekat menyalakan api untuk tuannya. Si pria sempat terpaku melihat bagaimana Harv dilayani bak seorang raja oleh anak buahnya. Siapa yang itdak tahu kisah Harvey Smith di kalangan masyarakat luar?
'Jika bukan karena ingin mendapatkan keuntungan ganda, aku tidak mau bertaruh nyawa menghampirimu!' batn si pria masih terpaku dengan kekuasaan Harv sampai saat ini, bahkan Tuan Alex sekalipun tidak bisa menandingi kekuasaan Si Raja Bisnis Negara XY.
"Ehm... Sebelumnya maaf saya lancang datang kemari." gugup si pria. "Perkenalkan nama saya Daniel, saya mewakili adik saya menuntut keadilan atas apa yang menimpa adik saya dalam kecelakaan naas tempo hari."
Daniel mulai membuka percakapan dengan berbicara panjang tanpa jeda. Dia juga terlihat seperti seorang korban, agar semakin meyakinkan tuan di depannya. Harv tersenyum culas ke arah si pria, dia menyesap dalam cerutunya dan membuang kepulan asap pekatnya melambung di atasnya.
"Lalu apa hubungannya denganku?" tutur Harv dingin seolah tidak peduli.
Hanya saja bagi Daniel, semua ini adalah bentuk kepedulian besar Harv pada wanita yang terlibat kecelakaan dengan adiknya tempo hari. Jika Si Raja Bisnis tidak menaruh rasa mungkin dia tidak akan mau memanggil atau pun berurusan dengannya.
"Begini saja Tuan Smith, bukannya apa... Adik ku memiliki keluarga kecilnya, aku hanya menuntut keadilan bagi keluarga mereka yang terkena musibah ini." Daniel terlihat begitu lihai dalam melakukan negosiasi. "Adik saya dinyatakan team medis dalam keadaan Koma dan tidak tahu sampai kapan. Seluruh biaya rumah sakit memang kuasa hukum Nona Fay sudah mengatakan menanggung sepenuhnya. Hanya saja, bagaimana dengan perekonomian keluarganya? Dia masih memiliki bayi kecil..." sambung Daniel terus menerus berbicara tanpa henti seolah ingin mencuci pikira Harv dan iba pada mereka, dengan demikian jalan medapatkan keuntungan besar terbuka lebar!
"Berapa?" Dari pernyataan panjang Daniel, Harv hanya bertanya ala kadarnya dengan respon seadanya.
"Li-Lima ra-tus..." Gugup Daniel menatap Harv ragu.
"Hanya segitu?" pancing Harv.
"J-Juta... Li-ma ra tus juta!" hardik Daniel cepat.
"Heh! Aku pikir berapa... Uang segitu hanya di gunakan Fay untuk mempercantik dirinya di hadapanku!" cibir Harv dengan kekehan mengejeknya.
"Do-llar..." Daniel kembali berucap menyelesaikan penawarannya.
"Li-Li-Lima ratus juta dollar!" gugup Daniel kembali mengatakan dengan jelas penawaran mereka.
__ADS_1
'Cih, orang tidak tahu diri ini...' umpat Will menatap tajam ke arah Daniel yang masih berdiri sedikit menunduk memegang tengkuk kepalanya di hadapan Harv.
"A-Anda jangan salah pahaam... Semua tentu saja ada perhitungan jelasnya... Saya hanya sekedar menyampaikan... Uang itu akan di gunakan utuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga biasa putri kecilnya sampai kelak dia berkuliah." Terang Daniel semakin menjadi membuat semuanya seolah benar adanya.
"Tentu saja tidak masalah," sahut Harv santai.
"Be-Benaar kah?" tanya Daniel dengan wajah takjubnya. 'Wah, aku menemukan tambang emasku... Dengan menggunakan wanitanya aku akan menjadi semakin kaya!' batin Daniel mulai merasa tamak.
"Absolutely──"
DOOORRR!
"Aaarrkk!"
Bruuk!
"NO!"
Tubuh Daniel merosot dilantai segera setelah timah panas bersarang tepat di jantungnya. Harv menembakan peluru dari senjata Revolver yang sudah di persiapkan Will sebelumnya di laci meja kerjanya. Harv bangkit mendekati tubuh Daniel yang sudah di pastikan tewar di tempat.
"Heh, kamu manusia tamak pantasnya segera masuk Neraka." Harv menarik rambut lebat Daniel memperlihatkan wajah kakunya dengan mata yang seolah akan keluar dari sarangnya.
"Menggunakan Faye untuk memeras dan mengancamku? Sungguh kamu bermain-main dengan batas kesabaranku..." Harv menghempasa kepala Daniel dengan kasar.
Will sudah berdiri di sampingnya mempersiapkan wadah kecil berisi air dan sapu tangan untuk membersihkan tangan tuannya dari hama kotor barusan.
"Buang mayatnya, lakukan dengan bersih." titah Harv pada Will seperti biasa. "Kamu selidiki siapa orang di baliknya? Aku yakin dia tidak akan berani seperti ini padaku jika tidak memiliki dukungan yang kuat!" sambung Harv kembali mengingatkan tugas asisten kepercayaannya.
Harv bergegas keluar ruangan setelah membuang sapu tangan kotornya, Will menundukkan tubuhnya mengerti akan perintah dari tuannya. Will berjongkok melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan tuannya.
"Ck, aku acungi seribu jempol untukmu..." tutur Will mencibir. "Tuan Muda adalah orang yang paling benci dengan manusia serakah sepertimu. Apalagi dengan berani kamu mengancam menggunakan Nona Muda sungguh tidak tahu di untung!"
Will sudah sangat memahami sifat tuan mudanya, bagi Harvey Smith harga nyawa seseorang tidak lah begitu memiliki Value dimatanya. Hanya saja, setelah berstatuskan menjadi suami dari seorang Faye Yvonna Luke bagi tuan muda Smith hanya ada satu nyawa yang harus dia lindungi seumur hidupnya.
To be continued...
__ADS_1