Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 25 - Miss You!


__ADS_3

Fay segera melarikan diri setelah tatapan orang padanya yang seolah akan menguliti hidup-hidup. Dengan mengatur kembali kinerja jantung dan pernafasannya Fay sudah berada di dalam ruangan project.


"Aku benar-benar telat... Huhu" rutuk Fay saat melakukan finger print saat ini.


"FAYE YVONNA kemari!" pekik Devan terdengar begitu emosi.


"Aarrghhh shiiiit!" umpat Fay lelah rasanya.


Baru saja dia terbebas dari beruang, kini dia akan di tawan singa lapar.


Fay segera memasuki ruangan yang pintunya tak biasanya sudah terbuka lebar saat dia memasuki ruangan.


"Tutup!" titah Devan dingin.


Perasaan Fay sungguh tidak karuan, baru saja dia merasa udara sudah normal. Dia kembali di hadapkan dengan masalah lainnya.


"Maaf Pak, hari ini saya terlambat..." tutur Fay mendekat dan menundukan tubuhnya mengakui kesalahan.


Devan menyelidik tampilan kekasihnya dengan raut wajah kesalnya. Semalaman dia di buat khawatir setengah mati, kekasihnya tidak ada kabar begitu saja. Dia begitu takut sesuatu yang buruk terjadi pada Fay. Devan bahkan berani mengunjungi penthouse Faye sialnya lampu mati membuat ia berkesimpulan Fay tidak disana.


"Kau tahu, betapa aku mengkhawatirkan mu hm?!" cerca Devan bangkit seketika mendekati ke tempat Fay berdiri saat ini dengan tatapan memburunya.


"Oh... Aku bisa jelasin Honey... Semalam aku di hubungi pacarku! Dia tiba-tiba pulang..." ucap Fay jujur. Dia sudah tidak sanggup lagi bermain-main rasanya.


Hati Devan seolah diremas kencang oleh perkataan kekasihnya. Dia memang tak lebih dari pelarian saat Fay kesepian saja. Ingin rasanya meluapkan emosinya saat ini juga, sialnya rasa sayangnya melebihi rasa sakit yang ia terima saat ini.


"Aku sungguh iri padanya yang selalu menjadi prioritasmu!" cerca Devan menarik tubuh Fay ke dalam dekapannya.


Bruuk!


"Aarrghh!!" jerit Fay terkejut.


"Padahal logikanya aku yang selalu menemanimu sepanjang hari. Dalam sebulan dia hanya datang beberapa kali! Sedangkan aku?!" protes Devan terdengar perhitungan.


"Dev!!" pekik Fay mendorong tubuh atasannya yang sudah melakukan serangan sensualitas pada tubuhnya.


"Dev hentikan!! Ini sudah siang dan orang akan curiga pada kita..." hardik Fay berharap Devan melepaskannya.


"Aku juga sangat iri, sepertinya dia bisa mendapatkan semuanya dari dirimu!" Tanpa persetujuan Fay Devan mengunci kedua tangan Fay dan membuka kancing-kancing kemeja kekasihnya.


"Deeev aku mohooon jangaaan!!" pinta Fay memekik namun tidak sampai menjerit keluar agar tidak membuat orang curiga.


Devan menatap bagian sensitif kekasihnya yang penuh oleh tanda kepemilikan yang di sematkan oleh pria lain. Hatinya teramat nyeri, dia berbagi wanita dengan pria lainnya.


"Apa dia sudah memilikimu seutuhnya sayang?!" tanya Devan berbisik di leher Fay dan menghisapnya lekat. Dia begitu patah hati saat ini.


"Aaarrghh Deeev!!" pekik Fay merasakan panas menjalar di seluruh tubuhnya.


"Dia bisa memilikimu seutuhnya lantas mengapa aku tidak?! Bukankah seharusnya aku jauh lebih bisa mendapatkanmu hah?!" berang Devan mencengkram leher Fay sejenak dan kembali di lepaskan perlahan mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Dev..." Fay sudah tidak tahan dia meneteskan air matanya.


"Saat aku terlepas darinya, semua ini akan jadi milikmu..." tutur Fay membuat senyum Devan mengembang.


"Kapan sayang? Kapan statusku berubah?!" rengek Devan kembali mere mas squishy hidupnya.


"Aarrghh... Sabar sayaaang..." rintih Fay menahan hasratnya yang terus di pancing oleh Devan.


"Bagaimana jika kita melakukan penyatuan lebih dulu hmm?!" Devan kembali semakin liar membuka kancing celana dasar Fay.


"No Dev... Pleaseee..."


Tak lama suara lenguhan Fay terdengar meskipun lirih di telinga Devan namun mampu membangkitkan gairahnya. Setelah selesai dengan memainkan inti milik kekasihnya, giliran dirinya di puaskan Fay dengan blow j ob yang selalu membuatnya mengeluarkan pelepasan kenik matannya.


"Aaah Sayang, aku bertaruh aku akan mendapatkannya sebentar lagi bukan." Devan membantu membersihkan cai ran miliknya yang tumpah di sebagian celana dasar Fay.


Beruntung Fay menggunakan warna gelap sehingga tidak begitu menjadi perhatian. Fay keluar ruangan dengan perasaan lelahnya.


"Buseeet, gue beneran acungi seribu jempol ama elu!" cibir Vanesh segera setelah melihat temannya duduk di meja kerjanya. "Udah datang telat, langsung maen ampe 10 menit di dalam!" rutuk Vanesh gemas.


"Iri bilang bosquueee~" sahut Fay menggoda sahabatnya. "Lagian makin menantang suatu hubungan semakin seru!" cicit Fay menggoda dengan dark jokesnya.


"Bangsat!" maki Vanesh geram.


"Lu semalam kemana?! Devan sampe uring-uringan gak jelas! Gue juga gak bisa hubungin elu!!" cerca Vanesh kini mendekat dan bersiap melakukan perghibahan.


"Harv semalam menyusulku kesana!" tukas Fay berat.


"Aku heran loh, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan tadi pagi dia ribut di bawah pas Hailey usilin gue!" rutuk Fay menatap nanar ponselnya.


"Oh itu... Baru mau nanya bener enggaknya. Ternyata bener, tuan Smith kemari barusan?!!" sahut Vanesh menggebu.


"Dia begitu menempel beberapa hari kebelakang!" umpat Fay kesal.


"Hahaha, kamu sungguh bodoh Faye!! Tentu saja itu karena bisa jadi dia jatuh cinta sama kamu!!" gerutu Vanesh membuat jantung Fay kembali berdetak kencang.


Rasanya Faye butuh memeriksa jantungnya pada dokter spesialis saat ini.


"Mana mungkin..." hardik Fay cepat dengan lirih membuang wajahnya.


"Terus aja gitu Fay, tidak mau mengakui perasaan masing-masing!! Jangan sampe nyesel loh... Dah ah kerja lagi!" sungut Vanesh kesal dan kembali kemeja kerjanya.


Fay menelan salivanya berat, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada suaminya.


[ Sayang, terima kasih tadi pagi... Aku hanya bingung kenapa kamu melakukan semuanya?! ]


Fay sungguh berdebar menantikan jawabannya. Apa benar seperti yang Vanesha katakan pria dingin itu jatuh cinta padanya.


Tring!

__ADS_1


[ It's doesn't matters Cutie... Sebagai suami tentu aku memberlakukan protokol melindungi istriku! ]


DEG!


Bergetar sudah tubuh Fay saat membacanya. Hanya saja bukan Fay namanya jika tidak keras kepala yang lebih senang membohongi hatinya. Baginya logikanya Harv tidak mungkin jatuh cinta padanya.


[ Apa benar ini suamiku Harvey Smith?! Apa kepala anda terbentur? Atau anda tengah mabuk walau ini masih terlalu pagi? ]


Fay kembali mengirimkan pesannya dengan hati yang tidak karuan.


Tring!


Fay melengkungkan senyuman saat dia tak perlu lama menunggu balasan pesannya.


[ Aku memang Harvey Smith suami hebat Faye Yvonna. Bisa jadi aku memang mabuk pagi ini. ]


Kening Fay mengerut, dia benar tidak habis pikir bahwa CEO sehebat Harv bisa mabuk-mabukan di pagi hari yang cerah ini.


[ Aku tidak paham dengan kebiasaan pria kaya! Bisa-bisanya mabuk jam segini! ]


Fay meletakkan ponsel di samping laptop miliknya. Dia mulai memilah pekerjaan yang akan dia garap saat ini juga.


Tring!


Dengan cepat Fay mengambil ponsel dan seketika dia menjatuhkannya.


Bruuk!!


"Oy, kenapa lu?!" pekik Vanesh terkejut dengan tingkah sahabatnya.


"Ah.. Ehmm ini aku lupa deadline pekerjaanku..." bual Fay melengkungkan senyum culasnya.


Fay kembali mengambil ponselnya yang jatuh, beruntungnya ponsel bobanya tahan banting saat ini. Dia kembali membaca pesan yang di kirimkan suaminya. Fay tengah berkaca menutup mulutnya. Dia begitu sulit untuk percaya bahwa ini kenyataan.


[ Ya, aku mabuk pada pesona istriku... Miss you Cutie.. ]


Fay segera membalas pesannya dengan perasaan yang berbunga-bunga, dia seperti tengah merasakan jutaan kupu-kupu terbang dari perutnya.


[ Mulutmu sangat manis Tuan Smith, apa aku harus percaya?! ]


Tidak ada balasan hanya saja Harv langsung menghubungi istrinya.


"Halo..." sapa Fay segera.


"Tanganku terlalu lelah untuk mengetik sebuah pesan." sahut Harv kesal.


Fay memutar bola matanya kesal dengan penuturan suaminya.


"Cutie, aku sungguh merindukanmu... Ingat siang ini aku jemput makan siang bersama ya Sayang..."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2