Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin

Hasrat Terlarang Istri Tuan Dingin
Bab 85 : Grow Up!


__ADS_3

Fay menjerit kencang saat seorang pria dengan pakaian serba hitam dan menggunakan penutup kepala tersungkur di bawah kakinya. Fay bersiap berlari menjauh dari bahaya yang mengancamnya.


"Hei!" pekik seorang pria yang baru saja menolongnya. "Apa kamu tidak ingin berterima kasih padaku yang menyelamatkanmu dari mereka?" Pria yang dikenali Fay menarik paksa dan menghentikan langkah Faye.


"Aku berterima kasih, sekarang anda boleh melepaskan saya sekarang!" ucap Fay segera dengan denyut jantung yang tidak karuan.


Alex menaikan sudut bibirnya. "Aku baru pertama kali ini melihat wanita yang ditolong olehku. Tapi, dia tidak memekik terharu..."


Fay menelan salivanya, dia mengetahui siapa Alex sebenarnya. Harv pernah bercerita dan memperingatinya untuk menjaga jarak dengan rival abadi suaminya.


"Here I'm, jadi jangan samakan aku dengan wanita lain Tuan Alex." Dengan cepat dan kasar Fay mengibas tangannya agar terlepas dari cengkraman Alex.


"Hehe..." Alex terkekeh, wajah tampanya sekilas membuat Fay terpana.


'Oh my goodness!' jerit Fay dalam benaknya.


Menyadari sikap Fay yang mengamatinya, senyum Alex semakin mengembang Fay hampir saja mimisan.


"Hahaha, kamu sangat menggemaskan Faye. Tak heran jika Harvey menyembunyikanmu dari publik!" Alex mendekati Fay, wanita itu segera tersadar dan beringsut mundur.


"Kamu mau apa? Anak buah Harv sudah tersebar dan─"


Alex kembali terkekeh. "Tenang saja Baby, aku pastikan mereka tidak akan mengetahui keberadaanku!"


Sejenak aku pun terpana...


Melihat dia di depanku...


Dia menjerat hatiku...


Menatapku tajam...


'Sumpah demi apapun, mengapa sekilas wajah dia dan Harv serupaaa! Apa mungkin aku akan mendapatkan jackpot? Oh Fayeee... Kamu ja laaang!' Fay merasakan getaran aneh di dadanya.


Harv dan Alex memang dua orang yang paling di idolakan seluruh kaum hawa di seantero kampus saat keduanya masih bersahabat dekat. Selain good looking, keduanya good rekening!


Kruuuk~


Fay terbelalak, rasanya harga dirinya baru saja jatuh di hadapannya!


Alex terkekeh senang, baru pertama kali ini dia dihadapkan dengan lawan jenis yang sedikit langka. "Bagaimana jika aku mengajakmu makan siang?"


"Oh, aku sungguh memalukan!" lirih Fay dengan wajah masam semakin membuat Alex terbahak, wajah tampannya benar-benar menyihir Fay.


Pada akhirnya Fay luluh, dia sendiri memang sudah merasa lapar. Selain sudah memasuki jam makan siang, bayinya memang selalu merasa lapar di setiap jamnya. Alex membawa Fay menuju salah satu restoran terkenal di dalam kota. Terlebih resto itu adalah miliknya. Tanpa rasa was-was Fay mengekor begitu saja, entah mengapa Fay merasa yakin Alex tidak begitu jahat dan tidak akan mungkin berani melukainya.


Keduanya telah berada di restoran, dengan ramah Alex memperlakukan Fay bak wanitanya. Fay menjadi salah tingkah, terkadang wanita terlalu lemah pada sosok pria yang menjadi tipe ideal mereka. Alex mendorong salah satu kursi, mempersilahkan Fay untuk duduk terlebih dahulu.


"Thank's" ujar Fay tersenyum menatap wajah rupawan rekan makan siangnya.


"With pleasure..." Tatapan mata Alex tidak sekalipun terlepas dari kecantikan di hadapannya. 'Mengapa Harv selalu saja mendapatkan yang terbaik?! Aku tidak percaya jika Fay tidak akan tergoda denganku... Dulu Angella saja sempat mau berkencan denganku!'


"Apa kamu sudah bisa memesan menu makan siang kita?" tanya Alex memandang Fay yang sibuk membuka buku menu.

__ADS_1


"Kita?" Fay mendongak dengan raut wajah kebingungannya.


"Hehe, sorry... Aku seperti di beri keajaiban untuk merasakan kencan buta!" Alex blak-blakan mengatakan makan siang mereka sebagai kencan buta.


Mulut Fay terbuka sedikit, dia tidak percaya ternyata sifat kedua pria hebat di negaranya sedikit bertolak belakang. Pertama kali mengenal Harv, Fay merasa bahwa suaminya tidak bisa bicara. Selain menjawab seperlunya, suami di atas kertasnya lebih sering berdehem sebagai jawaban dari semua pertanyaan atau perkataan lawan bicaranya.


"Haha, aku sungguh was-was satu meja dengan buaya!" canda Fay membuat Alex kembali terkekeh segera mengangkat tangan menyuruh pelayan menghampirinya.


"Bagaimana jika aku yang merekomendasikan masakan spesial dan terbaik disini?" Alex menatap lekat kedua manik bening Fay yang sudah membuatnya seolah jatuh cinta pada pandangan pertamanya.


Fay terlihat bimbang, Alex mengerti, wanita di hadapannya mungkin tengah waspada padanya. "Aku tahu kamu sedang hamil, lagi pula tidak ada untungnya aku meracunimu."


Fay sempat tersentak. "Dari mana kamu tahu aku hamil?"


Alex mengulas senyum culasnya. "Apa perlu aku katakan dari mana?"


"Yeah..." Fay menunduk, dia lupa skandalnya sudah tersebar dan menjadi bahan gunjingan satu negara.


Alex menggeleng, dia lekas memesan makanan pada pramusaji yang sudah siap di sampingnya. Tidak lama kemudian seluruh makanan yang di pesan telah tersaji di meja mereka. Fay menatap takjub, air liurnya seolah ingin menetes saat ini juga.


"Pelan-pelan saja Fay, tidak ada yang berebut denganmu." Alex mengambil makanan perlahan di atas mangkuk Faye.


Faye terkesima, Harv sendiri tidak pernah melakukan hal romantis ini padanya. 'Oh, aku tahu mengapa aku selalu terjebak dengan rangkaian perselingkuhan yang sesat ini!'


Fay menundukan pandangannya setelah mengucap kata terima kasihnya. Dia menyuap perlahan makanan dengan perasaan campur aduk.


"Kamu kenapa? Apa makanannya tidak enak atau?" Alex menyadari perubahan sikap Fay yang menjadi murung.


Harv memang memanjakan Fay saat ini, tidak bisa di pungkiri lagi, Harv sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Hanya saja, mengapa Fay selalu dengan berani membandingkan perlakuannya dengan pria lain yang jauh lebih baik mengerti menyenangkan seorang perempuan.


"Hahaha!"


"Bagaimana jika kamu menyuapiku, mungkin aku akan jauh lebih bersemangat lagi!" goda Alex.


"Heh," Fay terkekeh. "Dalam mimpimu!"


Alex tersenyum dan membuang wajahnya, dia merasa kenyamanan menjalar di hatinya. "Aku benci aku menyukaimu..."


Fay melambatkan kunyahan makanan di dalam mulutnya. "Why?"


"Apa kamu tidak senang? Banyak pria yang mengejarmu... Harvey, Devan, dan sekarang aku?"


Fay terkekeh dan menaruh peralatan makannya, dia bersandar di kursi setelah sebelumnya mengusap mulutnya perlahan dengan serbet. "Sayangnya, menjadi perebutan para pria hebat bukan sebuah prestasi untukku!"


"Aku ingin bertanya padamu..." Fay menatap lekat Alex.


"Sure..."


"Kamu kan yang membuat Harv sibuk sekarang? Menjauhkannya dariku dan mencoba mendekatiku?!"


"Hahaha..."


"Ternyata kamu jauh lebih pintar dari yang aku duga."

__ADS_1


Alex menggoyang gelas wine miliknya dan menyesap perlahan dengan terus menatap kecantikan wanita di hadapannya. 'Tunggu, sepertinya aku melihat seseorang di dalam wajah Fay!'


Baru kali ini Alex memperhatikan lekat wajah Fay, dia seperti mengenali bentuk wajah dan matanya.


"Dengar Tuan Alex, aku sudah memiliki suami. Bahkan, aku sedang mengandung putranya!" ucap Fay segera membuyarkan pandangan Alex. "Jika kamu berpikir bisa menggunakanku untuk menyerang Harv, kamu salah besar!"


Alex menaruh kembali gelasnya dan menatap tajam Fay. Wanita itu mulai menyinggung hal yang paling dibenci Alex. Semua hal berkenaan Harv akan membuat Alex mual rasanya.


"Atas dasar apa dia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan? Bahkan yang terbaik selalu saja mengelilinginya."


Alex mengepalkan tangannya erat, dia butuh pelampiasan melepaskan emosinya saat ini. Fay memperhatikan lekat Alex. "Maaf aku ikut campur urusan kalian, tapi─"


"Apa yang kamu lakukan, semua akan sia-sia dan membuang tenaga, pikiran dan uang dengan percuma!"


"Heh, apa kamu sedang mengejekku?" Alex menampakan wujud asli di hadapan Fay sekarang.


"Untuk apa aku mengejekmu?"


Tanpa di ketahui oleh Alex, Fay sendiri sudah tahu bahwa semua hal yang terjadi padanya di mall pasti ada sangkut pautnya dengan rencana Alex untuk membawanya kemari. Dengan cepat Fay menginstruksikan anak buah Harv untuk memantau dari kejauhan.


"Apa kamu pernah menyadari? Apa yang kamu lihat mengenai Harv hanya bagian terbaiknya saja. Kamu tidak pernah melihat sisi gelap dan terburuknya, bukan?"


Alex terdiam, dia menatap tajam Fay dan mencerna kalimat yang dilontarkan istri sahabatnya.


"Kamu bilang, Harv selalu mendapatkan yang terbaik, bahkan kamu berpikir aku adalah bagian dari yang terbaik itu. Heh!" Fay terkekeh mengejek dirinya sendiri. "Kamu tidak tahu, bahwa sejujurnya aku adalah hal cacat yang dipertahankan Harv. Aku bukan bagian terbaik yang membuatnya bersinar, aku justru membuatnya terpuruk ke dasar!"


"Dengar Tuan Alex, sejauh aku mengenal suamiku selama dua tahun ini. Harv adalah orang yang pandai menyembunyikan kelemahannya. Dia memutar otaknya untuk memanipulasi siapapun, dengan kemampuan personal brandingnya, dia dipuja bak dewa yang tidak pernah berbuat salah."


"Dia tidak punya waktu untuk memperdulikan musuhnya, yang dia lakukan berusaha keras mengembangkan diri dan perusahaannya. Berbanding terbalik dengan anda, anda terlalu sibuk melihat keberhasilan orang lain sampai melupakan potensi diri sendiri."


"Aku beritahu padamu satu rahasia kecil." Fay tersenyum tipis, sedari tadi Alex tidak bergeming dari tempatnya. Pria itu tidak mengerti, Fay mampu membuatnya diam tanpa ingin menyela atau membela diri seperti biasanya.


"Harv tidak pernah membencimu, dia masih menganggapmu sebagai teman seperti sebelumnya. Dia pernah berkata, kamu adalah orang baik yang tersesat. Akan ada waktunya seseorang membawamu kembali ke jalan kebenaran." Fay tersenyum lebar, perlahan dia bangkit dan bersiap undur diri.


"Tunggu!" Alex bangkit dan kembali menahan keberadaan Fay. "Bagaimana bisa dia─" Alex begitu bingung mengatakan apa yang ada di dalam benaknya.


"Menceritakannya padaku?" Fay menatap Alex meyakinkan.


"Ya..." ucap Alex lirih.


"Pertemuan bisnis kita sebelumnya, kecelakaan yang tiba-tiba terjadi, rumorku yang mencuat ke permukaan. Harv menceritakan segalanya... Tidak ada lagi penghalang di antara kami sekarang!"


Alex melonggarkan cengkraman tangannya, rasanya dia mendapatkan pukulan keras tepat di jantungnya.


"Dia sangat mampu menjatuhkanmu tanpa mengulur waktu! Tapi, apa kamu tahu mengapa sampai sekarang dia masih melepaskanmu?"


"Jika aku menjadi kamu, aku tidak akan pernah melepaskan sahabat baik seperti Harv hanya karena iri. Harv hanya lahir sekali dalam satu dimensi waktu!" Fay menggoda dengan tawa riangnya membuyarkan atmosfer kecanggungan sebelumnya.


Alex mengembangkan senyuman menatap lekat Fay. "Heh, wajar jika Harv benar-benar jatuh cinta padamu dan mempertahankamu mati-matian walau kamu sudah mengkhianatinya!"


Fay merubah kembali raut wajahnya. "Aku belajar banyak dari Harvey Smith, dia berkata, semua orang punya masa lalu, tapi ingat semua orang juga memiliki masa depan. Terkadang, seseorang membutuhkan berbuat salah untuk mengetahui kebenarannya. Bagian terpentingnya adalah bagaimana kamu membangun masa depanmu, itu tergantung jalan mana yang kamu pilih."


Alex terpaku di tempat, sedangkan Faye berjalan anggun meninggalkan Alex sendiri ditempatnya. Fay berharap lebih pada Alex yang bisa mencerna makna dari makan siangnya kali ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2